Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Haid di tengah bulan Ramadan adalah hal yang wajar dialami setiap perempuan. Namun, bagi banyak perempuan muslim, momen ini sering kali menimbulkan pertanyaan yang mengganjal: Bagaimana cara mengganti puasa yang tertinggal? Kapan harus membaca niat mengganti puasa Ramadan karena haid?
Tenang, Moms, Anda tidak sendirian. Banyak perempuan yang merasakan hal yang sama—sedikit bingung, sedikit khawatir, tetapi tetap ingin menjalankan kewajiban agama dengan sebaik mungkin. Berikut ini penjelasan lengkapnya.
Puasa tiba-tiba haid, apakah batal?
Jawabannya: Ya, puasa menjadi batal ketika haid datang, meskipun haid tersebut baru muncul menjelang waktu berbuka sekalipun.
Dalam Islam, haid termasuk salah satu hal yang membatalkan puasa secara otomatis, bukan karena kesengajaan, melainkan karena kondisi fisik yang memang menghalangi sahnya ibadah puasa.
Selain membatalkan puasa, haid juga menjadi penghalang (mani') bagi perempuan untuk berpuasa. Artinya, selama masa haid, perempuan memang tidak diperbolehkan berpuasa—bukan hanya tidak sah, tetapi dilarang. Jika dipaksakan, puasanya tidak akan diterima.
Baca juga: Apakah Keputihan Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya Berikut Ini!
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Perempuan yang haid di bulan Ramadan wajib mengqada (mengganti) puasanya di hari lain setelah Ramadan berakhir. Kewajiban ini disebutkan langsung dalam Al-Qur'an surah al-Baqarah ayat 185, yang menjelaskan bahwa siapa pun yang sakit atau dalam perjalanan—dan dalam hal ini, para ulama juga memasukkan perempuan haid—maka ia wajib mengganti puasanya di hari-hari lain.
Jadi, tidak perlu merasa bersalah atau tertinggal. Yang perlu dilakukan adalah mencatat berapa hari puasa yang ditinggalkan, lalu menggantinya satu per satu setelah Ramadan.
Apa bacaan niat mengganti puasa Ramadan karena haid?
Mengganti puasa Ramadan yang tertinggal karena haid disebut mengqada puasa. Hukumnya wajib, dan harus dilakukan sebelum Ramadan berikutnya tiba.
Niat qada puasa Ramadan dibaca dengan tulus di dalam hati, tetapi dianjurkan juga untuk dilafalkan agar lebih mantap. Berikut ini bacaan niatnya.
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaa'i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta'aalaa.
Artinya: Aku berniat puasa esok hari untuk mengganti fardu Ramadan karena Allah Ta'ala.
Niat ini dibaca sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Jika Anda meninggalkan puasa selama 5 hari karena haid, maka Anda perlu menggantinya sebanyak 5 hari pula.
Baca juga: Jangan Salah Waktu! Ini Hari yang Dilarang untuk Mengganti Puasa Ramadan
Apakah ada urutan khusus dalam mengganti puasa?
Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa qada boleh dilakukan tidak berurutan. Artinya, Moms bisa menggantinya hari demi hari di waktu yang berbeda-beda, selama masih sebelum Ramadan tahun berikutnya.
Namun, sebagian ulama menganjurkan agar puasa qada diselesaikan lebih awal—jangan sampai terlalu mepet dengan Ramadan berikutnya. Ini bukan sekadar soal kewajiban, tapi juga soal ketenangan hati sebagai seorang muslimah yang ingin menuntaskan tanggung jawabnya.
Niat Mengqada puasa dibaca kapan?
Ini adalah pertanyaan yang sering membuat bingung. Jawabannya: niat qada puasa dibaca pada malam hari, sebelum waktu fajar (subuh) tiba. Hal ini berbeda dengan puasa sunah yang boleh diniatkan pada pagi hari sebelum zawal (sebelum masuk waktu zuhur), selama belum makan atau minum sejak subuh. Untuk puasa wajib—termasuk qada Ramadan—niat harus dilakukan sebelum waktu fajar.
Tips mengganti puasa Ramadan untuk Anda yang sibuk
Mengganti puasa memang terasa lebih berat karena tidak ada “suasana Ramadan” yang mendukung. Namun, dengan sedikit perencanaan, ini bisa dilakukan dengan lebih ringan, yakni:
1. Catat jumlah hari yang perlu diganti segera setelah Ramadan selesai, agar tidak lupa.
2. Pilih hari yang tidak terlalu padat, misalnya hari libur atau akhir pekan.
3. Ajak suami atau teman untuk qada bersama, agar lebih semangat dan saling mengingatkan.
4. Selesaikan sebelum bulan Syakban, karena menunda hingga menjelang Ramadan berikutnya makruh hukumnya jika tidak ada uzur.
5. Niatkan malam sebelumnya agar puasa sah dan tidak perlu diulang.
Mengganti puasa Ramadan karena haid adalah kewajiban yang Allah berikan dengan penuh kasih sayang—bukan beban, melainkan kesempatan untuk menyempurnakan ibadah. Dengan memahami bacaan niat, waktu yang tepat, serta hukum puasa yang batal karena haid, Moms kini bisa menjalani qada dengan lebih tenang dan percaya diri.
Ingat, setiap hari yang Anda ganti adalah bukti komitmen Anda sebagai seorang muslimah. Mulailah dari niat yang tulus dan selesaikan dengan penuh keikhlasan, Moms. (MB/SW/Foto: Rawpixel.com/Freepik)