Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Saat menggendong atau menyusui Si Kecil, Moms mungkin pernah merasakan detak jantungnya yang terasa jauh lebih cepat dibanding detak jantung orang dewasa. Wajar kalau ini bikin khawatir, apalagi kalau Moms baru pertama kali punya bayi.
Tidak ada satu angka pasti yang berlaku untuk semua bayi, karena denyut nadi normal bayi sangat dipengaruhi oleh usia, kondisi saat diukur, hingga aktivitas yang sedang dilakukan Si Kecil. Artikel ini akan membantu Moms memahami rentang nadi yang wajar, penyebab perubahannya, cara mengukur yang benar, serta tanda yang perlu diwaspadai.
Nadi normal sesuai usia bayi
Referensi klinis umumnya tidak memberi satu angka tunggal, melainkan rentang yang berbeda menurut usia bayi dan kondisi saat pengukuran dilakukan, misalnya saat tenang, terjaga, atau sedang tidur. Berikut gambaran umum rentang denyut nadi normal bayi yang bisa jadi acuan awal Moms di rumah.
Karena rentang ini cukup lebar dan bisa berbeda sedikit antar sumber, sebaiknya Moms tidak menjadikan satu angka sebagai patokan mutlak, apalagi kalau nadi hanya diukur sekali dalam kondisi Si Kecil sedang tidak tenang.
Kapan intensitas nadi bayi bisa berubah?
1. Saat tidur
Nadi bayi cenderung melambat karena tubuh sedang dalam kondisi istirahat dan metabolisme menurun dibanding saat aktif bergerak. Penurunannya biasanya sekitar 5-10 bpm dibanding saat Si Kecil terjaga, tergantung fase tidurnya apakah tidur ringan atau tidur lelap. Kondisi ini normal dan justru menunjukkan tubuh Si Kecil sedang beristirahat dengan baik.
2. Saat menangis atau rewel
Nadi bisa melonjak cukup tinggi karena tubuh melepaskan hormon stres dan otot bekerja lebih keras saat menangis kencang. Semakin lama dan semakin kuat tangisannya, biasanya semakin terasa juga kenaikan denyut nadinya untuk sementara waktu. Kondisi ini umumnya kembali normal dalam beberapa menit begitu Si Kecil berhasil ditenangkan dan merasa nyaman kembali.
3. Saat menyusu
Denyut nadi juga bisa sedikit meningkat karena aktivitas mengisap dan menelan yang membutuhkan koordinasi otot serta energi ekstra dari tubuh mungil Si Kecil. Peningkatan ini biasanya ringan dan lebih terasa di awal sesi menyusu saat bayi masih bersemangat mengisap. Begitu bayi mulai rileks dan kenyang, nadinya juga akan berangsur melambat kembali.
4. Saat demam
Setiap kenaikan suhu tubuh biasanya diikuti kenaikan denyut nadi, karena jantung bekerja lebih cepat untuk membantu proses pertahanan tubuh melawan infeksi. Sebagai gambaran umum, banyak referensi klinis menyebut kenaikan sekitar 10 bpm untuk setiap kenaikan suhu tubuh sekitar 1 derajat Celcius. Semakin tinggi suhu tubuhnya, biasanya semakin terasa juga peningkatan nadi yang menyertainya.
Baca juga: Bocor Jantung pada Anak, Kenali Penyebab dan Penanganannya!
Cara mengukur nadi di rumah
1. Pilih waktu saat Si Kecil tenang
Usahakan mengukur saat bayi tidak sedang menangis, baru selesai menyusu, atau baru bangun tidur, agar hasilnya lebih mencerminkan kondisi normalnya. Hindari mengukur tepat setelah bayi digendong berdiri, baru selesai menangis kencang, atau baru dimandikan dengan air hangat. Jika memungkinkan, pilih momen saat bayi sedang berbaring santai atau digendong dengan nyaman.
2. Tempelkan dua jari dengan lembut
Letakkan jari telunjuk dan jari tengah di titik nadi seperti pergelangan tangan bagian dalam, sisi dalam siku, atau samping leher. Tekan perlahan hingga terasa denyutnya, jangan menggunakan ibu jari karena punya denyut sendiri yang bisa mengganggu hasil hitungan. Bagi bayi yang lebih kecil, banyak orang tua merasa lebih mudah merasakan denyut di area dada tepat di bawah puting susu kiri.
3. Hitung selama 15 atau 30 detik
Hitung jumlah denyut yang terasa selama 15 detik lalu kalikan 4, atau selama 30 detik lalu kalikan 2, untuk mendapat perkiraan denyut per menit. Cara ini lebih praktis dibanding menghitung penuh selama satu menit pada bayi yang aktif bergerak dan sulit diam. Gunakan jam atau stopwatch di ponsel agar hitungan waktunya lebih akurat.
4. Ulangi sekali lagi untuk memastikan
Lakukan pengukuran kedua beberapa saat kemudian untuk memastikan hasilnya konsisten dan bukan sekadar fluktuasi sesaat. Jika Moms kesulitan merasakan denyutnya secara manual, meletakkan telapak tangan di dada Si Kecil juga bisa membantu merasakan detak jantungnya. Mencatat hasil pengukuran beserta waktu dan kondisi bayi saat itu juga bisa membantu Moms melihat pola dari waktu ke waktu.
Kondisi sementara yang wajar
Pertanyaan detak jantung bayi normal atau tidak sebenarnya sangat tergantung konteks saat pengukuran dilakukan. Nadi yang masih terasa cepat beberapa saat setelah Si Kecil berhenti menangis atau rewel adalah hal yang wajar, karena tubuh butuh waktu untuk kembali ke kondisi tenang sepenuhnya, dan biasanya akan berangsur melambat begitu Si Kecil merasa nyaman kembali.
Begitu pula bila ruangan terasa panas, pakaian yang dikenakan terlalu tebal, atau Si Kecil sedang demam ringan, nadi yang terasa lebih cepat dari biasanya masih tergolong wajar dan biasanya akan ikut melambat begitu suhu tubuh atau lingkungan kembali sejuk.
Aktivitas fisik juga berperan besar dalam perubahan nadi sementara. Bayi yang baru selesai digendong berdiri, diajak bermain aktif, atau dipijat dengan gerakan cukup kuat wajar memiliki nadi yang sedikit lebih cepat.
Suara keras mendadak, sentuhan yang mengejutkan, atau perubahan posisi yang tiba-tiba juga bisa memicu lonjakan nadi sesaat akibat refleks kaget alami bayi, dan biasanya kembali stabil begitu Si Kecil merasa aman dalam gendongan atau pelukan Moms. Di sisi lain, nadi yang terasa lebih lambat saat Si Kecil tidur pulas, terutama pada fase tidur dalam, umumnya juga bukan tanda bahaya, selama Si Kecil tetap terlihat aktif, menyusu dengan baik, dan responsif saat terjaga.
Yang perlu jadi perhatian adalah ketika nadi tetap sangat cepat atau sangat lambat meski Si Kecil sudah dalam kondisi tenang, tidak demam, tidak habis menangis, dan tidak baru selesai beraktivitas. Kalau kondisi ini terjadi berulang, sebaiknya jangan hanya mengandalkan satu kali pengukuran di rumah sebagai kesimpulan akhir, dan pertimbangkan untuk mendiskusikannya dengan dokter anak.
Tanda yang perlu segera diperiksa
1. Sulit bernapas
Napas yang terlihat sangat cepat, berat, atau disertai tarikan dinding dada yang dalam perlu segera diperiksa. Kondisi ini bisa jadi tanda tubuh Si Kecil sedang kesulitan mendapat cukup oksigen, apalagi jika disertai suara napas yang tidak biasa seperti merintih pelan setiap kali menghembuskan napas. Jangan menunggu kondisi memburuk sebelum membawa Si Kecil ke fasilitas kesehatan terdekat.
2. Warna kulit kebiruan atau pucat
Perhatikan area bibir, ujung jari, atau seluruh tubuh yang tampak lebih pucat atau kebiruan dari biasanya. Perubahan warna ini sering jadi tanda peredaran darah atau kadar oksigen dalam tubuh sedang bermasalah, dan bisa muncul bersamaan dengan tanda lain seperti tubuh yang terasa dingin. Segera periksakan Si Kecil bila perubahan warna ini terlihat jelas dan tidak membaik dalam waktu singkat.
3. Tubuh terlihat sangat lemas
Bayi yang tiba-tiba kurang responsif, sulit dibangunkan, atau terlihat lunglai perlu mendapat perhatian segera. Kondisi ini berbeda dengan kantuk biasa karena biasanya disertai penurunan kesadaran yang jelas dan tidak membaik meski sudah dirangsang dengan lembut. Bila Si Kecil juga tampak tidak merespons suara atau sentuhan seperti biasanya, sebaiknya jangan ditunda untuk memeriksakannya.
4. Sulit menyusu
Bayi yang tiba-tiba menolak menyusu, cepat lelah saat menyusu, atau terengah-engah di tengah menyusu perlu diwaspadai. Ini bisa jadi tanda jantung atau paru-paru Si Kecil sedang bekerja lebih berat dari biasanya, terutama bila disertai keringat berlebih di area kepala saat menyusu. Perubahan pola menyusu yang muncul tiba-tiba dan berlangsung lebih dari satu kali sesi menyusu sebaiknya tidak diabaikan.
5. Nadi tetap tidak normal saat tenang
Bila denyut nadi tetap jauh di luar rentang normal meski Si Kecil sudah tenang, tidak menangis, dan tidak demam, sebaiknya segera periksakan ke dokter anak. Kondisi ini berbeda dengan kenaikan atau penurunan sementara akibat aktivitas, karena tetap bertahan meski tubuh Si Kecil sudah dalam kondisi rileks. Jangan menunggu sampai muncul gejala lain seperti sesak napas atau lemas sebelum memastikan kondisinya ke tenaga medis.
Baca juga: Napas Bayi Mengorok Seperti Ada Dahak? Ini Penyebab dan Solusinya
Memahami rentang denyut nadi normal bayi membantu Moms lebih tenang menghadapi perubahan kecil yang sebenarnya wajar terjadi. Namun, kalau Moms masih ragu atau menemukan tanda-tanda di atas, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter anak demi memastikan kondisi Si Kecil tetap terpantau dengan baik. (MB/RA/RF/Foto: Magnific)
