FAMILY & LIFESTYLE

Mom of the Month: Aline Adita


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Aline Adita is officially a mom! Impian wanita yang mengawali karier sebagai model ini terwujud setelah melahirkan Jason Murray James Midgley pada Oktober 2025 lalu. Perjuangan pemilik nama asli Caroline Ingrid Adita ini untuk mendapatkan buah hati tidaklah mudah. Ia harus melewati sebanyak 7 kali prosedur In Vitro Fertilization (IVF) demi mendapatkan buah hati.

Menapaki babak baru kehidupan sebagai seorang ibu, wajah Mother & Beyond Mom of the Month 2026 ini menceritakan kisahnya dalam menyesuaikan diri menjalani peran barunya, jatuh bangun perjuangan memiliki anak, hingga rencananya membesarkan jagoannya, Jason, di Papua New Guinea, bersama sang suami, James Midgley.

Bagaimana rasanya menjadi ibu?

Rasanya campur aduk. I am excited for his future, but at the same time, aku juga merasa sangat emosional karena Jason cepat sekali besarnya. Every moment is so precious, rasanya aku ingin preserve momen ini, karena aku menunggu dia cukup lama, jadi aku benar-benar menikmati setiap momen bersama Jason.

Hal ini pula yang membuat aku memutuskan untuk mengasuh Jason sendiri tanpa bantuan nanny sehari-harinya. Apalagi kami tinggal di Papua New Guinea (PNG) sekarang, dan mencari nanny juga tidak mudah di sana, jadi aku lebih baik pegang anakku sendiri.

Bagaimana Aline menjalani kehamilan pertama kemarin?

I love being pregnant! I really enjoy my pregnancy. Awalnya aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan hal-hal terburuk, karena aku banyak mendengar cerita kurang menyenangkan dari beberapa teman yang sudah pernah hamil. Tapi nyatanya, tidak ada satu pun yang kejadian.

Saat hamil, aku tidak merasakan mual-mual, pusing, atau ngidam. Aku merasa penuh energi sekali kemarin. Setelah memasuki usia kehamilan 3 bulan aku masih bisa travelling, bahkan karena terlalu banyak aktivitas, di kehamilan usia 32 minggu aku sempat merasakan kontraksi.

Overall, aku cukup enjoy menjalani kehamilan kemarin. Mungkin juga karena sebelum persiapan IVF aku cukup menjaga makan dan rutin berolahraga. Aku tahu bahwa tubuhku harus cukup kuat untuk menjalani semua rentetan prosesnya. Jadi memang persiapan kehamilan itu penting sekali. Dan pada akhirnya aku merasa kebiasaan ini juga berpengaruh pada pemulihan pascapersalinanku yang terasa lebih cepat.

Mengapa Aline memilih menjalani program IVF? Dan bagaimana pengalamannya kemarin?

Ketika mau program hamil, aku baru tahu bahwa aku memiliki kelainan bawaan yang disebut Uterus Didelphys atau rahim ganda. Kondisi ini membuat peluang aku untuk hamil secara alami jadi lebih sulit. Karena hamil secara alami tidak memungkinkan, aku sempat ingin inseminasi, tapi pada akhirnya aku memilih IVF.

Bagiku menjalani IVF itu tidak mudah, karena aku menjalaninya berkali-kali, sehingga membuat aku lelah secara fisik dan mental. Karena dalam prosesnya aku berkali-kali disuntik, sembari menjalani rentetan prosedur IVF lainnya, belum lagi ketika menunggu hasil setelah transfer embrio, di mana beberapa kali hasilnya tidak sesuai harapanku, di mana aku tidak hamil. Jadi, mentally very challenging.

Berkali-kali menjalani IVF dan gagal, apakah Aline sempat menyerah dan memilih berhenti?

Aku menjalani IVF sebanyak 7 kali, di Indonesia, Singapura, dan terakhir di Malaysia. Bagiku percobaan IVF ke-4, ke-5, dan ke-6 itu momen tersulit. Setelah percobaan ke-6 aku sempat minta break. Karena aku merasa bukan seperti diriku sendiri lagi. Mungkin karena ada pengaruh dari suntik hormon yang menjadi bagian dari prosedur IVF juga, ya. Jadi, aku memutuskan break selama 8 bulan dan mencoba memperbaiki diriku sendiri dulu dengan mengikuti terapi Tapas Acupressure Technique, dan bersyukurnya ini “kena” banget di aku.

Aku juga sudah sampai tahap berpikir untuk kemungkinan mengadopsi anak saja. Aku bilang pada suamiku tentang opsi ini. Bagiku, aku tidak ada masalah sama sekali bila mau adopsi anak, lagi pula rasanya aku bisa mencintai anak meski dia bukan lahir dari rahimku. Tapi, suamiku tetap menyemangati aku untuk mencoba lagi. Akhirnya dengan dukungan suami serta kondisi diri dan mentalku yang sudah membaik, aku kembali mencoba IVF untuk ke-7 kalinya, Puji Tuhan berhasil, dan lahirlah Jason, anak pertamaku yang sudah aku nantikan sejak lama.

Bagaimana penyesuaian Aline ketika akhirnya menjadi seorang ibu?

Setelah melahirkan, aku memilih tinggal selama satu bulan di salah satu confinement home yang ada di Malaysia. Ini merupakan tempat yang menyediakan perawatan pascapersalinan. Di sini, kita benar-benar disuruh istirahat, tidur, disiapkan makanan dari ahli gizi, ada kelas yoga, salon, dan mendapatkan obat tradisional dari Cina untuk membantu pemulihan. Jadi, aku merasa benar-benar diperlakukan layaknya princess. Jason tidak seharian bersama aku, tapi kalau aku ingin bertemu dan menyusui, tinggal infokan ke nanny yang ada di sana.

Dengan tinggal di sana, aku merasa recovery-ku setelah melahirkan bagus banget. Luckily, I don’t feel any like postpartum depression, karena sebulan itu aku benar-benar fokus menyembuhkan diriku. Which I think it’s a great concept, ya. Aku tidak bisa membayangkan kalau habis lahiran aku langsung pegang Jason sendiri, sepertinya aku bisa overwhelmed, deh.

Nah, setelah sampai Jakarta aku baru berasa capek banget. Karena mungkin sebelumnya terbiasa diurusin banget, tiba-tiba aku harus pegang Jason sendiri, cuci botol sendiri, tiap 2 jam bangun untuk menyusui Jason, dan lain-lain. Badanku sampai panas 40 derajat kemarin, mungkin badannya kaget, ya. Tapi, setelah seminggu, untungnya badanku sudah mulai beradaptasi dengan siklus mengasuh Jason.

Bagaimana perjalanan mengASIhi Jason kini?

Aku tim combo. Selain tetap berusaha melakukan direct breastfeeding, aku juga memberikan susu formula pada Jason. Kebetulan aku bukan tipe ibu yang ambisius anak harus full ASI dan unfortunately produksi ASI-ku tidak sedahsyat itu. Jadi, daripada stres, whatever works, akan aku lakukan itu. Yang penting Jason tetap bisa makan dan sehat.

Untungnya aku tidak pernah tertekan ketika melihat kondisi orang lain, pun dengan sesama ibu menyusui. Kalau misalnya ASI mereka melimpah, it’s good. Tapi mungkin kondisi aku berbeda, dan itu enggak masalah. Sama halnya ketika melihat milestone tumbuh kembang anak, misalnya. Biarlah anak tumbuh sesuai milestone-nya sendiri. Jadi, aku tidak akan membanding-bandingkan sih, karena pada dasarnya aku juga tidak suka dibanding-bandingkan. Aku tahu setiap orang dan journey-nya berbeda. Pemikiran ini akan aku terapkan juga pada bagaimana aku mengasuh Jason nanti.

Aku tidak pernah tertekan ketika melihat kondisi orang lain, pun dengan sesama ibu menyusui. Kalau misalnya ASI mereka melimpah it’s good. Tapi mungkin kondisi aku berbeda, dan itu enggak masalah. Aku tahu setiap orang dan journey-nya berbeda.

Sebagai wanita metropolitan, bagaimana Aline membayangkan tinggal di Papua New Guinea dan membesarkan Jason di sana?

Aku merasa beruntung sekali tinggal di Port Moresby, PNG. Kebanyakan ibu di sana datang dari background dan etnis berbeda. Ini membuat pola pikirku jadi luas banget. Bagi mereka banyak ilmu parenting di Indonesia yang nyatanya tidak “seribet” itu. “We are so relax here,” kata mereka. Jadi dalam mengasuh anak pun rasanya aku tidak akan terpaku atau terlalu mengadopsi satu ilmu parenting saja.

Mereka masih bisa melakukan segala hal sendiri sambil tetap menjaga anak-anak. Membesarkan tiga anak tanpa asisten rumah tangga atau nanny adalah hal biasa di sana. Dengan melihat ini, aku juga jadi merasa jauh lebih relaks. Jadi, mereka benchmark aku dalam menjalani motherhood atau solo parenting bersama suamiku.

Soal membesarkan Jason di sini, aku juga tidak ada kekhawatiran. Meski di PNG segalanya sangat terbatas, tapi aku melihat ini adalah “rumah” yang tepat untuk membesarkan anakku, paling tidak sampai dia usia sekolah dasar ya. Sorry to say, di sini anak-anak tidak konsumtif seperti kecenderungan anak-anak di Jakarta, misalnya harus pakai tumbler merek tertentu atau turun dari mobil apa ketika sampai sekolah. PNG itu negara yang biasa banget. Anak-anak lokal di sini bisa pergi sekolah pakai sepatu saja (tanpa melihat merek) sudah bersyukur. Jadi, harapannya anak kita nanti bisa lebih humble atau grounded ya. So I’m really happy and excited to raise the kids there.

Selain itu, karena tempat hiburan anak di sini tidak banyak, jadi kegiatan yang mereka lakukan nanti tentu akan lebih banyak di outdoor, misalnya camping, piknik, main ke sungai atau tracking. Jadi, sepertinya ini cocok banget dengan personality aku dan suami untuk membesarkan Jason di sini.

I’m really happy and excited to raise the kids here (in Papua New Guinea). Di sini anak-anaknya tidak konsumtif dan harapannya nanti anakku bisa lebih humble dan grounded.

Apa kunci keharmonisan rumah tangga Aline dengan suami?

Komunikasi adalah kunci segalanya, karena aku dan suami long distance, Indonesia - Papua New Guinea, kan. Untungnya dari awal komunikasi kita baik. Kita juga menerapkan beberapa rules. Misalnya setelah dua minggu atau satu bulan tidak bertemu, kita harus menghabiskan waktu berdua dulu as a couple. Like, we have to have our own me time. Jadi sebagai pasangan kita harus reconnect dulu setelah berjauhan cukup lama. Sehabis itu baru mungkin kita bisa bertemu dengan keluarga atau teman-teman lain.

Setelah menjadi seorang ibu, apakah ini membuat Aline merasa sudah menjadi wanita seutuhnya?

I never feel less before I have kids. Again, karena aku tidak pernah terpengaruh atau tertekan akan apa pun secara sosial. Punya anak itu memang keinginanku sejak lama. Tapi, bukan berarti membuat aku merasa belum jadi wanita seutuhnya ketika sampai 40-an tahun kemarin aku belum punya anak. Karena aku berpikirnya mungkin kemarin memang belum waktunya aku dikaruniai anak. Nah, setelah punya anak, I feel complete. But I never feel less as woman dari sebelum aku punya anak.

Setelah punya anak, I feel complete, but I never feel less as woman dari sebelum aku punya anak.

(MB/VN/RF/Foto: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang/Fashion Stylist: Vonda Nabilla/MUA: Aksis Mipi (@aksismipi_mua)/Hairstylist: Jefri (@jefri_hairdo)/Wardrobe Aline Adita: The Story Of (@_thestoryof_) & LOOKBOUTIQUESTORE (@lookboutiquestore), Wardrobe Jason Midgley: Dear GG (@dearggofficial))