FAMILY & LIFESTYLE

Jangan Langsung Panik! Ini Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Tidak Berbahaya


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Menemukan benjolan di leher tentu bisa membuat jantung berdebar lebih kencang. Namun, tarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, karena tidak semua benjolan menandakan kondisi medis yang gawat. Ada ciri-ciri benjolan di leher yang tidak berbahaya yang perlu Anda ketahui dan tidak langsung membuat Anda panik, Moms.

Sebenarnya, banyak kasus benjolan di area leher merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang sedang bekerja keras melindungi kita dari penyakit. Melalui artikel ini, kita akan mengenali lebih dekat apa saja ciri-ciri benjolan di leher yang tidak berbahaya, cara membedakannya dengan benjolan yang perlu diwaspadai, hingga langkah penanganan yang bisa dilakukan di rumah. Simak ya, Moms!

Ciri-ciri benjolan di leher yang tidak berbahaya

Langkah pertama untuk meredakan kecemasan adalah dengan menyentuh dan mengamati benjolan tersebut secara perlahan. Benjolan yang bersifat jinak atau tidak berbahaya biasanya memiliki beberapa karakteristik khas yang bisa Anda kenali dengan mudah di rumah, Moms.

Pertama, benjolan umumnya terasa lunak atau kenyal saat disentuh, mirip dengan tekstur kacang yang terbungkus kulit. Selain itu, benjolan ini biasanya mudah digerakkan atau bergeser sedikit ketika Anda menekannya dengan lembut. Ukurannya pun cenderung stabil, atau jika membesar, prosesnya terjadi dengan sangat lambat.

Dalam beberapa kasus, benjolan mungkin terasa sedikit nyeri atau sensitif saat disentuh, terutama jika muncul bersamaan dengan batuk, pilek, atau radang tenggorokan. Rasa nyeri ini justru sering kali menjadi pertanda baik bahwa kelenjar getah bening sedang aktif melawan infeksi ringan.

Baca juga: Meregangkan Leher Sampai Berbunyi "Krek", Bahayakah?

Perbedaan benjolan di leher berbahaya dan tidak berbahaya

Mengetahui perbedaan antara benjolan yang aman dan yang memerlukan perhatian medis ekstra sangat penting untuk Anda. Benjolan yang jinak umumnya memiliki batas yang jelas, tekstur yang lunak, dan perlahan akan menyusut seiring dengan membaiknya kondisi tubuh, misalnya setelah sembuh dari flu.

Di sisi lain, benjolan yang berpotensi berbahaya biasanya terasa sangat keras saat diraba, seolah menyatu dengan jaringan di sekitarnya sehingga sulit digerakkan. Ukurannya bisa bertambah besar dalam waktu yang relatif singkat.

Selain itu, benjolan yang berbahaya sering kali tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali, tetapi disertai dengan keluhan kesehatan lain secara menyeluruh. Keluhan tambahan ini bisa berupa penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab, demam berkepanjangan, suara serak yang tidak kunjung hilang, hingga keringat berlebih di malam hari.

Baca juga: Penyebab Benjolan di Leher yang Perlu Diwaspadai

Penyebab benjolan di leher yang bersifat jinak

Ada banyak alasan mengapa benjolan jinak bisa muncul. Beberapa di antaranya adalah:

1. Pembengkakan kelenjar getah bening

Ini adalah penyebab yang paling sering terjadi. Kelenjar getah bening berfungsi sebagai garda terdepan sistem kekebalan tubuh. Ketika Anda mengalami infeksi saluran pernapasan, radang amandel, infeksi telinga, atau bahkan masalah gigi, kelenjar ini akan membengkak untuk menjebak virus atau bakteri.

2. Lipoma

Lipoma adalah benjolan lemak yang tumbuh secara perlahan di bawah kulit. Kondisi ini sangat umum, sama sekali tidak bersifat kanker, dan jarang menimbulkan rasa sakit. Lipoma biasanya terasa sangat lunak dan mudah digerakkan.

3. Kista

Kista adalah kantong tertutup di bawah kulit yang biasanya berisi cairan. Di area leher, kista sering kali merupakan bawaan lahir atau akibat penyumbatan kelenjar minyak. Kista umumnya tidak berbahaya, kecuali jika terinfeksi yang membuatnya menjadi kemerahan dan nyeri.

4. Pembesaran tiroid ringan

Terkadang, kelenjar tiroid yang terletak di bagian depan leher dapat sedikit membesar akibat kekurangan yodium atau fluktuasi hormon. Selama tidak mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan, kondisi ini sering kali bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup dan pola makan yang lebih sehat.

Kapan harus memeriksakan benjolan di leher ke dokter?

Meskipun sebagian besar benjolan tidak berbahaya, Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika menemukan tanda-tanda berikut ini, Moms.

  • Benjolan tidak kunjung mengecil atau hilang setelah 2-3 minggu.
  • Benjolan terasa sangat keras, kaku, dan tidak bisa digeser saat disentuh.
  • Ukurannya terus membesar dengan cepat.
  • Anda kesulitan saat menelan makanan atau saat bernapas.
  • Disertai demam tinggi, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, atau rasa lelah yang sangat ekstrem.

Cara mengatasi benjolan di leher yang tidak berbahaya

Jika dokter telah memastikan bahwa benjolan tersebut aman, ada beberapa langkah perawatan yang bisa Anda lakukan di rumah untuk mempercepat pemulihan dan memberikan kenyamanan, yakni:

1. Berikan kompres hangat

Gunakan handuk bersih yang telah direndam air hangat, lalu tempelkan dengan lembut pada area leher yang benjol selama 10-15 menit. Suhu hangat akan membantu melancarkan sirkulasi darah, mengurangi rasa nyeri, dan mengempiskan pembengkakan akibat infeksi.

2. Penuhi kebutuhan istirahat dan cairan

Kunci utama dari penyembuhan alami adalah sistem kekebalan tubuh yang kuat. Pastikan Anda mendapatkan tidur yang cukup. Berikan banyak cairan hangat seperti air putih, kaldu tulang, atau teh herbal dengan madu untuk menenangkan tenggorokan dan membantu tubuh melawan infeksi.

3. Perhatikan asupan nutrisi

Konsumsi makanan kaya vitamin C dan antioksidan. Buah-buahan segar, sayuran hijau, dan protein tanpa lemak sangat efektif untuk mendukung pemulihan tubuh secara menyeluruh. Hindari memencet atau memijat benjolan terlalu keras karena justru dapat memicu peradangan baru.

Berbekal pemahaman dan pengetahuan yang tepat tentang ciri-ciri benjolan di leher yang tidak berbahaya, Anda kini tak perlu langsung panik saat mendapati adanya benjolan di leher ya, Moms. Namun, jika Anda merasa ada sesuatu yang kurang tepat, berkonsultasi dengan ahli medis adalah pilihan terbaik. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)