Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Tiara Soemakno, atau yang lebih dikenal lewat akun Instagram @ohheytiara, adalah ibu tiga anak: Zach (17), Ezra (12), dan Ben (7), yang namanya kian dikenal berkat konten seputar parenting, motherhood, kesehatan, dan keseruan hidupnya sebagai content creator. Sebagai Certified Intuitive Eating Counselor, IIN Health Coach, serta strength & conditioning coach, Tiara membagikan banyak insight praktis tentang bagaimana menjaga tubuh tetap sehat tanpa kehilangan keceriaan dalam menjalani hari-hari sebagai ibu.
Di balik kesibukannya, Tiara tampil sebagai sosok yang apa adanya: jujur, hangat, dan jauh dari kesan mencari image “ibu sempurna”. Lewat cerita dan pengalamannya, ia menjadi inspirasi bagi banyak Moms yang sedang mencari ritme di tengah hiruk-pikuk pengasuhan bahwa hidup sehat dan bahagia tetap mungkin dijalani, bahkan ketika rumah sedang riuh oleh tiga anak laki-laki yang aktif. Mau tahu lebih lengkap mengenai cool Mom yang satu ini? Simak wawancara eksklusif kami dengan Tiara Soemakno yang menjadi Mom of the Month Desember 2025berikut ini, Moms!
Apa saja kesibukan Anda saat ini?
Saya adalah seorang content creator, fitness trainer, dan certified intuitive eating conselor. Tapi, selain kesibukan itu semua, tentu saja prioritas saya adalah menjadi ibu dari 3 putra.
Bagaimana awalnya menjadi content creator?
Sebenarnya saya sudah menjadi content creator di Instagram sejak anak terakhir saya (Ben) lahir, yaitu tahun 2018. Selama sekitar 6 tahun itu konten saya semuanya full bahasa Inggris, jadi mungkin kurang disukai di sini. Lalu, di awal Januari 2025, saya coba membuat konten yang 100 persen bahasa Indonesia, dan alhamdulillah bisa maju pesat. Senang sekali konten saya di 2025 ini lebih diterima, disukai, dan relate dengan kehidupan para Moms.
Selama kita membesarkan anak, kita hanya mempersiapkan anak kita untuk bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua, sedangkan orang tuanya tidak pernah dipersiapkan untuk ditinggal anaknya.
Apa pesan yang ingin disampai lewat konten-konten Anda?
Awalnya konten saya merupakan sebuah persiapan untuk diri saya sendiri yang akan ditinggal anak kuliah di luar negeri. Jadi, saya ingin menciptakan memori di beberapa bulan terakhir sebelum anak berangkat ke luar negeri. Saya dokumentasikan kehidupan sehari-hari saya dan anak-anak, edit, lalu post di Instagram. Ternyata banyak banget Moms yang relate, khususnya yang akan atau yang sudah ditinggal anak kuliah/sekolah di luar negeri atau luar kota.
Ada satu kesamaan yang saya dan Moms lainnya rasakan, yaitu selama kita membesarkan anak, kita hanya mempersiapkan anak kita untuk bisa hidup mandiri tanpa bantuan orang tua, sedangkan orang tuanya tidak pernah dipersiapkan untuk ditinggal anaknya. Saya ingin Moms yang anaknya masih kecil untuk menikmati waktu dengan Si Kecil sebaik mungkin, karena waktu cepat banget berlalu. Tanpa kita sadari tahu-tahu mereka sudah besar, kuliah, dan punya kehidupannya sendiri. So, that was my main message.
Ibu 3 anak, content creator, conselor, banyak sekali peran yang Anda jalankan. Apa tantangannya menjalani begitu banyak peran?
Tantangan terbesarnya sudah pasti membagi waktu, karena dari dulu saya selalu bilang, “Mom is my personality.” Jadi, peran yang saya prioritaskan adalah menjadi ibu, baru peran-peran lainnya. Di saat sekarang saya sudah sibuk, saya tetap menjaga waktu yang sama untuk anak-anak. Walau sekarang Zach sudah di luar negeri, tetap saya berikan quality time secara one on one.
Apa prinsip hidup terpenting yang ditanamkan ke anak-anak?
Prinsip yang paling penting, saya selalu bilang ke Zach, Ezra, dan Ben untuk menjadi orang yang baik, respectful ke orang lain. Nilai akademik memang penting, tapi tidak sepenting menjadi pribadi yang baik hati dan mau menghormati orang lain. Terlebih anak-anak saya laki-laki semua, jadi saya sering memberi insight ke mereka dari sudut pandang perempuan. Misalnya, apa yang perempuan rasakan kalau ada laki-laki yang tidak reply telepon atau chat.
Hal sesederhana itu mungkin mereka nggak merasa, because boys and girls brain works differently, right? Jadi, saya selalu ingatkan ke mereka tiga hal wajib: kind, respectful, dan enggak boleh sombong.
Apa sih bagian tersulit dari menjadi ibu 3 anak cowok?
Bagian tersulit adalah ketika mereka sudah besar, saya baru sadar kalau mereka sudah tidak membutuhkan saya seperti dulu lagi. Dulu kayanya ribet banget hidup saya mengurus 3 anak. Saya di rumah terus, karena susah mau pergi ke mana-mana, eggak bisa ngapa-ngapain, bahkan ke kamar mandi aja diikuti. Tapi, ternyata ketika anak-anak sudah remaja, sudah punya keseruan sendiri bersama teman-temannya, saya merasa ada yang “kosong” di rumah. Kangen lho, bisa seperti dulu, apa-apa diikuti, dibutuhkan.
Lucky me, saat anak pertama dan kedua sudah besar, saya masih punya Ben, si bungsu yang masih 7 tahun. Jadi, saya sangat menghargai setiap waktu yang kami habiskan bersama. Ben juga jadi mendapatkan versi diri saya yang tidak didapat kedua kakaknya, karena yang dua itu I was very stressed out (jarak umur mereka dekat, saya pun masih muda saat itu). Itulah kenapa saya ingin para Moms sadar kalau waktu berlalu cepat banget. Ayo, nikmati setiap detiknya bersama Si Kecil!
Setiap keluarga situasinya kan berbeda-beda. Saya pun tidak akan pernah mau menghakimi bagaimana orang tua lain mengasuh anaknya.
You are a very chill Mom. Bagaimana bisa tetap tenang di tengah kekacauan punya 3 anak cowok?
I don’t know, sepertinya itu sesuatu yang tidak bisa diajarkan, ya. Saya rasa chill itu juga bagian dari bagaimana orang tua saya membesarkan saya. Mereka adalah orang tua yang tidak pernah melarang-larang, tapi justru itu yang membuat saya tidak mau macam-macam. Makin kita mengekang anak, maka makin anak jadi mau mencoba yang tidak seharusnya.
Misalnya, banyak Moms yang strict tidak boleh anaknya makan gula atau junk food sama sekali, yang menurut saya itu bisa jadi backfire. Jadi, saya rasa tidak perlu mengekang, hanya diberi batas-batas saja. Kalau untuk anak-anak saya yang sudah remaja, saya selalu kasih tahu batasan bergaul, seperti tidak menyentuh narkoba, minuman keras, dan sebagainya. Kalau ada batas yang dilewati, they know they are gonna be in a very big trouble!
Di era parenting yang penuh perbandingan. Bagaimana Anda tetap percaya diri dengan gaya parenting Anda sendiri?
I think it comes with personality and “jam terbang” as a mom. Waktu saya masih muda (dulu punya anak pertama usia saya 25 tahun), sepertinya masih membanding-bandingkan. “Am I doing the right thing?” Seperti itu, karena masih belum tahu banyak soal motherhood dan parenting.
Seiring anak-anak sudah makin besar, sudah tahu positif dan negatifnya, saya jadi tahu kalau gaya parenting itu tidak bisa dibanding-bandingkan. Setiap keluarga situasinya kan berbeda-beda. Saya pun tidak akan pernah mau menghakimi bagaimana orang tua lain mengasuh anaknya. Misalnya dalam hal screen time, saya harap enggak ada orang tua lain yang menghakimi kenapa saya bolehkan anak saya punya screen time (asal masih di batas-batas tertentu). Saya pun tidak akan menghakimi orang tua lain, karena saya yakin kondisi setiap keluarga kan berbeda-beda.
Apakah menemukan kesulitan karena perbedaan gaya parenting lintas budaya dengan suami?
Saya tidak menemukan ada perbedaan besar antara gaya parenting saya dan suami, ya. Mungkin karena orang tua saya pun mendidik saya agak Westernized (ke-Barat-an), jadi saya tidak merasa ada perbedaan budaya yang sampai perlu dimasalahkan.
Membesarkan anak dalam lingkungan bilingual, apa tantangan dan manfaatnya?
Jujur, di bagian ini saya harusnya bisa lebih baik lagi dalam memperkenalkan bahasa Indonesia. Semua anak-anak saya mengerti dasar bahasa Indonesia, tapi harusnya dari mereka masih kecil itu saya perlu lebih push kemampuan berbahasa Indonesia mereka. Di sekolah itu mereka sudah full bahasa Inggris, teman-temannya full bahasa Inggris, jadi seharusnya di rumah mereka full bahasa Indonesia agar terjaga. But, I did not do that to Zach and Ezra. Sekarang mereka bisa, tapi sangat tidak fasih, jadi saya perbaiki polanya di Ben agar lancar berbahasa Indonesia. Itulah tantangannya menurut pengalaman saya.
Selama yang kamu lakukan itu halal, positif, just do it! Just keep going and be consistent!
Pernahkah merasa mom-guilt saat terlalu fokus berkarier?
Yes, very much so. Walau dalam kerja itu saya masih sering di rumah, tapi kan mungkin menutup pintu, anak-anak enggak boleh masuk, enggak boleh ada interaksi. Saya kerja dari rumah, tapi tetap saja membuat saya merasa bersalah juga kalau terlalu asyik bekerja. A mom-guilt is real, for sure. Semua ibu bekerja pasti ada merasa seperti itu, atau ibu rumah tangga mungkin ada yang ingin bekerja. Selalu ada kemungkinan untuk ibu merasa bersalah, karena rumput tetangga selalu lebih hijau.
Apa momen paling berkesan selama menjadi content creator?
Wah, banyak banget momen berkesan, bahkan sekarang saya duduk di sini, diwawancara tentang gaya parenting saya, ini pun sudah suatu momen yang berkesan. Enggak pernah menyangka bisa ada di posisi ini dalam waktu yang cukup singkat. Momen berkesan lainnya adalah minggu lalu saya dikirim ke Cina oleh Tiktok Indonesia untuk belajar membuat konten, live, dan lainnya. Itu yang berangkat benar-benar dipilih, kriterianya sangat ketat. Jadi, untuk saya yang baru jadi content creator bulan Januari itu rasanya seperti enggak percaya bisa ada di tahap ini.
Di lain sisi, saya juga tahu saya layak mendapatkan ini semua karena saya sudah bekerja keras, konsisten, hanya pernah bolong ngonten 1 hari (karena sedang di pesawat 24 jam). I’m grateful but I also know I deserved it.
Tips untuk para Moms yang ingin menjadi content creator?
Menurut saya, rintangan paling berat untuk semua orang yang ingin menjadi content creator adalah takut diomongin orang. Saya selalu berpikir, kalau kamu peduli pendapat orang lain (dan keseringan yang kamu pedulikan bukan orang terdekat, melainkan tetangga atau teman), ingat saja kalau mereka itu tidak bayarin tagihan-tagihan di hidup kamu, lho. So, kenapa harus pedulikan omongan orang lain?Saat mau menjadi content creator tuh, sulit untuk maju kalau masih peduli dengan omongan orang lain. Selama yang kamu lakukan itu halal, positif, just do it! Just keep going and be consistent!
(MB/TW/Foto: Gustama Pandu/Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang/Stylist: Gabriela Agmassini/MUA: Aksis Mipi (@aksismipi_mua)/Hairstylist: Norwulan (@nwhair_)/Wardrobe: Ayaco (@ayaco.id))