Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Apakah Keputihan Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya Berikut Ini!

Apakah Keputihan Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya Berikut Ini!

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Banyak hal yang bisa membatalkan puasa, salah satunya adalah keluarnya darah haid. Lantas, bagaimana dengan keputihan? Apakah keputihan juga bisa membatalkan puasa?

Masalah keputihan kerap dialami wanita. Meski tergolong normal, kondisi ini sering memicu keraguan, “Apakah puasa tetap sah jika keluar cairan keputihan?” atau “Bagaimana cara menjaga kebersihan area vagina saat keputihan agar ibadah tetap diterima?”. Untuk mengetahuinya, simak penjelasan lengkapnya berikut ini, Moms!

Apakah keputihan membatalkan puasa?

Secara umum, puasa batal jika ada sesuatu yang masuk ke dalam lubang tubuh secara sengaja, atau keluarnya cairan sperma (mani) akibat syahwat.

Lantas, bagaimana dengan keputihan? Para ulama sepakat bahwa keputihan (cairan vagina yang keluar secara alami dan bukan karena rangsangan seksual) tidak membatalkan puasa.

Cairan keputihan ini berbeda dengan darah haid atau nifas yang secara mutlak membatalkan puasa. Keputihan dianggap sebagai kondisi fisik biasa, seperti halnya keringat atau cairan tubuh lainnya. Jadi, jika Moms merasakan area kewanitaan terasa lembap atau keluar cairan bening atau putih di siang hari saat Ramadan, Anda tidak perlu membatalkan puasa.

Baca juga: Keputihan Tanda Hamil, Ini Bedanya dengan Keputihan Biasa

Perbedaan keputihan dan cairan lainnya

Penting bagi Moms untuk bisa membedakan jenis cairan yang keluar agar tidak ragu, yakni:

  • Keputihan (ruthubah): Cairan bening atau putih, keluar tanpa syahwat. Hukumnya tidak membatalkan puasa.
  • Mani: Cairan yang keluar saat puncak syahwat (orgasme). Hukumnya membatalkan puasa jika keluar karena sentuhan atau masturbasi.
  • Madzi: Cairan bening dan lengket yang keluar saat awal syahwat. Hukumnya tidak membatalkan puasa, tetapi najis dan membatalkan wudu.

Apakah kalau lagi keputihan boleh puasa?

Jawabannya adalah: boleh! Bahkan wajib jika Moms memenuhi syarat puasa lainnya, seperti tidak sedang haid atau nifas.

Keputihan bukanlah penghalang bagi seorang wanita untuk menjalani ibadah puasa. Jangan sampai Moms meninggalkan puasa hanya karena merasa "kotor" akibat keputihan yang berlebih. Selama cairan tersebut bukan darah haid, kewajiban berpuasa tetap ada.

Namun, ada aspek kesehatan yang perlu Anda perhatikan. Jika keputihan yang keluar disertai rasa gatal yang hebat, bau yang tidak sedap, atau berwarna kekuningan hingga kehijauan, ini bisa jadi tanda infeksi jamur atau bakteri. Dalam kondisi ini, puasa tetap jalan, tetapi Moms sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter guna penanganan lebih lanjut agar aktivitas ibadah tidak terganggu oleh rasa tidak nyaman.

Baca juga: Cara Mengatasi Keputihan Berwarna Kuning yang Tepat

Apakah keputihan sah untuk salat?

Nah, di sinilah perbedaan hukum antara puasa dan salat, Moms. Jika keputihan tidak membatalkan puasa, lain halnya dengan wudu dan salat.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa cairan keputihan yang keluar dari organ intim wanita hukumnya adalah membatalkan wudu. Ini dikiyaskan (disamakan) dengan keluarnya angin atau air seni. Status cairan keputihan itu sendiri diperdebatkan kesuciannya, tetapi pendapat yang paling aman (ihtiyat) untuk diikuti adalah menganggapnya sebagai benda najis yang harus dibersihkan sebelum salat.

Jadi, jika Moms mengalami keputihan:

1. Salat tidak sah tanpa bersuci: Anda tidak bisa langsung salat dengan kondisi celana dalam basah oleh keputihan.

2. Wajib membersihkan diri: Moms harus membersihkan area kewanitaan (istinja) dan mengganti celana dalam atau pembalut yang terkena cairan tersebut.

3. Wajib mengulang wudu: Setelah bersih, Moms harus mengambil air wudu kembali sebelum mendirikan salat.

Baca juga: Keputihan Putih Susu, Kapan Harus Waspada?

Bagaimana jika keputihan keluar terus-menerus?

Bagi Moms yang mengalami kondisi keputihan patologis (keluar terus-menerus tanpa henti), Islam memberikan keringanan (rukhsah). Kondisi ini mirip dengan istihadah (darah penyakit) atau beser (sering buang air kecil).

Caranya:

  • Bersihkan area kewanitaan setelah waktu salat masuk.
  • Gunakan pembalut atau panty liner untuk menahan cairan.
  • Segera berwudu dan langsung melaksanakan salat tanpa menunda-nunda.
  • Lakukan proses ini setiap kali masuk waktu salat fardu.

Cara membersihkan keputihan saat puasa

Membersihkan diri dari keputihan saat sedang berpuasa memerlukan kehati-hatian ekstra. Moms tentunya tahu bahwa memasukkan sesuatu ke dalam lubang tubuh (rongga) bisa membatalkan puasa. Lalu, bagaimana cara membersihkannya dengan aman? Berikut ini panduan praktis yang bisa Anda terapkan.

1. Basuh bagian luar saja

Saat melakukan istinja (cebok), cukup basuh bagian luar organ intim (zahir). Hindari membersihkan hingga ke bagian dalam liang vagina dengan jari, karena memasukkan jari ke dalam rongga tubuh bisa berisiko membatalkan puasa menurut sebagian ulama fikih. Cukup guyur dengan air bersih dan usap bagian luarnya saja.

2. Keringkan dengan sempurna

Setelah dibasuh, pastikan area tersebut dikeringkan dengan tisu atau handuk bersih. Area yang lembap bisa memicu pertumbuhan jamur yang justru memperparah keputihan. Mengeringkan area ini juga membuat Anda merasa lebih nyaman saat melanjutkan aktivitas puasa.

3. Rutin mengganti celana dalam

Untuk menjaga kesucian saat hendak salat, Moms disarankan membawa persediaan celana dalam bersih atau menggunakan panty liner. Jika Anda merasa keluar keputihan di tengah hari, cukup ganti celana dalam atau panty liner tersebut sebelum berwudu untuk salat Zuhur atau Asar. Ini jauh lebih praktis dan menjamin kesucian pakaian Anda dari najis.

4. Hindari sabun pembersih kewanitaan yang keras

Saat puasa, tubuh kita mengalami detoksifikasi alami. Penggunaan sabun pembersih dengan pewangi yang kuat bisa mengganggu keseimbangan pH alami vagina. Cukup gunakan air bersih yang mengalir. Jika memang perlu sabun, pilihlah yang memiliki pH seimbang dan diformulasikan khusus untuk kulit sensitif.

Memahami hukum fikih seputar kewanitaan memang sangat penting agar Anda tidak dihantui rasa was-was. Intinya, Moms tidak perlu khawatir berlebihan. Keputihan adalah hal alami yang tidak membatalkan puasa. Kuncinya hanya ada pada kebersihan diri saat hendak melaksanakan salat. Dengan menjaga kebersihan dan memahami aturannya, Anda bisa menjalani ibadah Ramadan dengan lebih khusyuk. (MB/AY/WR/Foto: Freepik)