FAMILY & LIFESTYLE

Villysia Sianandar: Belajar Tangguh saat Badai Menghantam


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Bisnis hospitality merupakan salah satu bisnis yang paling terdampak badai COVID-19 beberapa waktu lalu. Bagi Villysia Sianandar, owner Morrissey Hotel Jakarta, masa pandemi adalah masa ketidakpastian. Masa di mana ia harus mengambil banyak keputusan sulit.Villysia harus jatuh dan bangun untuk bisa menjaga agar bisnisnya tidak ikut tumbang. Di sisi lain, ia juga tetap harus menjalankan tanggung jawab sebagai istri dan ibu dari dua orang anaknya, Calista Wartin (18) dan Nathanael Wartin (14).

Di balik sosoknya sebagai pejuang tangguh, Villysia adalah ibu yang penuh perhatian. Dia sangat care, bukan hanya terhadap anak-anaknya, tetapi juga pegawainya. Mau kenal lebih dekat dengan Villysia? Simak wawancara MB dengan Villysia Sianandar dalam Working Mom’s Lyfe edisi Desember 2025 berikut ini, Moms!

Apa kesibukannya saat ini?

Saat ini saya masih aktif memimpin tim di Morrissey Hotel, memastikan setiap aspek operasional berjalan lancar, dan tetap menghadirkan pengalaman menginap yang hangat serta personal bagi para tamu. Selain fokus pada pengembangan tim dan inovasi layanan, saya juga terus mengeksplorasi peluang bisnis baru di dunia hospitality.

Selain menangani Morrissey Hotel, saya juga mengelola KX Pilates Menteng, sebuah studio yang saya dirikan, karena saya percaya pentingnya gaya hidup seimbang antara tubuh dan pikiran. Bagi saya, pilates bukan sekadar olahraga, tapi cara untuk melatih fokus, disiplin, kesadaran diri, serta nilai-nilai yang juga saya terapkan dalam memimpin tim dan menjalankan bisnis. Dan tentu saja, di tengah semua aktivitas tersebut, saya tetap berusaha menjalani peran sebagai seorang ibu yang hadir untuk keluarga dan anak-anak, sambil terus mencari keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan kehidupan pribadi.

Villysia Sianandar bisa dibilang sukses menjadi pebisnis wanita. Sebenarnya, dahulu mengambil kuliah jurusan apa?

Saya dulu mengambil jurusan accounting dan finance. Seiring dengan bertambahnya usia, saya makin tertarik dengan industri yang people-oriented.

Apakah memang sudah lama bercita-cita untuk menjadi pebisnis wanita?

Menjadi pebisnis sebenarnya bukan cita-cita, tetapi saya memang senang untuk belajar hal-hal baru dan bekerja dengan orang (people-oriented). Dan saya sangat bersyukur mempunyai kesempatan untuk berusaha dan mempekerjakan banyak orang.

Ada masa di mana bisnis hotel sangat terpukul, terutama saat pandemi. Banyak ketidakpastian, dan keputusan-keputusan sulit yang saya harus ambil. Di sisi lain, sebagai pemimpin, kita harus tetap memberi arah dan harapan bagi tim.

Boleh tahu bagaimana perjalanan karier seorang Villysia Sianandar hingga berada di titik ini?

Saya dididik oleh almarhum ayah saya dari kecil secara keras dan disiplin, dari hal kecil yang harus dikerjakan, dari level terbawah, sehingga saya merasakan dan bisa menguasai hampir seluruh aspek dalam bisnis. Dengan begitu, apa pun jenis bisnisnya, mudah bagi saya untuk beradaptasi.Dan karena saya senang belajar hal baru, maka menekuni jenis usaha yang baru akan sangat menantang bagi saya dan menjadi proses pembelajaran secara berkesinambungan.

Apakah Anda pernah mengalami berada di fase terendah dalam karier?

Pernah. Ada masa di mana bisnis hotel sangat terpukul, terutama saat pandemi. Banyak ketidakpastian, dan keputusan-keputusan sulit yang saya harus ambil. Di sisi lain, sebagai pemimpin, kita harus tetap memberi arah dan harapan bagi tim. Itu masa yang berat, tapi juga paling banyak memberi pelajaran.

Bagaimana usaha Anda untuk bisa bangkit?

Saya percaya pada kekuatan tim dan ketahanan mental. Kami berfokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti efisiensi, inovasi produk, dan memperkuat hubungan dengan tamu. Saya berterima kasih kepada tim kami pada saat itu, karena semangat mereka dan kerja sama tim yang solid sangat membantu pada saat sulit tersebut.

Apa tantangan terbesar yang Anda hadapi dalam mengelola hotel, khususnya di tengah dinamika industri hospitality?

Tantangan terbesar adalah menjaga relevansi. Industri ini berubah cepat, baik dari sisi tren wisata, perilaku konsumen maupun teknologi. Kami harus selalu beradaptasi tanpa kehilangan karakter Morrissey yang dikenal hangat, kreatif, dan penuh kepribadian.

Apa yang membedakan Morrissey dengan hotel-hotel lain?

Morrissey bukan hanya tempat untuk menginap, tetapi sebuah tempat beristirahat yang punya karakter dan jiwa sendiri. Desain kami merupakan perpaduan antara industrial modern dengan sentuhan luxury yang hangat.

Belum lama ini, kami merilis produk terbaru dengan konsep “Villa di tengah kota”. Suasananya urban dan stylish, tetapi tetap terasa homey dan personal. Kami ingin setiap tamu yang datang bisa merasakan keseimbangan antara kenyamanan, gaya dan kehangatan layanan. Selain itu, kami terus menghadirkan pengalaman menginap yang autentik melalui ruang-ruang yang dirancang dengan detail, atmosfer yang tenang di tengah hiruk-piruk Jakarta, serta pelayanan yang tulus dari hati yang sesuai dengan tagline “Hospitality is love in action”.

Siapa sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupan Anda, baik dalam karier maupun sebagai ibu?

Almarhum ayah saya adalah sosok yang paling berpengaruh untuk urusan bisnis dan profesional, Ia mengajarkan kerja keras, kedisiplinan, integritas tinggi, dan kejujuran. Ibu saya adalah orang yang berpengaruh dalam kehidupan berkeluarga saya. Beliau menanamkan pentingnya agama yang kuat dalam kehidupan pribadi dan berkeluarga, dan betapa peran seorang ibu sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Tidak ada seorang ibu yang sempurna, apalagi seorang ibu yang bekerja. Tetapi saya berusaha untuk membagi waktu untuk keluarga dan menyempatkan untuk hadir di acara penting di sekolah atau acara keluarga.

Menjadi pebisnis sekaligus seorang ibu. Bagaimana membagi waktunya agar “adil”?

Ini jujur sangatlah sulit. Tidak ada seorang ibu yang sempurna, apalagi seorang ibu yang bekerja. Tetapi saya berusaha untuk membagi waktu untuk keluarga dan menyempatkan untuk hadir di acara penting di sekolah atau acara keluarga. Setiap harinya, pagi hari dan malam hari menjadi waktu penting untuk keluarga.

Pernah diprotes oleh anak karena terlalu sibuk bekerja?

Sejauh ini belum pernah. Saya bersyukur bisa membawa anak-anak ke kantor dari mereka masih bayi sampai menjelang 4 tahun. Jadi mereka sudah melihat sendiri ibunya di lingkungan pekerjaan. Selain itu, saya selalu berusaha memberikan waktu, terutama jika mereka secara khusus meminta saya untuk hadir dan menemani mereka.

Bagaimana quality time dengan anak versi Villysia Sianandar?

Untuk anak perempuan, kami suka pergi ke cafe dan shoping bareng. Dan karena dia menyukai art dan design, maka kami sering ke pameran seni atau konser bersama. Untuk anak laki-laki, kami selalu menyempatkan untuk makan bersama dan bisa mengobrol pada saat makan bersama. Inilah kegiatan rutin keluarga kami, setiap minggu.

Saat lelah, bagaimana Anda recharge yourself?

Saya perlu me time di mana saja sendiri, bisa cafe hopping sendiri, menghabiskan waktu di bookstore saat ke luar negeri, atau sekadar berolahraga. Traveling juga menjadi cara terbaik untuk recharge bersama suami dan keluarga.

Apa harapan Anda untuk 10 tahun ke depan?

Saya berharap bisa terus berkembang bersama Morrissey, menjadikannya brand hospitality lokal yang kuat dan dikenal karena kehangatan pelayanannya. Secara pribadi, saya ingin menjadi pribadi yang tetap rendah hati, bermanfaat, dan bisa menjadi contoh positif bagi anak-anak serta tim saya.

(MB/WR/Photographer: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Bagus Ragamanyu Herlambang/Stylist: Gabriela Agmassini/MUA: Inez Febiola (@inezfebiola)/Hairstylist: Winda Juniansa (@windajuniansa_artist)/Location: Morrissey Hotel Jakarta (@iammorrissey))