Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Kenapa Keputihan Berwarna Cokelat? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kenapa Keputihan Berwarna Cokelat? Ini Penjelasan Lengkapnya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Buat banyak perempuan, keputihan bisa dialami hampir setiap bulan. Namun, begitu warna keputihan berubah dari putih atau bening menjadi cokelat, wajar kalau muncul rasa khawatir. Pertanyaannya, kenapa keputihan berwarna cokelat? Apakah selalu tanda penyakit, atau bisa saja masih tergolong normal?

Sebenarnya, keputihan berwarna cokelat tidak selalu berarti sesuatu yang berbahaya. Dalam banyak kasus, warna cokelat berasal dari darah haid yang sudah mengering atau keluar terlambat. Akan tetapi, di sisi lain, keputihan berwarna cokelat juga bisa berkaitan dengan kondisi medis tertentu, misalnya infeksi, iritasi, bahkan gangguan pada rahim atau leher rahim.

Agar tidak salah paham dan tidak panik, ada baiknya Moms memahami dahulu, kapan keputihan cokelat masih bisa dianggap wajar, kapan harus waspada, dan langkah apa yang perlu dilakukan.

Apakah keputihan berwarna cokelat perlu diwaspadai?

Pertama-tama, kita perlu tahu dulu bahwa keputihan adalah hal normal. Tubuh memang memproduksi lendir dari vagina dan leher rahim untuk menjaga area kewanitaan tetap lembap dan bersih. Satu hal yang perlu diperhatikan justru adalah perubahan warna, bau, dan teksturnya.

Keputihan cokelat kadang masih normal, misalnya:

  • Muncul di awal atau akhir menstruasi (sisa darah haid yang sudah teroksidasi)
  • Muncul sedikit di masa ovulasi, terutama pada sebagian kecil perempuan
  • Keluar sedikit setelah hubungan seks karena adanya gesekan ringan.

Namun, keputihan berwarna cokelat perlu diwaspadai jika:

  • Disertai bau tidak sedap yang menyengat
  • Disertai nyeri perut bawah, nyeri panggul, atau nyeri saat berhubungan
  • Disertai perdarahan di luar jadwal haid yang cukup sering
  • Teksturnya menggumpal, sangat kental, atau justru sangat banyak.

Baca juga: Keputihan Tanda Hamil, Ini Bedanya dengan Keputihan Biasa

Kenapa keputihan berwarna cokelat?

Ada beberapa kemungkinan penyebab, mulai dari yang ringan sampai yang perlu pemeriksaan lebih lanjut, di antaranya:

1. Sisa darah menstruasi. Ini adalah penyebab paling umum. Darah yang sudah lama berada di rahim atau vagina bisa berubah warna menjadi lebih gelap atau cokelat ketika akhirnya keluar bersama keputihan.

2. Perubahan hormonal. Fluktuasi hormon, misalnya karena stres, kelelahan, perubahan berat badan, atau penggunaan kontrasepsi hormonal, bisa memengaruhi siklus haid dan menyebabkan bercak cokelat di luar jadwal haid.

3. Ovulasi (pelepasan sel telur). Pada sebagian perempuan, ovulasi bisa menyebabkan sedikit perdarahan atau bercak, yang kemudian keluar bercampur lendir sehingga tampak seperti keputihan cokelat.

4. Iritasi atau luka ringan di area vagina atau leher rahim. Gesekan saat berhubungan seks, penggunaan pantyliner terus-menerus, atau prosedur medis tertentu bisa menimbulkan bercak darah ringan yang kemudian terlihat seperti keputihan cokelat.

5. Infeksi di area kewanitaan. Infeksi menular seksual, radang panggul, atau infeksi lain di rahim dan leher rahim bisa menimbulkan keputihan tidak normal, termasuk berwarna cokelat, sering disertai bau menyengat dan nyeri.

6. Polip atau gangguan lain pada rahim atau leher rahim. Polip serviks, polip rahim, atau kelainan lain bisa menyebabkan perdarahan di luar jadwal haid, termasuk bercak cokelat. Ini butuh pemeriksaan langsung oleh dokter.

Nah, karena penyebabnya bisa sangat beragam, hindari mendiagnosis diri sendiri hanya dari warna. Jika keputihan cokelat muncul berulang disertai keluhan lain atau membuat Moms tidak nyaman, konsultasi medis adalah langkah paling aman.

Baca juga: Keputihan Putih Susu, Kapan Harus Waspada?

Cara mencegah keputihan tidak normal

1. Jaga kebersihan area kewanitaan dengan cara yang lembut. Cukup cuci dengan air bersih, bisa menggunakan sabun lembut khusus area kewanitaan bila perlu, tetapi hindari sabun keras, pewangi, atau antiseptik berlebihan yang bisa mengganggu keseimbangan flora normal vagina.

2. Hindari douching (menyemprot bagian dalam vagina). Praktik ini justru bisa mengganggu bakteri baik di vagina dan meningkatkan risiko infeksi.

3. Gunakan pakaian dalam yang menyerap keringat. Pilihlah bahan katun yang adem dan ganti secara rutin, terutama jika Anda mudah berkeringat.

4. Perhatikan kebersihan saat haid. Ganti pembalut secara teratur, jangan menunda terlalu lama. Ini membantu mengurangi risiko infeksi yang bisa memicu keputihan tidak normal.

5. Praktikkan hubungan seks yang aman. Gunakan pengaman bila diperlukan dan jangan ragu berdiskusi dengan pasangan tentang kesehatan reproduksi.

6. Jaga pola makan dan gaya hidup sehat. Daya tahan tubuh yang baik ikut memengaruhi kesehatan organ reproduksi. Anda perlu cukup tidur, kelola stres, konsumsi makanan bergizi, dan cukup minum air putih.

Cara mengobati keputihan berwarna cokelat

Cara mengatasi keputihan cokelat sangat bergantung pada penyebabnya. Jadi, langkah pertama tetap kenali dulu, kenapa keputihan berwarna cokelat pada kasus Anda. Beberapa langkah yang biasanya disarankan dokter adalah:

1. Observasi jika masih dalam batas normal. Jika keputihan cokelat hanya muncul sebentar menjelang atau sesudah haid, tidak berbau, dan tidak disertai nyeri, dokter mungkin hanya menyarankan observasi sambil menjaga kebersihan.

2. Pemeriksaan fisik dan penunjang. Jika keputihan disertai keluhan lain (nyeri, bau, perdarahan, siklus haid sangat berubah), dokter bisa melakukan pemeriksaan panggul, Pap smear, USG, atau tes lain sesuai indikasi.

3. Pemberian obat sesuai penyebab. Jika penyebabnya infeksi, dokter bisa meresepkan antibiotik, antijamur, atau obat lain yang sesuai. Jangan minum obat bebas tanpa rekomendasi, apalagi obat yang diklaim dapat membersihkan rahim, tanpa bukti medis.

4. Penanganan polip atau kelainan lain. Jika ditemukan polip atau gangguan struktural di rahim atau leher rahim, dokter akan menjelaskan opsi tindakan yang tepat, termasuk apakah perlu prosedur medis tertentu.

5. Edukasi dan perubahan gaya hidup. Dokter biasanya juga akan mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, gaya hidup sehat, dan memantau pola keputihan Anda secara berkala.

Ingat, pengobatan yang tepat tidak bisa hanya berdasarkan warna keputihan, tapi harus melihat kondisi tubuh secara keseluruhan.

Jadi, kenapa keputihan berwarna cokelat? Jawabannya bisa sesederhana sisa darah haid yang keluar terlambat, tetapi bisa juga menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang harus diperiksa mendalam dari tubuh Anda. Kuncinya adalah memperhatikan seberapa sering keputihan cokelat muncul, apakah disertai gejala lain, dan apakah mengganggu kenyamanan sehari-hari. Jika Moms merasa ragu atau cemas, jangan ragu untuk konsultasi langsung dengan dokter, ya. (MB/AY/SW/Foto: Tirachardz/Freepik)