Type Keyword(s) to Search
BABY

Bruntusan pada Bayi: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Bruntusan pada Bayi: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Duh, kulit mulus Si Kecil tiba-tiba dipenuhi bintik-bintik seperti bruntusan. Kenapa ya bisa terjadi bruntusan pada bayi? Apakah berbahaya? Yuk Moms, cari tahu lebih lengkap soal bruntusan pada bayi biar tidak worries lagi.

Bruntusan pada bayi adalah salah satu kondisi kulit yang paling sering ditemui dalam beberapa minggu atau bulan pertama kehidupan. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), sebagian besar masalah kulit pada bayi baru lahir bersifat sementara dan tidak memerlukan penanganan medis khusus. Namun, kemampuan orang tua untuk membedakan bruntusan normal dan yang perlu diwaspadai sangatlah penting.

Mengenal penyebab bruntusan pada bayi dan kapan perlu khawatir

Kulit bayi sangat berbeda dengan kulit orang dewasa. Lapisan pelindungnya (skin barrier) belum sepenuhnya matang, sehingga lebih rentan terhadap iritasi, perubahan suhu, dan paparan zat tertentu. Inilah mengapa bruntusan bisa muncul bahkan tanpa pemicu yang jelas.

Apa saja penyebab bruntusan paling umum pada bayi?

Beberapa penyebab bruntusan yang paling sering ditemui antara lain:

  • Milia: Bintik putih kecil akibat penumpukan sel kulit mati di pori-pori. Sangat umum pada bayi baru lahir dan biasanya hilang dalam 2–4 minggu tanpa perawatan khusus.
  • Biang keringat (miliaria): Muncul saat kelenjar keringat bayi tersumbat, terutama di cuaca panas atau ketika bayi memakai pakaian yang terlalu tebal. Berbentuk bintik merah kecil, biasanya di leher, dada, atau punggung.
  • Jerawat bayi (neonatal acne): Dipicu oleh hormon ibu yang masih berada dalam tubuh bayi setelah lahir. Umumnya muncul di wajah pada usia 2–4 minggu dan mereda sendiri dalam 1–3 bulan.
  • Dermatitis seboroik: Kondisi kulit berminyak dan bersisik yang bisa muncul di kepala (cradle cap), wajah, atau lipatan kulit bayi.

Kapan bruntusan pada bayi perlu dikhawatirkan?

Meskipun sebagian besar bruntusan tidak berbahaya, ada beberapa tanda yang harus segera mendapatkan perhatian medis:

  • Bruntusan disertai demam tinggi (di atas 38°C pada bayi di bawah 3 bulan)
  • Muncul nanah atau cairan kuning dari bintik-bintik tersebut
  • Bayi terlihat rewel berlebihan, tidak mau makan, atau tampak lemas
  • Bruntusan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh
  • Kulit di sekitar bruntusan terasa panas dan bengkak.

Moms, jika salah satu dari tanda-tanda di atas muncul, jangan tunda untuk menghubungi dokter anak Anda.

Baca juga: Ini Cara Menghilangkan Biang Keringat pada Bayi Anda

Perbedaan bruntusan normal dengan ruam alergi atau infeksi pada bayi

Tidak semua bruntusan itu sama. Membedakan antara bruntusan normal, ruam alergi, dan infeksi adalah keterampilan penting yang perlu dimiliki setiap orang tua.

Bagaimana cara membedakan bruntusan normal dan ruam alergi pada bayi?

Bruntusan normal biasanya:

  • Muncul tanpa pemicu yang jelas
  • Tidak disertai rasa gatal yang berlebihan (bayi tidak terlihat menggaruk)
  • Tidak memburuk setelah beberapa hari
  • Tidak memengaruhi aktivitas atau nafsu makan bayi.

Ruam alergi cenderung:

  • Muncul setelah kontak dengan zat tertentu, seperti deterjen baru, sabun, atau makanan (jika bayi sudah MPASI)
  • Berbentuk bilur merah (hives) atau bercak merah yang terasa gatal
  • Seringkali muncul di area yang terkena kontak langsung
  • Bisa disertai mata berair atau hidung berair pada kasus alergi yang lebih serius

Ruam infeksi, seperti yang disebabkan oleh bakteri atau virus, biasanya:

  • Disertai gejala sistemik seperti demam
  • Bintik berisi cairan atau nanah
  • Terasa nyeri saat disentuh
  • Tidak membaik atau justru memburuk dalam 24–48 jam.

Baca juga: Bintik Bernanah pada Kulit Bayi, Begini Cara Tepat Mengatasinya

Cara mengatasi bruntusan pada bayi dengan perawatan sederhana di rumah

Kabar baiknya, sebagian besar bruntusan pada bayi bisa diatasi dengan perawatan ringan di rumah. Tidak diperlukan obat-obatan khusus atau penanganan medis yang rumit.

Apa yang sebaiknya dilakukan dan dihindari saat mengatasi bruntusan bayi di rumah?

Yang perlu dilakukan:

  • Jaga kebersihan kulit bayi dengan mandi dua kali sehari menggunakan air hangat dan sabun bayi berbahan lembut, bebas pewangi, dan hypoallergenic.
  • Keringkan kulit dengan lembut menggunakan handuk bersih. Hindari menggosok, cukup tepuk-tepuk perlahan.
  • Kenakan pakaian berbahan katun yang longgar dan menyerap keringat, terutama di cuaca panas.
  • Pastikan suhu ruangan nyaman dan tidak terlalu panas agar keringat tidak menyumbat pori-pori bayi.

Yang perlu dihindari:

  • Memencet atau menggaruk bruntusan, karena bisa menyebabkan infeksi sekunder.
  • Menggunakan losion atau krim tebal yang bisa menyumbat pori-pori dan memperparah bruntusan.
  • Mengoleskan produk dewasa seperti bedak tabur berbahan talc, yang bisa berbahaya jika terhirup oleh bayi.
  • Membungkus bayi terlalu ketat dalam lapisan pakaian yang berlebihan.

Langkah-langkah merawat kulit bayi bruntusan agar cepat sembuh

Konsistensi adalah kunci dalam merawat kulit bayi yang sedang bruntusan. Rutinitas perawatan yang tepat dan teratur akan membantu kulit Si Kecil pulih lebih cepat.

Bagaimana rutinitas perawatan kulit harian yang tepat untuk bayi dengan bruntusan?

Berikut langkah-langkah yang bisa Anda terapkan setiap hari:

  • Pagi hari: Mandikan bayi dengan air hangat (sekitar 37°C). Gunakan sabun bayi yang lembut dan bilas hingga bersih. Keringkan dengan menepuk-nepuk menggunakan handuk lembut.
  • Setelah mandi: Jika diperlukan, oles tipis pelembap bebas pewangi yang diformulasikan untuk kulit bayi. Hindari area yang sedang mengalami bruntusan jika kondisinya memburuk saat diberi pelembap.
  • Siang hari: Periksa apakah bayi berkeringat berlebihan. Jika ya, ganti pakaiannya dan bersihkan area yang lembap dengan kain lembut yang sudah dibasahi air bersih.
  • Malam hari: Pastikan tempat tidur bayi bersih dan terbuat dari bahan yang menyerap keringat. Hindari penggunaan kain sintetis.

Selain perawatan fisik, pastikan Moms juga mencuci semua pakaian dan perlengkapan bayi (seperti selimut dan sprei) menggunakan deterjen khusus bayi yang bebas pewangi dan pelembut pakaian.

Fakta medis tentang hubungan bruntusan dengan hormon dan kelenjar keringat bayi

Memahami apa yang terjadi di balik kulit bayi akan membantu Moms lebih tenang dalam menghadapi bruntusan.

Mengapa hormon ibu bisa menyebabkan bruntusan pada bayi baru lahir?

Selama kehamilan, hormon androgen dari ibu melewati plasenta dan masuk ke dalam aliran darah janin. Setelah lahir, hormon ini masih beredar dalam tubuh bayi dan merangsang kelenjar sebaceous (kelenjar minyak) untuk memproduksi sebum secara berlebihan. Inilah yang memicu munculnya jerawat bayi atau neonatal acne.

Kondisi ini sangat normal dan tidak memerlukan pengobatan. Seiring waktu, biasanya dalam 1 hingga 3 bulan, kadar hormon ibu dalam tubuh bayi akan menurun, dan bruntusan pun akan hilang dengan sendirinya.

Mengapa kelenjar keringat bayi lebih rentan tersumbat dibanding orang dewasa?

Kelenjar ekrin (kelenjar keringat) pada bayi memang sudah aktif sejak lahir, tetapi salurannya masih sangat kecil dan belum matang sepenuhnya. Akibatnya, keringat yang diproduksi lebih mudah terjebak di bawah lapisan kulit dan membentuk bintik-bintik merah kecil yang kita kenal sebagai biang keringat atau miliaria.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Investigative Dermatology, saluran kelenjar keringat pada bayi baru lahir memiliki diameter yang jauh lebih kecil dibandingkan bayi yang lebih tua atau orang dewasa, sehingga risiko tersumbatnya lebih tinggi, terutama saat cuaca panas atau bayi mengenakan pakaian terlalu tebal.

Bruntusan pada bayi memang bisa membuat panik, tetapi sebagian besar kasusnya jauh lebih tidak berbahaya dari yang terlihat. Kulit bayi sedang dalam proses adaptasi dengan dunia luar, dan kadang, proses itu tidak selalu mulus.

Yang terpenting adalah menjaga kebersihan, kenyamanan, dan kelembapan kulit bayi secara konsisten. Hindari produk yang berpotensi mengiritasi, perhatikan tanda-tanda yang memerlukan perhatian medis, dan jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak jika Anda merasa khawatir. (MB/WR/RF/Foto: Freepik)