BABY

Waspada, Ini 8 Ciri Gumoh yang Berbahaya pada Bayi


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Melihat bayi gumoh setelah menyusu mungkin sudah jadi pemandangan sehari-hari bagi banyak orang tua, termasuk Anda kan, Moms? Namun, Anda sebaiknya waspada jika Si Kecil menunjukkan ciri gumoh yang berbahaya.

Ya, gumoh merupakan hal yang umum terjadi pada bayi. Sebagian besar kasus gumoh pada bayi memang tidak berbahaya dan akan berhenti dengan sendirinya seiring pertumbuhan mereka. Namun ada kalanya gumoh bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kondisi kesehatan bayi.

Untuk mewaspadainya Moms perlu tahu apa saja ciri-ciri gumoh yang berbahaya pada bayi, penanganan yang tepat untuk mengatasi bayi gumoh, hingga kapan Si Kecil harus dibawa ke IGD setelah mengalami gumoh.

Penyebab bayi sering gumoh

Gumoh pada bayi, terutama yang masih berusia di bawah 6 bulan, sangat umum terjadi karena sistem pencernaan mereka masih dalam tahap perkembangan. Beberapa penyebab utamanya antara lain:

1. Katup lambung yang belum matang

Sfingter esofagus bagian bawah yang belum matang pada bayi membuat katup tersebut belum bisa menutup dengan rapat atau sempurna. Akibatnya, susu atau cairan yang masuk ke lambung Si Kecil dapat dengan mudah naik kembali ke kerongkongan dan keluar dari mulut.

2. Posisi menyusu yang kurang tepat

Bayi yang menelan terlalu banyak udara saat menyusu lebih rentan gumoh.

3. Porsi makan yang terlalu banyak

Memberikan ASI atau susu formula terlalu banyak dalam satu waktu bisa membuat lambung bayi penuh dan mendorong susu kembali ke atas.

4. Alergi protein susu sapi

Pada sebagian bayi, gumoh berlebihan bisa dipicu oleh reaksi alergi terhadap protein dalam susu sapi, baik melalui ASI (jika ibu mengonsumsi produk susu sapi) maupun susu formula.

5. Refluks gastroesofageal (GERD)

Kondisi ini terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang dan menyebabkan iritasi.

Baca juga:Kenapa Bayi Sering Gumoh? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Perbedaan gumoh dan muntah pada bayi

Gumoh dan muntah pada bayi sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda.

Gumoh (regurgitasi) terjadi ketika susu atau makanan mengalir kembali dari lambung ke mulut bayi secara pasif, biasanya tanpa usaha, tanpa tangisan, dan tanpa rasa tidak nyaman. Bayi yang baru gumoh biasanya tetap tampak tenang dan nyaman setelahnya. Selain itu, gumoh normal umumnya terjadi sesaat setelah menyusu, berwarna putih atau sedikit kekuningan (warna susu), volumenya sedikit, dan tidak memengaruhi berat badan bayi

Sementara, muntah melibatkan kontraksi otot perut yang kuat dan terasa tidak nyaman bagi bayi. Muntah biasanya lebih banyak volumenya, sering disertai tangisan, dan bisa menjadi tanda adanya infeksi atau masalah pencernaan yang lebih serius.

Baca juga:Bayi Muntah Menyembur, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ciri-ciri gumoh yang berbahaya pada bayi

Meski gumoh merupakan hal yang normal terjadi pada bayi, namun beberapa kondisi berikut mengindikasikan gumoh yang berbahaya:

1. Gumoh berwarna hijau atau kuning cerah

Warna adalah indikator penting. Gumoh yang berwarna hijau atau kuning cerah bisa mengandung cairan empedum, ini bukan hal yang normal dan bisa menandakan adanya penyumbatan atau masalah serius pada saluran pencernaan bayi, seperti obstruksi usus.

2. Gumoh disertai darah atau berwarna merah muda

Kondisi ini bisa terjadi akibat iritasi pada kerongkongan, alergi protein susu sapi, atau dalam kasus yang lebih serius, adanya perdarahan pada saluran cerna.

3. Gumoh terjadi dengan kekuatan besar (Proyektil)

Gumoh proyektil adalah kondisi di mana susu menyembur keluar dengan kekuatan besar, bukan sekadar menetes atau mengalir pelan. Jika ini terjadi secara konsisten setelah setiap menyusu, bisa jadi tanda stenosis pilorus, yaitu penyempitan otot yang menghalangi susu masuk ke usus kecil. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera.

4. Bayi tampak kesakitan atau sangat rewel setelah gumoh

Gumoh yang normal tidak menyakiti bayi. Tapi jika Si Kecil menangis keras, melengkungkan punggung, atau tampak sangat tidak nyaman setelah atau selama gumoh, ini bisa menjadi tanda refluks gastroesofageal (GERD) yang menyebabkan asam lambung naik dan mengiritasi kerongkongan bayi.

5. Bayi tidak mau menyusu atau menolak makan

Rasa sakit akibat refluks bisa membuat bayi mengasosiasikan waktu menyusu dengan ketidaknyamanan. Jika bayi ANda tiba-tiba menolak menyusu, memalingkan kepala, atau menangis saat didekatkan ke payudara atau botol, ini sinyal yang perlu diperhatikan.

6. Gumoh terjadi sangat sering dan dalam jumlah besar

Sesekali gumoh adalah hal biasa. Tapi jika bayi gumoh hampir setiap kali menyusu dalam jumlah yang banyak, asupan nutrisi yang masuk ke tubuhnya bisa berkurang drastis. Perhatikan apakah frekuensi dan volume gumoh tampak berlebihan dibandingkan biasanya.

7. Berat badan bayi tidak naik atau bahkan turun

Jika gumoh terjadi begitu sering hingga bayi tidak mendapatkan cukup nutrisi, berat badannya bisa stagnan atau bahkan menurun. Pemantauan berat badan bayi secara rutin di posyandu atau klinik sangat penting untuk mendeteksi masalah ini sejak dini.

8. Bayi tampak lemas, pucat, atau sulit bernapas setelah gumoh

Kondisi ini adalah tanda darurat. Jika bayi tampak sangat lemas, kulitnya pucat atau kebiruan (terutama di sekitar bibir), atau terlihat kesulitan bernapas setelah gumoh, bisa jadi susu masuk ke saluran pernapasan (aspirasi).

Cara mengatasi gumoh pada bayi

Sebagian besar gumoh biasanya tidak memerlukan penanganan khusus. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa Moms lakukan saat bayi Anda gumoh:

  • Posisikan bayi dalam kondisi tegak, sandarkan di bahu Moms, dan biarkan susu mengalir keluar dengan sendirinya.
  • Jangan panik dan jangan langsung telentangkan bayi, pastikan jalan napasnya bersih terlebih dahulu.
  • Bersihkan mulut dan dagunya dengan lembut menggunakan kain bersih.

Untuk mencegah gumoh berulang, Moms bisa menerapkan beberapa cara berikut:

  • Sendawakan bayi di tengah dan setelah sesi menyusu.
  • Hindari membaringkan bayi segera setelah menyusu, tunggu sekitar 20–30 menit.
  • Susui dalam posisi yang lebih tegak (sekitar 45 derajat).
  • Jika menggunakan botol, pastikan lubang dot tidak terlalu besar agar bayi tidak menelan susu terlalu cepat.
  • Kurangi porsi per sesi menyusu dan tingkatkan frekuensinya.

Kapan harus pergi ke IGD?

Tidak semua gumoh memerlukan kunjungan ke IGD, tapi ada kondisi yang tidak boleh Moms tunda dan segera bawa Si Kecil ke IGD bila:

  • Gumoh berwarna hijau, kuning cerah, atau mengandung darah
  • Bayi kesulitan bernapas atau tampak tercekik setelah gumoh
  • Bayi tampak sangat lemas, pucat, atau tidak responsif
  • Gumoh terjadi secara proyektil berulang kali setiap habis menyusu
  • Bayi demam tinggi disertai gumoh berlebihan
  • Bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi seperti popok kering lebih dari 6 jam, tidak ada air mata saat menangis, atau mulut terlihat kering.

Itulah informasi mengenai beberapa ciri gumoh yang berbahaya. Gumoh memang bagian dari kehidupan bayi yang tidak bisa dihindari sepenuhnya. Sebagian besar kasusnya tidak berbahaya dan akan membaik seiring bayi tumbuh, biasanya sekitar usia 12 bulan, ketika sistem pencernaannya sudah lebih matang. Jika Moms melihat sesuatu yang terasa tidak biasa, entah itu warna gumoh yang aneh, frekuensi yang berlebihan, atau bayi yang tampak kesakitan, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis. (MB/RA/RF/Foto: pvproductions/Dok.Freepik)