Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Mata bayi yang baru lahir sangat sensitif dan rentan terhadap berbagai kondisi yang membutuhkan perhatian khusus. Sebagai orang tua, wajar sekali jika Moms merasa khawatir saat melihat mata Si Kecil terlihat merah, berair, atau mengeluarkan kotoran. Namun, mungkin saja Anda bertanya-tanya, “Apakah salep mata aman untuk bayi dan kapan penggunaannya diperlukan?”
Nah, berikut ini penjelasan lengkap mengenai salep mata untuk bayi, mulai dari kondisi medis yang membuat salep mata diperlukan, jenis salep yang aman digunakan, hingga cara pemakaiannya yang tepat. Simak ya, Moms!
Bolehkah bayi memakai salep mata?
Jawabannya adalah ya. Bayi boleh memakai salep mata, tetapi harus atas rekomendasi dan pengawasan dokter. Ini bukan produk yang boleh dibeli dan digunakan begitu saja tanpa konsultasi medis terlebih dahulu.
Mata bayi, terutama yang baru lahir, memiliki struktur yang masih sangat berkembang dan jauh lebih sensitif dibandingkan mata orang dewasa. Penggunaan salep mata yang tidak tepat—baik dari segi jenis maupun dosisnya—dapat menyebabkan iritasi atau bahkan memperburuk kondisi yang sudah ada.
Kapan salep mata boleh diberikan kepada bayi?
Dokter biasanya akan meresepkan salep mata untuk bayi dalam situasi-situasi berikut:
1. Infeksi bakteri pada mata: Seperti konjungtivitis bakterial (mata merah akibat bakteri).
2. Profilaksis pada bayi baru lahir: Pemberian salep mata segera setelah lahir untuk mencegah infeksi dari bakteri tertentu.
3. Penyumbatan saluran air mata: Dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan salep untuk membantu mengatasi infeksi sekunder akibat kondisi ini.
Yang terpenting, jangan pernah menggunakan salep mata yang diperuntukkan bagi orang dewasa pada bayi, meskipun kandungannya terlihat serupa. Dosis dan formulasi untuk bayi sangat berbeda, dan keputusan ini harus selalu ada di tangan tenaga medis.
Mengapa bayi diberi salep mata?
Ada beberapa alasan dokter meresepkan salep mata untuk bayi, yakni:
1. Profilaksis pada bayi baru lahir
Di banyak rumah sakit, pemberian salep mata pada bayi baru lahir sudah menjadi prosedur standar. Tujuannya adalah untuk mencegah infeksi mata yang bisa ditularkan selama proses persalinan, khususnya dari bakteri Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis.
Infeksi ini, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan kebutaan permanen. Salep yang paling umum digunakan untuk keperluan ini adalah salep antibiotik eritromisin 0,5%.
2. Konjungtivitis pada bayi (mata merah)
Konjungtivitis atau radang selaput mata adalah kondisi yang cukup umum terjadi pada bayi. Gejalanya meliputi mata merah, berair berlebihan, serta adanya kotoran atau lendir di sudut mata.
Konjungtivitis pada bayi bisa disebabkan oleh:
- Bakteri: Biasanya ditandai dengan kotoran mata berwarna kuning atau hijau yang kental
- Virus: Lebih sering disertai gejala pilek atau flu
- Alergi: Ditandai dengan mata berair dan kemerahan tanpa disertai infeksi.
Namun, hanya konjungtivitis bakterial yang memerlukan salep atau tetes mata antibiotik. Untuk jenis virus atau alergi, dokter biasanya hanya merekomendasikan kompres hangat dan pemantauan.
Baca juga: Bayi Sering Mengucek Mata? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
3. Penyumbatan saluran nasolakrimal
Kondisi ini terjadi ketika saluran air mata belum terbuka sepenuhnya—sesuatu yang cukup umum pada bayi di bawah usia satu tahun. Gejalanya berupa mata yang selalu tampak berair dan mudah mengeluarkan kotoran.
Pada banyak kasus, kondisi ini membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan bayi. Namun, jika ada infeksi sekunder yang menyertai, dokter mungkin akan meresepkan salep antibiotik.
Baca juga: 6 Cara Mengobati Mata Bayi Belekan dan Berair
4. Selulitis periorbital
Meski lebih jarang, infeksi pada jaringan di sekitar mata juga bisa terjadi pada bayi. Kondisi ini membutuhkan penanganan segera, dan dalam beberapa kasus, dokter akan meresepkan antibiotik topikal maupun oral.
Apa saja salep mata yang aman untuk bayi?
Salep mata untuk bayi umumnya tergolong dalam dua kategori utama: antibiotik dan non-antibiotik. Pemilihannya tergantung pada jenis dan penyebab kondisi yang dialami.
Salep antibiotik adalah jenis yang paling sering diresepkan untuk bayi. Beberapa di antaranya adalah:
1. Eritromisin 0,5%
Ini adalah salep antibiotik yang paling umum dan banyak digunakan untuk bayi baru lahir sebagai tindakan pencegahan. Eritromisin efektif melawan berbagai bakteri penyebab infeksi mata dan umumnya sangat ditoleransi dengan baik oleh bayi.
2. Kloramfenikol
Salep ini efektif untuk mengatasi konjungtivitis bakterial pada bayi. Namun, penggunaannya harus benar-benar sesuai petunjuk dokter, karena ada risiko efek samping tertentu jika digunakan tidak tepat.
3. Tobramisin
Tobramisin adalah antibiotik golongan aminoglikosida yang kadang diresepkan untuk infeksi mata yang lebih persisten. Penggunaannya pada bayi harus dalam pengawasan ketat dokter spesialis mata atau dokter anak.
4. Asam fusidat
Salep ini sering diresepkan untuk konjungtivitis bakterial dan biasanya tersedia dalam bentuk gel mata. Formulasinya yang lebih lembut membuatnya menjadi salah satu pilihan yang cukup aman untuk bayi.
Yang perlu diperhatikan saat menggunakan salep mata pada bayi
Selain memilih salep yang tepat, cara penggunaannya pun sangat penting. Ini yang perlu Anda perhatikan saat menggunakan salep mata pada bayi, Moms.
1. Cuci tangan sebelum menyentuh area mata bayi. Ini langkah paling dasar tapi sering terlewatkan.
2. Gunakan sesuai dosis yang diresepkan. Jangan menambah atau mengurangi jumlah pemakaian meskipun kondisi mata sudah terlihat membaik.
3. Jangan gunakan salep yang sudah kedaluwarsa. Selalu periksa tanggal kedaluwarsa sebelum menggunakannya.
4. Hindari kontaminasi ujung tube. Jangan biarkan ujung tube menyentuh mata atau permukaan lainnya.
5. Selesaikan seluruh rangkaian pengobatan. Menghentikan antibiotik terlalu cepat bisa menyebabkan infeksi Kembali.
Kapan harus segera ke dokter?
Meskipun banyak kondisi mata pada bayi yang bisa ditangani di rumah dengan panduan dokter, ada beberapa tanda yang mengharuskan Anda segera mencari pertolongan medis, yakni:
- Mata bayi sangat merah dan tampak sangat nyeri.
- Kelopak mata bengkak signifikan atau terasa keras.
- Bayi mengalami demam bersamaan dengan gejala mata.
- Kondisi tidak membaik setelah 2-3 hari pengobatan.
- Ada perubahan pada pupil atau respons mata terhadap cahaya.
Itulah penjelasan mengenai pemberian salep mata untuk bayi. Ingat, salep mata untuk bayi hanya boleh digunakan atas rekomendasi dokter, dan ketika sudah diresepkan, pastikan penggunaannya sesuai petunjuk hingga tuntas ya, Moms. (MB/SW/Foto: Jcomp/Freepik)