BUMP TO BIRTH

Normalkah Mengalami Keputihan saat Hamil Trimester 3? Ini Faktanya!


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Memasuki fase akhir kehamilan atau trimester ketiga, tubuh Moms akan mengalami banyak perubahan besar sebagai persiapan menuju persalinan. Selain perut yang makin besar dan napas yang terasa lebih pendek, salah satu keluhan yang sering membuat ibu hamil khawatir adalah munculnya cairan vagina yang lebih banyak.

Munculnya keputihan saat hamil trimester 3 sebenarnya adalah hal yang sangat umum terjadi. Namun, tidak sedikit bumil yang merasa cemas apakah hal tersebut normal atau justru menandakan adanya gangguan kesehatan.

Pada dasarnya, keputihan adalah cara alami tubuh untuk menjaga kebersihan area kewanitaan dan mencegah infeksi naik ke rahim. Namun, karena trimester ketiga adalah masa yang krusial bagi keselamatan janin, Moms perlu lebih jeli dalam memperhatikan tekstur, warna, hingga bau dari cairan yang keluar.

Penyebab keputihan di trimester 3

Meningkatnya volume cairan vagina di pengujung kehamilan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor biologis yang saling berkaitan.Berikut ini penyebab utama munculnya keputihan saat hamil trimester 3.

1. Perubahan hormon yang signifikan

Kadar hormon estrogen dalam tubuh akan melonjak drastis saat mendekati persalinan. Hal ini menyebabkan aliran darah ke area panggul meningkat dan merangsang selaput lendir untuk memproduksi lebih banyak cairan.

2. Tekanan kepala janin

Di trimester ketiga, posisi kepala bayi biasanya sudah mulai turun ke arah panggul. Tekanan fisik dari kepala bayi terhadap leher rahim (serviks) dapat memicu keluarnya lendir lebih banyak daripada biasanya.

3. Penipisan leher rahim

Seiring tubuh bersiap untuk melahirkan, serviks akan mulai melunak dan menipis. Proses ini secara alami akan melepaskan lendir-lendir yang selama ini menyumbat leher rahim sebagai pelindung janin.

4. Infeksi jamur atau bakteri

Perubahan pH pada area kewanitaan selama hamil membuat jamur Candida atau bakteri Vaginosis Bakterialis lebih mudah berkembang biak. Jika keputihan disertai rasa gatal atau bau tidak sedap, kemungkinan besar penyebabnya adalah infeksi.

Apakah keputihan di trimester 3 berbahaya bagi ibu hamil?

Secara umum, keputihan dikatakan normal jika berwarna bening atau sedikit putih susu, teksturnya encer atau sedikit kental seperti ingus, dan tidak memiliki bau yang menyengat. Jenis keputihan ini tidak berbahaya dan merupakan pelindung alami bagi jalan lahir.

Namun, keputihan saat hamil trimester 3 bisa menjadi berbahaya jika menunjukkan tanda-tanda infeksi atau gangguan ketuban.Moms harus waspada jika menemui ciri-ciri berikut:

  • Keputihan berwarna kuning kehijauan, abu-abu, atau cokelat tua
  • Teksturnya seperti tahu hancur atau keju cottage.
  • Berbau amis yang tajam atau bau busuk.
  • Disertai rasa gatal yang hebat, panas seperti terbakar saat buang air kecil, atau nyeri di area kemaluan.

Jika dibiarkan tanpa penanganan medis, infeksi akibat keputihan dapat berisiko menyebabkan ketuban pecah dini atau memicu kelahiran prematur. Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis kandungan sangat diperlukan jika Moms merasakan gejala di atas.

Baca juga: Kenapa Keputihan Berwarna Cokelat? Ini Penjelasan Lengkapnya

Apakah keputihan saat hamil trimester 3 menandakan persalinan?

Banyak bumil yang bertanya-tanya, apakah cairan yang keluar di minggu-minggu terakhir adalah tanda bayi akan segera lahir? Jawabannya bisa jadi, tetapi Moms perlu membedakan jenis cairannya.

Ada dua kondisi di trimester 3 yang sering disalahartikan sebagai keputihan biasa, padahal merupakan tanda persalinan:

1. Bloody show (lendir penyumbat rahim). Jika keputihan yang keluar teksturnya sangat kental seperti jeli dan disertai bercak darah kemerahan atau kecokelatan, ini adalah lendir penyumbat serviks yang lepas. Ini merupakan tanda bahwa leher rahim mulai membuka dan persalinan mungkin terjadi dalam hitungan hari atau jam.

2. Air ketuban. Berbeda dengan keputihan yang lengket, air ketuban bersifat sangat encer seperti air biasa, tidak berbau (atau berbau khas sedikit manis), dan biasanya keluar terus-menerus tanpa bisa ditahan. Jika Moms merasa "rembes" yang tidak kunjung berhenti, segera ke rumah sakit karena ini adalah tanda ketuban pecah.

Baca juga: Waspada Ketuban Pecah Dini! Ini Penyebab dan Risikonya, Moms

Bagaimana cara mencegah keputihan saat hamil?

Meskipun peningkatan cairan sulit dihindari karena faktor hormon, Moms bisa mencegah agar keputihan tersebut tidak berubah menjadi infeksi yang mengganggu kenyamanan. Berikut ini beberapa tips praktisnya.

1. Pilih pakaian dalam yang tepat. Gunakan celana dalam berbahan katun yang dapat menyerap keringat dengan baik agar area kewanitaan tidak lembap.

2. Hindari sabun pembersih kewanitaan. Sabun yang mengandung parfum atau bahan kimia kuat dapat merusak keseimbangan bakteri baik (Lactobacillus) di vagina. Cukup bersihkan dengan air mengalir dari arah depan ke belakang.

3. Rutin mengganti celana dalam. Jika merasa area bawah sudah terlalu basah, segera ganti celana dalam agar jamur tidak tumbuh. Hindari penggunaan panty liner terlalu lama karena justru dapat memerangkap kelembapan.

4. Kurangi asupan gula. Jamur sangat menyukai gula. Mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis bisa membantu menekan pertumbuhan jamur penyebab keputihan.

5. Konsumsi probiotik. Makanan seperti yoghurt plain dapat membantu menjaga keseimbangan flora normal di dalam tubuh.

Perbedaan keputihan dan rembes ketuban

Moms juga harus tahu cara membedakan cairan keputihan dengan ketuban pecah dini. Anda bisa melakukan "tes observasi" sederhana sebagai berikut:

  • Pakailah celana dalam bersih tanpa pembalut.
  • Cobalah berjalan atau mengejan sedikit.

Jika yang keluar adalah cairan bening yang membasahi pakaian dalam secara luas dan terasa mengalir deras, itu kemungkinan air ketuban. Namun, jika cairan hanya menempel dan bersifat lengket, itu biasanya hanya keputihan biasa.

Mengalami keputihan saat hamil trimester 3 memang sering kali membuat tidak nyaman. Namun, selama warnanya tetap normal dan tidak disertai gejala lain, Moms tidak perlu panik. Hal terpenting adalah menjaga kebersihan area miss V dan tetap waspada terhadap tanda-tanda persalinan yang mungkin muncul bersamaan dengan cairan tersebut.

Jangan ragu untuk segera menghubungi dokter jika Moms merasa cairan yang keluar berbeda dari biasanya atau jika disertai dengan kontraksi yang rutin. (MB/AY/SW/Foto: Tirachardz/Freepik)