FAMILY & LIFESTYLE

6 Efek Samping Berhubungan Intim saat Haid yang Wajib Diketahui


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Banyak pasangan yang sudah menikah diam-diam sering kali bertanya soal keamanan berhubungan intim saat sedang haid. Topik ini sering kali diselimuti mitos dan informasi yang simpang siur. Padahal, memahami efek samping berhubungan saat haid dan cara mengurangi risikonya adalah bagian penting dari menjaga kesehatan reproduksi.

Berhubungan intim saat haid secara medis tidak dilarang, tetapi memiliki beberapa efek samping seperti meningkatnya risiko infeksi, penyebaran penyakit menular seksual, dan rasa tidak nyaman. Simak penjelasannya berikut ini, mulai dari risiko kesehatan hingga langkah pencegahannya!

Memahami risiko dan efek samping berhubungan intim saat menstruasi

Tubuh perempuan mengalami perubahan khusus selama masa haid. Leher rahim (serviks) sedikit lebih terbuka, dan dinding rahim sedang meluruh. Kondisi ini membuat tubuh sedikit lebih rentan terhadap beberapa hal. Berikut ini beberapa efek samping berhubungan intim saat haid yang umum terjadi.

1. Risiko penyebaran penyakit menular seksual: Darah haid dapat menjadi media penularan virus dan bakteri penyakit seperti HIV atau hepatitis. Berhubungan tanpa pengaman saat haid bisa meningkatkan risiko penularan penyakit ini.

2. Risiko infeksi lebih tinggi: Organ intim lebih rentan terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur karena perubahan tingkat keasaman (pH) selama menstruasi dan letak saluran kencing yang berdekatan dengan vagina. Serviks yang terbuka juga memudahkan bakteri masuk ke dalam rahim, sehingga meningkatkan risiko infeksi panggul.

3. Memperparah kram perut: Pada sebagian wanita, orgasme dapat memicu kontraksi rahim yang justru membuat kram atau nyeri haid bertambah hebat.

4. Peluang kehamilan tetap ada: Meski persentasenya rendah, kehamilan masih mungkin terjadi jika siklus haid tidak teratur atau jika Anda memiliki masa haid yang panjang.

Baca juga: Berhubungan Intim saat Haid Tapi Sperma Keluar di Luar, Apakah Bisa Hamil?

5. Potensi endometriosis: Terdapat teori medis bahwa penetrasi dan aktivitas seksual saat darah mengalir deras dapat memicu darah haid berbalik arah (menstruasi retrograd), yang menjadi salah satu faktor risiko endometriosis.

6. Iritasi kulit: Darah menstruasi dapat memicu reaksi iritasi, terutama bagi pemilik kulit sensitif di area luar organ intim.

Perbedaan pendapat medis dan agama tentang berhubungan saat haid

Secara agama, hubungan intim saat haid (melalui penetrasi vagina) diharamkan secara mutlak. Sebaliknya, tinjauan medis menyatakan bahwa aktivitas ini tidak dilarang, asalkan menjaga kebersihan dan kesehatan. Perbedaan pandangan ini terletak pada sumber hukum dan tujuan masing-masing.

1. Pandangan agama

Agama Islam mendasarkan ajarannya pada kitab suci Al-Qur'an dan hadis. Dasar Hukum: Bersumber dari Surah al-Baqarah ayat 222 dan hadis riwayat Muslim, yang menyebutkan bahwa haid adalah suatu "kotoran" (adza) dan melarang laki-laki untuk menyetubuhi istrinya sebelum mereka suci.

Mayoritas ulama sepakat bahwa penetrasi (jimak) saat haid hukumnya haram dan termasuk dosa besar. Meskipun begitu, suami istri tetap diperbolehkan menikmati keintiman pada area tubuh di atas pusar atau di bawah lutut, selama tidak melakukan penetrasi ke dalam vagina.

2. Pandangan medis

Ilmu kesehatan modern memandang hubungan seks dari aspek fungsi biologis dan risiko penyakit. Secara medis, penetrasi tidak merusak organ intim, tetapi darah menstruasi bisa menjadi media yang baik bagi perkembangan bakteri.

Aktivitas seksual dan orgasme saat haid dapat memicu pelepasan hormon endorfin dan oksitosin, yang bermanfaat meredakan kram perut, meredakan sakit kepala, dan membuat durasi haid lebih singkat. Namun, risiko utamanya adalah potensi penyebaran penyakit menular seksual yang meningkat karena mulut rahim sedikit terbuka dan darah haid dapat membawa virus (seperti HIV atau hepatitis).

Baca juga: Ingin Cepat Hamil? Ini Waktu Tepat Bercinta setelah Haid

Panduan lengkap tentang efek samping dan cara mengurangi risikonya

Jika Anda dan pasangan memutuskan untuk berhubungan saat haid, ada beberapa langkah yang bisa membantu mengurangi risiko efek samping, yakni:

1. Selalu gunakan kondom

Kondom adalah perlindungan paling efektif untuk mencegah penularan penyakit menular seksual dan mengurangi risiko infeksi. Meski sedang haid, kehamilan tetap mungkin terjadi, terutama jika siklus Anda pendek, sehingga kondom juga membantu mencegah kehamilan yang tidak direncanakan.

2. Jaga kebersihan sebelum dan sesudah berhubungan

Membersihkan area intim sebelum dan setelah berhubungan dapat menurunkan risiko infeksi. Buang air kecil setelah berhubungan juga membantu mencegah infeksi saluran kemih.

3. Pilih posisi yang nyaman

Beberapa posisi dapat mengurangi aliran darah dan membuat aktivitas terasa lebih nyaman. Komunikasi terbuka dengan pasangan sangat membantu menemukan apa yang paling pas untuk Anda berdua.

4. Gunakan alas atau handuk

Untuk mengurangi kekhawatiran soal noda, gunakan handuk gelap sebagai alas. Ini juga bisa membuat suasana lebih rileks dan menyenangkan.

5. Perhatikan tanda tidak normal

Jika setelah berhubungan Anda mengalami nyeri hebat, keputihan tidak biasa, atau demam, segera konsultasikan ke dokter. Gejala ini bisa menjadi tanda adanya infeksi yang perlu ditangani.

Langkah pencegahan dan perlindungan jika berhubungan saat menstruasi

1. Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin: Pastikan Anda dan pasangan dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit menular seksual.

2. Hindari berganti-ganti pasangan: Hubungan yang setia dengan satu pasangan secara signifikan menurunkan risiko penularan penyakit.

3. Lepaskan tampon terlebih dahulu: Jika Anda menggunakan tampon, pastikan untuk melepasnya sebelum berhubungan agar tidak terdorong masuk dan menyebabkan masalah.

4. Dengarkan tubuh Anda: Jika merasa tidak nyaman atau kurang sehat, tidak ada salahnya menunda. Kenyamanan Anda adalah yang utama.

Fakta medis tentang kondisi fisiologis wanita selama masa menstruasi

1. Siklus menstruasi umumnya berlangsung 21 hingga 35 hari, dengan masa haid rata-rata 3 hingga 7 hari.

2. Hormon berfluktuasi selama haid, yang dapat memengaruhi suasana hati, tingkat energi, dan gairah seksual.

3. Serviks lebih terbuka selama menstruasi untuk memudahkan keluarnya darah haid, tetapi kondisi ini juga sedikit meningkatkan kerentanan terhadap bakteri.

4. Kehamilan tetap mungkin terjadi. Meski peluangnya lebih kecil, sperma dapat bertahan hingga lima hari di dalam tubuh, sehingga pembuahan masih bisa terjadi pada siklus yang pendek.

Itulah penjelasan tentang efek samping berhubungan saat haid. Berhubungan intim saat haid adalah keputusan pribadi yang melibatkan pertimbangan kesehatan, keyakinan, dan kenyamanan. Apa pun pilihan Anda, yang terpenting adalah membuat keputusan berdasarkan informasi yang benar dan komunikasi yang terbuka dengan pasangan. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)