Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Salah satu kekhawatiran yang sering dirasakan oleh banyak orang tua adalah risiko autisme pada anak. Autisme umumnya mulai terdeteksi pada bayi sejak usia 6-12 bulan. Namun, Moms perlu mengetahui ciri-ciri autisme pada bayi sedini mungkin sehingga bisa segera mendapatkan intervensi yang dibutuhkan. Pasalnya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa intervensi dini dapat memberikan hasil lebih baik pada Si Kecil.
Untuk itu, yuk, simak bersama-sama penjelasan mengenai ciri-ciri autisme pada bayi, agar Anda bisa mengenali tanda-tanda perkembangan anak dengan hati yang tenang dan memahami kebutuhan Si Kecil.
Ciri-ciri autis pada bayi usia dini
Mendeteksi ciri-ciri autis pada bayi memang butuh kepekaan ekstra. Pada usia dini, tanda-tanda ini sering kali sangat halus dan berkaitan erat dengan cara bayi berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Bayi yang berkembang secara tipikal biasanya sangat tertarik pada wajah manusia dan suara orang tuanya.
Salah satu tanda awal yang bisa diperhatikan adalah kurangnya kontak mata. Bayi yang berisiko autis mungkin jarang menatap mata Anda saat disusui atau diajak bermain. Selain itu, Si Kecil mungkin tidak merespons saat namanya dipanggil, meskipun pendengarannya berfungsi dengan baik.
Perkembangan komunikasi juga menjadi fokus utama. Keterlambatan dalam berceloteh (babbling) atau tidak adanya usaha untuk menunjuk benda yang ia inginkan bisa menjadi petunjuk awal. Bayi pada umumnya menggunakan gestur tubuh untuk terhubung dengan ibunya, sementara bayi dengan spektrum autisme mungkin terlihat lebih asyik dengan dunianya sendiri.
Baca juga: Mengenali Tanda-Tanda Autisme pada Balita Sejak Dini
Tanda-tanda awal autisme pada bayi 6 bulan
Memasuki usia 6 bulan, interaksi sosial Si Kecil biasanya makin kaya. Tanda-tanda awal autisme pada bayi 6 bulan dapat terlihat dari bagaimana bayi merespons perhatian. Pada usia ini, kita biasanya menantikan tawa riang dan senyum lebar yang membalas candaan kita.
Bayi dengan risiko autisme mungkin jarang atau bahkan tidak pernah menunjukkan senyum hangat dan ekspresi bahagia. Ia mungkin terlihat datar atau kurang ekspresif saat diajak bermain cilukba. Tanda lainnya adalah kurangnya ketertarikan untuk mengikuti gerak benda atau orang di sekitarnya dengan tatapan mata.
Baca juga: Solusi Mencegah Autisme pada Anak Sejak Masa Kehamilan
Beda perkembangan bayi normal dan berisiko autis
Memahami perbedaan antara perkembangan bayi yang normal dan yang berisiko autis dapat membantu mengurangi kecemasan Anda. Bayi yang berkembang sesuai usianya memiliki dorongan alami untuk terhubung secara emosional. Si Kecil akan meniru ekspresi wajah, menoleh pada sumber suara, dan mencari perhatian Anda melalui tangisan atau celoteh.
Sebaliknya, bayi yang berisiko autis mungkin menunjukkan respons yang berbeda terhadap stimulus sensorik. Ia bisa sangat sensitif terhadap suara tertentu atau justru terlihat tidak terganggu oleh suara keras sama sekali. Dalam hal bermain, bayi normal akan mencoba melibatkan Anda, sedangkan anak dengan autisme cenderung fokus berlebihan pada satu bagian mainan, seperti terus-menerus memutar roda mobil-mobilan tanpa henti.
Perbedaan ini merupakan cara otak bayi memproses dunia di sekitarnya berjalan dengan cara yang unik. Mengenali perbedaan ini akan bisa membantu kita menyesuaikan cara berkomunikasi agar lebih mudah dipahaminya.
Screening autis pada bayi yang perlu dilakukan
Jika Moms melihat beberapa tanda yang membuat Anda ragu, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan ahli. Screening autis pada bayi adalah prosedur standar yang sangat disarankan untuk memastikan kondisi bayi. Biasanya, dokter anak akan melakukan evaluasi perkembangan rutin pada usia 9, 18, dan 24 bulan.
Salah satu alat deteksi dini yang sering digunakan di seluruh dunia adalah M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers). Kuesioner ini dirancang khusus untuk anak usia 16 hingga 30 bulan. Dokter akan menanyakan serangkaian pertanyaan tentang kebiasaan, interaksi, dan respons anak Anda sehari-hari.
Pastikan Anda menyampaikan semua kekhawatiran tanpa ragu saat jadwal imunisasi atau pemeriksaan rutin. Profesional medis akan memberikan panduan yang aman serta berdasarkan data medis terkini.
Langkah awal jika mengetahui bayi berisiko autis
Langkah pertama dan paling krusial jika mengetahui bayi berisiko autis adalah tidak panik serta mencari intervensi dini. Terapi yang diberikan sejak dini, seperti terapi wicara, terapi okupasi, dan terapi perilaku, terbukti sangat efektif dalam memaksimalkan potensi anak.
Selanjutnya, bangunlah support system yang kuat. Bicarakan kondisi ini dengan pasangan dan keluarga inti agar Anda mendapatkan bantuan fisik maupun emosional. Mengasuh anak berkebutuhan khusus menuntut energi ekstra, sehingga kondisi diri Anda sendiri tidak boleh diabaikan.
Memahami ciri-ciri autis pada bayi sejak dini bbisa memberi Anda keuntungan untuk memberikan perawatan dan lingkungan yang paling tepat bagi Si Kecil. Setiap anak terlahir membawa keunikan dan potensinya masing-masing. Dengan pendekatan yang sabar, jelas, dan penuh dukungan, anak akan bisa lebih mudah memahami pesan, mengekspresikan diri, dan tumbuh percaya diri setiap harinya. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)