Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernah nggak sih waktu periksa kehamilan, ada petugas kesehatan yang melingkarkan pita kecil di lengan atas Moms, lalu angkanya dicatat di buku KIA tanpa banyak penjelasan? Prosesnya cepat, sering kali cuma dianggap rutinitas biasa. Padahal, pemeriksaan tersebut untuk mengetahui LILA normal ibu hamil, dan perannya cukup penting untuk memantau status gizi Moms selama kehamilan.
Apa itu LILA normal?
LILA atau Lingkar Lengan Atas adalah pengukuran keliling lengan atas yang digunakan sebagai alat skrining sederhana untuk menilai status gizi, khususnya untuk mendeteksi risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil maupun wanita usia subur. Lengan atas dipilih karena mencerminkan cadangan lemak dan otot tubuh, yang relatif stabil dan tidak mudah berubah akibat retensi cairan seperti berat badan.
Berdasarkan ambang batas program gizi di Indonesia, ukuran LILA dibagi ke dalam dua kategori. Moms yang hasil pengukurannya menunjukkan angka 23,5 cm atau lebih termasuk dalam kelompok yang tidak berisiko KEK, artinya cadangan energi tubuh secara umum berada dalam rentang yang dianggap cukup. Sebaliknya, kalau hasilnya kurang dari 23,5 cm, ini menandakan Moms berisiko mengalami Kekurangan Energi Kronis, sehingga perlu penilaian gizi lebih lanjut dari tenaga kesehatan.
Menariknya, ambang batas 23,5 cm ini berlaku sama, baik untuk wanita usia subur yang belum hamil maupun untuk ibu hamil. Ini karena LILA memang dirancang untuk menangkap kondisi gizi jangka panjang, bukan perubahan sesaat akibat kehamilan itu sendiri sehingga meskipun berat badan Moms terus bertambah seiring bertambahnya usia kandungan, angka LILA biasanya tidak ikut bergeser drastis.
Cara mengukur LILA yang tepat
Teknik pengukuran yang kurang tepat bisa membuat hasil LILA melenceng cukup jauh dari kondisi sebenarnya. Karena itu, ada urutan langkah yang perlu diikuti, mulai dari menentukan lengan yang diukur, mencari titik tengah lengan atas, sampai memastikan pita terpasang dengan pas tidak longgar dan tidak menekan.
1. Tentukan lengan yang diukur
Gunakan lengan kiri, dengan asumsi lengan kiri adalah lengan yang tidak dominan bagi kebanyakan orang, kecuali Moms kidal maka gunakan lengan kanan sebagai gantinya. Konsistensi lengan ini penting supaya hasil pengukuran bisa dibandingkan secara akurat di kunjungan berikutnya.
2. Tekuk siku 90 derajat
Posisikan lengan atas dan lengan bawah membentuk sudut siku-siku, dengan telapak tangan menghadap ke tubuh. Posisi ini memudahkan petugas menemukan dua titik tulang acuan untuk menentukan titik tengah lengan.
3. Cari titik tengah lengan atas
Ukur jarak antara acromion (ujung tulang bahu yang paling menonjol) dan olecranon (ujung tulang siku), lalu bagi dua jarak tersebut dan tandai titik tengahnya. Titik ini menjadi acuan baku supaya lokasi pengukuran selalu sama di setiap lengan dan setiap orang.
4. Luruskan kembali lengan
Setelah titik tengah ditandai, biarkan lengan menggantung rileks di samping tubuh, tidak tegang dan tidak ditekuk. Lengan yang masih tegang bisa membuat lingkar otot tertarik dan hasil ukur jadi tidak akurat.
5. Lingkarkan pita LILA
Pasang pita secara horizontal, sejajar lantai, tepat di titik tengah yang sudah ditandai tadi. Posisi pita yang miring atau bergeser dari titik tengah bisa membuat angka yang terbaca meleset dari kondisi sebenarnya.
6. Pastikan pita pas
Pita harus menempel rapat ke kulit tanpa membuat lekukan atau menekan jaringan lemak dan otot, tapi juga tidak dibiarkan longgar hingga ada celah. Tekanan yang terlalu kencang atau terlalu longgar sama-sama membuat hasil pengukuran bias dari ukuran lengan yang sebenarnya.
7. Baca dan catat hasilnya
Dalam satuan centimeter (cm). Pencatatan yang rapi dan konsisten memudahkan tenaga kesehatan memantau tren LILA Moms dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya.
Setelah proses pengukuran selesai, penting untuk menjaga konsistensi, usahakan lengan dan titik ukur yang sama digunakan setiap kali pengukuran ulang, supaya hasilnya bisa dibandingkan dari waktu ke waktu.
Baca juga: 7 Vitamin Penguat Kandungan yang Penting Dikonsumsi Ibu Hamil
Arti LILA di bawah 23,5 cm
Kalau hasil pengukuran menunjukkan angka di bawah 23,5 cm, ini menandakan Moms berisiko mengalami KEK akibat kondisi kekurangan asupan energi dan protein dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun perlu digaris bawahi, hasil ini bukan diagnosis final, melainkan sinyal awal atau alat skrining yang perlu ditindaklanjuti dengan penilaian gizi lebih menyeluruh oleh tenaga kesehatan.
Status gizi seseorang dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan, bukan hanya satu faktor saja. Karena itu, langkah paling tepat kalau LILA Moms di bawah 23,5 cm adalah segera mendiskusikannya dengan bidan atau dokter, bukan menyimpulkan sendiri di rumah. Risiko KEK yang tidak ditangani berkaitan dengan berbagai potensi masalah pada kehamilan, sehingga deteksi dini lewat LILA ini menjadi langkah awal penting agar Moms bisa segera mendapat dukungan gizi yang tepat.
Beda LILA, IMT, dan BB
Kalau sudah ada penimbangan berat badan rutin dan IMT sebelum hamil, kenapa LILA masih perlu diukur? Karena ketiganya punya fungsi berbeda yang saling melengkapi, bukan saling menggantikan. LILA menggambarkan status gizi kronis atau jangka panjang dan relatif stabil selama hamil. IMT pra hamil dihitung dari berat dan tinggi badan sebelum hamil, dan menjadi acuan untuk menentukan target kenaikan berat badan selama kehamilan. Sementara kenaikan berat badan sifatnya dinamis, dipantau tiap kunjungan untuk melihat perkembangan gizi seiring bertambahnya usia kehamilan.
Karena fungsinya berbeda, hasil LILA sebaiknya tidak dibaca sendirian. Idealnya dikombinasikan dengan IMT pra hamil, pola kenaikan berat badan, kebiasaan makan, status anemia, kondisi medis lain, dan pertumbuhan janin lewat pemeriksaan rutin supaya gambaran kondisi gizi Moms lebih lengkap.
Langkah perbaikan gizi
Kalau hasil LILA menunjukkan risiko KEK, nggak perlu panik, Moms. Kondisi ini bisa diperbaiki, apalagi kalau terdeteksi sejak dini dan segera ditindaklanjuti. Berikut langkah-langkah yang biasanya direkomendasikan
1. Konsultasi ke tenaga kesehatan
Bidan atau dokter akan melakukan penilaian gizi yang lebih menyeluruh, mulai dari menggali riwayat pola makan sehari-hari hingga memeriksa kadar hemoglobin untuk melihat status anemia. Penilaian ini penting supaya penanganan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi Moms, bukan sekadar tebakan.
2. Perbaiki asupan energi dan protein harian
Tingkatkan konsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk sumber protein hewani seperti telur, ikan, dan daging, maupun sumber nabati seperti tahu dan tempe, sesuai anjuran tenaga kesehatan. Asupan protein yang cukup membantu memperbaiki cadangan energi tubuh yang sempat berkurang.
3. Ikuti program pemberian makanan tambahan (PMT)
Bila direkomendasikan oleh puskesmas atau bidan setempat. Program ini dirancang khusus untuk membantu ibu hamil dengan risiko KEK memenuhi kebutuhan gizi tambahan yang mungkin sulit terpenuhi dari makanan sehari-hari saja.
4. Pantau berat badan secara rutin
Di setiap kunjungan antenatal (ANC), pemantauan ini membantu melihat apakah kenaikan berat badan Moms sudah sejalan dengan usia kehamilan dan target yang disarankan.
5. Cek status anemia dan kondisi medis penyerta lainnya
Karena kekurangan gizi kronis sering berjalan beriringan dengan anemia dan sama-sama perlu ditangani. Menangani keduanya sekaligus membuat proses perbaikan gizi lebih efektif.
6. Jadwalkan pengukuran LILA ulang secara berkala
Sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pengukuran ulang ini berguna untuk melihat apakah upaya perbaikan gizi yang sudah dijalani menunjukkan hasil dari waktu ke waktu.
7. Libatkan suami dan keluarga
Dalam mendukung pola makan Moms, misalnya membantu menyiapkan makanan bergizi atau menemani kontrol ke fasilitas kesehatan. Dukungan keluarga membuat Moms lebih konsisten menjalani perbaikan gizi tanpa merasa sendirian.
Baca juga: Panduan Makanan untuk Ibu Hamil Muda
Itulah informasi mengenai LILA normal ibu hamil. Yang terpenting, LILA adalah alat bantu skrining awal, bukan alat diagnosis tunggal. Jadi jangan berkecil hati kalau hasilnya di bawah normal, anggap ini sinyal untuk lebih memerhatikan asupan gizi dan rutin berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, demi kehamilan yang sehat untuk Moms dan Si Kecil.(MB/RA/RF/Foto: Freepik)