Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Melihat kulit Si Kecil tiba-tiba melepuh atau berkerak tentu bisa membuat hati seorang ibu langsung cemas. Wajar sekali. Bayi memiliki kulit yang sangat sensitif dan sistem imun yang belum sempurna—dua faktor yang membuat Si Kecil lebih rentan terhadap berbagai infeksi kulit, termasuk suleten pada bayi.
Suleten adalah nama umum yang sering digunakan di Indonesia untuk menyebut infeksi kulit yang dalam dunia medis dikenal sebagai impetigo. Kondisi ini cukup sering terjadi pada bayi dan anak kecil, terutama di daerah dengan iklim panas dan lembap seperti Indonesia.
Apa itu suleten pada bayi dan apakah sama dengan impetigo?
Suleten dan impetigo pada bayi pada dasarnya merujuk pada kondisi yang sama: infeksi bakteri pada lapisan kulit paling luar yang menyebabkan luka, lepuhan, atau kerak di permukaan kulit.
Istilah "suleten" lebih dikenal di kalangan masyarakat awam Indonesia, sementara "impetigo" adalah istilah medis yang digunakan oleh dokter dan tenaga kesehatan. Jadi, ketika dokter mendiagnosis bayi Moms dengan impetigo, itu sama saja dengan suleten yang mungkin sudah Anda kenal.
Infeksi ini paling sering menyerang area wajah—terutama sekitar hidung dan mulut—serta tangan dan kaki. Namun, pada bayi, suleten juga bisa muncul di area popok, lipatan kulit, atau bagian tubuh mana pun yang lembap dan sering bersentuhan dengan permukaan lain.
Yang perlu Moms tahu, suleten sangat menular. Bakteri penyebabnya menyebar dengan mudah melalui sentuhan langsung, berbagi handuk, atau bahkan menyentuh permukaan benda yang sudah terkontaminasi. Itulah sebabnya penting untuk segera mengambil langkah penanganan begitu gejala pertama muncul.
Baca juga: Infeksi Jamur Kulit pada Bayi, Ini Cara Mengobatinya
Ciri impetigo nonbulosa dan impetigo bulosa pada bayi
Ada dua jenis impetigo yang perlu Moms kenali, dan masing-masing memiliki tampilan yang berbeda.
Bagaimana ciri impetigo nonbulosa pada bayi?
Impetigo nonbulosa adalah jenis yang paling umum, mencakup sekitar 70% dari semua kasus impetigo. Ciri-cirinya meliputi:
- Luka kecil menyerupai gigitan serangga yang kemudian pecah
- Muncul cairan bening atau kekuningan yang mengering dan membentuk kerak berwarna madu atau kuning kecokelatan
- Area kulit di sekitar luka tampak kemerahan
- Biasanya tidak terasa nyeri, tapi bisa terasa gatal
- Paling sering muncul di sekitar hidung, mulut, dan telinga.
Bagaimana ciri impetigo bulosa pada bayi?
Impetigo bulosa lebih jarang terjadi, tetapi perlu lebih diwaspadai, terutama pada bayi baru lahir. Ciri khasnya adalah:
- Lepuhan besar berisi cairan bening yang kemudian berubah keruh atau kuning
- Lepuhan mudah pecah dan meninggalkan luka terbuka berwarna kemerahan
- Kulit di sekitar lepuhan tampak lembap dan mengkilap
- Bayi bisa tampak rewel, demam ringan, atau tidak nyaman
- Bisa muncul di area tubuh mana pun, termasuk batang tubuh dan area popok.
Jika Moms melihat lepuhan besar yang muncul tiba-tiba pada bayi baru lahir, segera konsultasikan dengan dokter tanpa menunggu lebih lama.
Baca juga: Cradle Cap Bayi: Penyakit Kulit Serius atau Kondisi Normal?
Penyebab, cara penularan, dan faktor yang memudahkan infeksi
Bakteri apa yang menyebabkan suleten pada bayi?
Suleten disebabkan oleh dua jenis bakteri utama:
- Staphylococcus aureus: Penyebab paling umum dari impetigo bulosa maupun nonbulosa
- Streptococcus pyogenes: Lebih sering dikaitkan dengan impetigo nonbulosa.
Bakteri ini sebenarnya bisa ditemukan di kulit manusia yang sehat. Namun, ketika ada luka kecil—sekecil apa pun—bakteri tersebut bisa masuk dan menyebabkan infeksi. Pada bayi, bahkan gigitan nyamuk atau lecet ringan cukup untuk menjadi "pintu masuk" bagi bakteri.
Bagaimana suleten menular dari satu orang ke orang lain?
Penularan terjadi melalui:
- Kontak langsung dengan luka atau kerak pada kulit yang terinfeksi
- Menyentuh benda yang terkontaminasi, seperti handuk, selimut, atau mainan
- Tangan yang tidak bersih saat memegang bayi
- Bayi sangat berisiko tertular dari anggota keluarga lain yang terinfeksi, termasuk kakaknya yang mungkin baru pulang dari sekolah.
Faktor apa saja yang meningkatkan risiko suleten pada bayi?
Beberapa kondisi yang membuat bayi lebih mudah terinfeksi antara lain:
- Kulit yang lembap terus-menerus, misalnya akibat keringat berlebih atau area popok yang jarang diganti
- Sistem imun yang belum matang, terutama pada bayi di bawah 3 bulan
- Kondisi kulit tertentu seperti eksim atau kulit kering yang rentan lecet
- Lingkungan yang panas dan padat, yang mempercepat penyebaran bakteri
- Kebersihan yang kurang terjaga, baik pada bayi maupun pengasuhnya.
Penanganan dokter dan perawatan kulit di rumah
Obat suleten bayi apa yang biasanya diresepkan dokter?
Penanganan medis untuk suleten pada bayi bergantung pada tingkat keparahan infeksi. Untuk kasus ringan hingga sedang, dokter biasanya meresepkan:
- Salep atau krim antibiotik topikal seperti mupirocin atau asam fusidat, yang dioleskan langsung pada area yang terinfeksi
- Pembersihan luka secara rutin dengan air bersih dan sabun antiseptik ringan sebelum salep dioleskan.
Untuk kasus yang lebih luas atau disertai gejala sistemik (demam, tidak mau menyusu, rewel berlebihan), dokter mungkin akan meresepkan:
- Antibiotik oral seperti amoksisilin-klavulanat atau sefaleksin, sesuai usia dan berat badan bayi
- Pemantauan lebih ketat jika bayi berusia di bawah 3 bulan.
Penting: Jangan memberikan antibiotik apa pun tanpa resep dokter. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa menyebabkan resistensi bakteri yang justru mempersulit pengobatan.
Bagaimana cara merawat suleten bayi di rumah?
Selain mengikuti anjuran dokter, Moms bisa melakukan perawatan pendukung di rumah, yakni:
- Bersihkan area yang terinfeksi dengan lembut menggunakan kapas basah atau kain bersih sebelum mengoleskan obat
- Hindari memecahkan lepuhan secara sengaja, karena bisa memperluas infeksi
- Potong kuku bayi agar tidak melukai kulit saat ia menggaruk
- Ganti pakaian dan seprai secara rutin, dan cuci dengan air panas
- Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah memegang area yang terinfeksi
- Isolasi sementara barang-barang pribadi Si Kecil agar tidak digunakan bersama anggota keluarga lain.
Dengan perawatan yang konsisten, suleten ringan biasanya mulai membaik dalam 7–10 hari.
Tanda bahaya pada bayi baru lahir dan cara mencegah penularan
Kapan suleten pada bayi memerlukan penanganan darurat?
Pada bayi baru lahir, suleten bisa berkembang lebih cepat dan berisiko lebih serius. Segera bawa bayi ke dokter atau IGD jika Moms melihat tanda-tanda berikut:
- Demam (suhu di atas 38 °C pada bayi di bawah 3 bulan)
- Lepuhan yang menyebar dengan cepat dalam hitungan jam
- Bayi tampak lesu, tidak mau menyusu, atau sulit dibangunkan
- Kulit di sekitar luka tampak merah gelap atau ungu, tanda infeksi yang sudah menyebar ke jaringan lebih dalam
- Pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar area yang terinfeksi
- Tanda-tanda sepsis: napas cepat, kulit pucat atau kebiruan, menangis lemah.
Kondisi-kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa infeksi sudah berkembang menjadi komplikasi serius seperti selulitis atau—pada kasus yang sangat jarang—sepsis.
Bagaimana cara mencegah suleten menyebar ke anggota keluarga lain?
Mencegah penularan suleten tidak sulit, tetapi butuh kedisiplinan, yaitu:
- Cuci tangan secara menyeluruh setelah menyentuh area yang terinfeksi
- Hindari berbagi handuk, pakaian, atau seprai dengan bayi yang sedang terinfeksi
- Tutup luka dengan perban bersih saat bayi digendong atau berinteraksi dengan orang lain
- Bersihkan dan disinfeksi permukaan yang sering disentuh bayi, seperti mainan dan alas bermain
- Jika ada anak yang lebih besar di rumah, ajarkan untuk tidak menyentuh luka di kulit adik bayinya
- Bayi yang masih terinfeksi sebaiknya tidak dititipkan ke penitipan anak atau berada di kerumunan hingga luka mengering.
Suleten pada bayi memang terlihat mengkhawatirkan, tapi kabar baiknya adalah kondisi ini sangat bisa ditangani dengan penanganan yang tepat dan cepat. Kunci utamanya ada di tangan Moms: mengenali ciri impetigo pada bayi lebih awal, segera konsultasi ke dokter, dan menjaga kebersihan dengan konsisten di rumah. (MB/SW/Foto: Freepik)
