Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, pernah dengar cerita dari nenek atau tetangga tentang keistimewaan bayi yang lahir sungsang? Banyak orang tua di Indonesia tumbuh dengan kepercayaan bahwa posisi lahir bisa menentukan nasib dan watak anak kelak. Sebagian meyakini bahwa kelahiran sungsang membawa berkah tersendiri, mulai dari kecerdasan di atas rata-rata hingga kemampuan supranatural.
Di sisi lain, sebagai orang tua masa kini, Moms perlu tahu apa kata medis soal hal ini. Apakah benar watak anak yang lahir sungsang berbeda dari anak lain? Atau ini hanya warisan budaya yang diwariskan turun-temurun tanpa dasar ilmiah? Berikut ini penjelasan mengenai kelahiran sungsang dari dua sisi: kepercayaan budaya Jawa dan Sunda, serta fakta medis yang perlu Moms ketahui.
Apa itu kelahiran sungsang secara medis?
Kelahiran sungsang, atau dalam istilah medis disebut presentasi bokong (breech presentation), terjadi ketika posisi bayi di dalam rahim tidak dalam posisi kepala di bawah menjelang persalinan. Alih-alih kepala yang mengarah ke jalan lahir, bokong atau kaki bayi justru berada di posisi terendah.
Sekitar 3-4% kehamilan menunjukkan bayi dalam posisi sungsang. Idealnya, pada usia kandungan 32-36 minggu, bayi akan bergerak turun ke posisi oksiput anterior sefalik, yaitu kepala di bawah dengan wajah menghadap ke bawah, sebagaimana penjelasan yang merujuk Cleveland Clinic.
Ada beberapa jenis presentasi sungsang, antara lain frank breech (yang paling umum ditemukan), complete breech, footling breech, serta letak melintang (transverse lie). Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan bayi sulit berputar ke posisi normal meliputi kehamilan kembar, kelahiran prematur, kelainan janin, tali pusat yang pendek, mioma, septum uteri, riwayat sungsang sebelumnya, plasenta previa, polihidramnion, hingga oligohidramnion.
Jika di usia kandungan 7 bulan posisi kepala bayi masih berada di atas, peluang bayi untuk berputar ke posisi normal sebenarnya masih cukup tinggi. Ibu hamil biasanya disarankan melakukan posisi sujud atau memberikan rangsangan suara di bagian bawah perut untuk membantu bayi berputar. Jika cara ini belum berhasil, dokter kandungan dapat melakukan prosedur External Cephalic Version (ECV) untuk memutar posisi bayi secara manual, meski prosedur ini memiliki risiko tersendiri.
Diagnosis kelahiran sungsang biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan USG pada trimester ketiga. Moms yang mengandung bayi sungsang terkadang akan merasakan sesak napas atau tendangan di area kandung kemih dan perut bagian bawah, karena posisi kaki bayi yang berada di bawah.
Baca juga: Bayi Lahir Caesar Lebih Mudah Sakit, Benar Enggak, Sih?
Watak anak yang lahir sungsang menurut kepercayaan Jawa dan Sunda
Dalam budaya Jawa, kelahiran sungsang dipercaya membawa keistimewaan tersendiri. Menurut Primbon Jawa, bayi yang lahir sungsang memiliki karakter yang kuat dan tegas, tidak mudah terpengaruh orang. Selain itu, ada pula kepercayaan bahwa anak yang lahir sungsang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, terhindar dari risiko lilitan tali pusar, serta memiliki indra keenam atau kesaktian tertentu.
Lebih jauh lagi, sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa anak yang lahir sungsang mampu menyembuhkan penyakit, melihat hal-hal gaib, bahkan meramal masa depan. Mereka juga dipercaya tumbuh dengan sikap yang lebih dewasa dibandingkan anak seusianya, memiliki gaya hidup yang "nyeleneh" atau tidak biasa, serta cenderung menyukai hal-hal bernuansa spiritual. Dalam beberapa kepercayaan, bayi sungsang bahkan dianggap sebagai pembawa rezeki bagi keluarganya.
Kepercayaan serupa juga ditemukan di budaya Sunda. Bayi yang lahir sungsang di tanah Sunda disebut dengan istilah "turujul". Sama seperti kepercayaan Jawa, masyarakat Sunda meyakini bahwa anak turujul memiliki kesaktian khusus, mampu menyembuhkan orang sakit, menolong sesama, hingga meramal kejadian yang akan datang.
Menariknya, baik budaya Jawa maupun Sunda sama-sama memiliki keyakinan yang hampir identik seputar indra keenam dan kecerdasan di atas rata-rata pada anak yang lahir sungsang. Kesamaan ini menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan tersebut mengakar dalam kehidupan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Penting untuk dipahami, kepercayaan-kepercayaan ini adalah bagian dari warisan budaya sebagai kearifan lokal. Namun, sebagai orang tua modern, Anda tetap perlu memahami bahwa kepercayaan ini belum terbukti secara ilmiah.
Mitos vs fakta: apakah posisi lahir memengaruhi kepribadian anak?
Lalu, apakah ada bukti ilmiah yang mendukung kepercayaan tentang keistimewaan bayi lahir sungsang? Jawabannya, sayangnya, tidak ada. Bayi yang lahir sungsang tidak memiliki kelebihan atau keistimewaan watak tertentu secara ilmiah. Bahkan, tidak ditemukan pula sumber yang menyebutkan keistimewaan bayi sungsang menurut Al-Qur'an atau ajaran Islam.
Yang menarik, ditemukan beberapa "kelebihan" dari sisi medis pada bayi sungsang. Namun, ini sama sekali tidak berkaitan dengan watak atau kepribadian. Kelebihan tersebut antara lain risiko lilitan tali pusar yang cenderung lebih kecil, kemungkinan lebih besar terkait kehamilan kembar, serta posisi sungsang yang terkadang menjadi penanda adanya kelainan rahim seperti fibroid pada ibu.
Hingga saat ini, belum ditemukan sumber ilmiah yang secara spesifik menghubungkan posisi bayi saat lahir dengan kepribadian atau tingkat kecerdasan anak kelak. Kepercayaan seputar keistimewaan bayi lahir sungsang menurut Primbon Jawa murni bersifat kultural dan turun-temurun, bukan sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penelitian medis.
Baca juga: 8 Karakter Khas Bayi yang Lahir di Pagi Hari
Yang lebih berpengaruh pada watak anak: pola asuh dan lingkungan
Jika bukan posisi lahir, lalu apa sebenarnya yang membentuk watak dan kepribadian anak? Secara umum, para ahli parenting sepakat bahwa pola asuh dan lingkungan tempat anak tumbuh memiliki peran yang jauh lebih besar dibandingkan faktor kelahiran.
Pola asuh yang penuh kasih sayang, konsisten, dan responsif terhadap kebutuhan anak cenderung membentuk anak yang percaya diri dan memiliki regulasi emosi yang baik. Sebaliknya, pola asuh yang keras atau tidak konsisten dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya dan dunia di sekitarnya.
Selain pola asuh, nutrisi yang cukup sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan juga berperan penting dalam perkembangan otak dan emosi anak. Stimulasi yang tepat sesuai usia, seperti ajakan bermain, membaca buku bersama, dan interaksi sosial, turut membantu anak mengembangkan keterampilan kognitif dan sosialnya.
Lingkungan tempat anak dibesarkan, termasuk hubungan dengan anggota keluarga, teman sebaya, serta pendidikan yang diterima, juga ikut membentuk nilai-nilai dan karakter anak seiring bertambahnya usia. Dengan kata lain, watak anak bukan sesuatu yang "ditentukan" sejak lahir, melainkan hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak faktor.
Bagi Moms yang ingin membesarkan anak dengan karakter yang kuat dan positif, fokuslah pada hal-hal yang memang bisa Anda kendalikan: memberikan kasih sayang yang konsisten, nutrisi yang baik, stimulasi yang sesuai, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya.
Perhatian khusus kesehatan untuk bayi yang lahir sungsang
Terlepas dari mitos seputar watak, ada beberapa hal medis yang perlu Moms perhatikan jika Si Kecil lahir dalam posisi sungsang. Persalinan normal pada bayi sungsang sebenarnya bukan hal yang mustahil, tetapi risikonya cenderung lebih tinggi dibandingkan persalinan dengan posisi kepala di bawah. Oleh karena itu, dokter kandungan biasanya akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan metode persalinan yang paling aman, baik itu melalui ECV terlebih dahulu maupun langsung melalui operasi caesar.
Satu hal penting yang perlu Moms ketahui adalah hubungan antara posisi sungsang dan risiko displasia pinggul perkembangan (developmental hip dysplasia). Berdasarkan informasi dari Seattle Children's, bayi yang berada dalam posisi sungsang saat lahir, atau bahkan pernah sungsang di trimester ketiga sekalipun sudah berputar normal sebelum lahir, memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini, bahkan ketika hasil pemeriksaan fisik awal terlihat normal.
Mengacu pada pedoman American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), bayi dengan riwayat sungsang disarankan menjalani skrining USG pinggul pada usia enam minggu, dilanjutkan dengan foto rontgen panggul pada usia enam bulan. Langkah ini penting untuk mendeteksi dini kondisi displasia pinggul sehingga penanganan dapat dilakukan sesegera mungkin.
Jika Si Kecil lahir dalam posisi sungsang, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter anak mengenai jadwal pemeriksaan pinggul yang tepat, serta hal-hal lain yang perlu dipantau pada masa tumbuh kembangnya.
Kepercayaan seputar keistimewaan bayi lahir sungsang menurut Primbon Jawa dan Sunda memang sarat makna budaya dan bagian dari kekayaan tradisi Indonesia. Namun, watak dan kepribadian anak bukan ditentukan oleh bagaimana ia lahir, melainkan dibentuk melalui pola asuh penuh kasih, nutrisi yang baik, stimulasi yang tepat, dan lingkungan yang mendukung. (MB/SW/Foto: Magnific)