FAMILY & LIFESTYLE

Cerita Cisca Becker: Introvert Berbulu Extrovert



Baru-baru ini saya melakukan trip 4 hari ke Hong Kong bersama sahabat-sahabat perempuan saya. Perjalanan itu dilakukan dalam rangka merayakan pertemanan kami yang sudah melampaui 3 dekade. Kami mulai berteman dari bangku sekolah dasar! Tentunya persahabatan ini adalah salah satu hal yang saya anggap harta karun berharga dalam hidup saya, selain keluarga saya dan koleksi buku-buku saya.
Mereka adalah orang-orang yang mengenal saya semenjak saya belum punya anak, jauh sebelum saya menikah. Merekalah yang tahu semua cerita dari jaman jahiliyah saya. Bersama mereka, saya benar-benar bisa menjadi diri saya. Dan itu adalah salah satu alasan kenapa saya merasa bahwa menjaga persahabatan-persahabatan yang saya miliki adalah sesuatu yang sangat krusial bagi kewarasan emak-emak rempong macam saya.
Jujur saja, walaupun saya berprofesi sebagai seorang penyiar dan public speaker, yang berarti saya harus nyaman dan percaya diri berbicara kepada siapapun dan dimanapun, sesungguhnya saya ini seorang introvert. Bukan artinya saya anti-sosial, karena saya tetap menikmati dan membutuhkan interaksi sosial. Hanya saja, saya sebenarnya cenderung tertutup pada mereka yang tidak saya kenal baik dan tidak selalu nyaman untuk menjadi pusat perhatian jika konteksnya bukan situasi pekerjaan. Saya lebih nyaman berkumpul dalam grup kecil yang isinya saya kenal baik semua, dan terutama sebagai introvert, saya SANGAT membutuhkan momen sendirian untuk me-recharge batere mental saya. Oleh karena alasan inilah, saya sangat menghargai kebersamaan bersama teman-teman baik yang sudah benar-benar mengerti diri saya yang sebenarnya. Teman-teman yang saat bersama mereka, saya bisa rehat sejenak dan menjadi pendengar saja.
Tentunya saya sangat menikmati pekerjaan saya, dan profesi ini telah sangat berjasa untuk membuat saya lebih berani dan lebih terbuka, dan pada akhirnya menambah rasa percaya diri saya. Saya tidak akan pernah berhenti mencintai peran saya sebagai seorang penyiar dan Master of Ceremony, namun sebenarnya saat sedang menjalankan pekerjaan ini, saya adalah seorang domba pemalu berbulu "serigala pede". Seorang introvert berbulu ekstrovert. Dan karena inilah, saya tetap membutuhkan hal-hal yang
dibutuhkan seorang introvert, yaitu momen tenang dan momen sendiri. Saya menyadari bahwa saya sebenarnya seorang introvert, setelah membaca sebuah artikel psikologi.
Walaupun saya tidak bermasalah untuk berkomunikasi dengan siapa saja, saya juga bukan orang yang gugup saat harus mengobrol dengan orang lain, namun berbicara dengan orang banyak bisa terasa melelahkan buat saya. Dan pada akhirnya hal tersebut bisa menghabiskan “batere” saya dan membuat saya merasa letih hayati dan ragawi. Untuk mengisi kembali batre itu agar penuh kembali, saya harus menghabiskan waktu sendiri. Hanya itu caranya. Dari situlah saya mengetahui bahwa saya sebenarnya
introvert. Karena berbeda dengan ekstrovert yang terisi tenaganya dengan bertemu dan menghabiskan waktu bersama orang lain, untuk introvert adalah sebaliknya.
Dari artikel psikologi lain saya juga pelajari bahwa sangat penting untuk mengenali diri kita sendiri, khususnya hal-hal apa saja yang membuat kita senang, hal mana yang membuat kita letih secara psikis, hal apa yang menguras mental kita dan hal apa yang bisa membantu menguatkan kita kembali secara kejiwaan. Dengan mengetahui semua ini, kita bisa mengatur agenda kegiatan dalam satu hari, untuk membantu memastikan agar kita bisa mengakhiri tiap hari dengan rasa gembira. Dan hal ini pun saya praktikan. Misalnya, karena saya adalah seseorang yang harus menguras mental dan pikiran untuk berbicara dengan berbagai macam orang, tentu akan merasa capai jiwa dan raga jika
aktifitas seharian hanyalah berbicara pada orang banyak. Perlu untuk menyelipkan sejenak momen-momen yang bisa mengisi kembali daya tenaga mental dan pikiran saya yang terkuras. Misalnya dengan minum kopi sendirian atau bersama seorang sahabat baik, atau bercanda dengan anak di pagi hari. Nah, berbicara mengenai anak. Sejujurnya (blog kali ini edisi jujur nih) saya sempat merasa sedikit kewalahan di awalnya, untuk menyesuaikan sifat introvert saya dengan peran baru saya saya sebagai ibu, yang harus menyemplungkan diri ke berbagai komunitas baru demi anak, khususnya dengan sesama ibu-ibu sekolah. Untungnya ketakutan saya tidak berlangsung lama, karena semuanya adalah Moms pengertian yang mengerti rempongnya hidup working Mom seperti saya, yang sulit untuk selalu datang ke berbagai acara pertemuan, hanya bisa hadir di acara-acara sekolah, dan hanya bisa menjalin silaturahmi dengan sesekali hadir untuk acara kumpul bersama di awal semester dan saat pesta ulang tahun anak-anak kita. Energi saya aman untuk kadar seperti itu. Dan toh percakapan bisa senantiasa terjalin di grup WA.
Ok intermezzo, ini salah satu hal yang saya banget, sangat prefer percakapan via WA dibanding percakapan langsung/telepon. Paling gemas rasanya kalau di tengah ngobrol WA tiba2 lawan bicara bilang “Saya telpon yah?”. WHY? Pernah loh saya mendiamkan telepon yang masuk karena saya sedang lelah sekali, agar saya bisa menyapanya via WA saja nanti. Gawat yah? Ada gak ya yang lain seperti ini?. Saya cari teman nih.
Satu lagi tantangan terberat yang saya jalani di masa awal menjadi ibu, adalah tidak adanya momen sendirian. Together is the new alone. Setelah kelar cuti melahirkan, waktu habis untuk antara mengurus anak dan urusan pekerjaan. Dan tentu ngurusin suami. Ngurusin diri sendiri? Boro-boro. Keluar rumah, mandi dan keramas saja sudah syukur. Walaupun gak sampai baby-blues (this is a serious problem though and my heart goes out to all Moms who struggle with it, may you find support) tapi saya merasa sangat terkuras, baik secara fisik, dan terlebih secara psikis. Sempat ada momen dimana saya berbincang dengan sesama Mom, dan dia cerita “Senang sekali main-main dengan bayi saya, bahkan kalau kelamaan tidur suka saya bangunkan karena saya gak sabar untuk bermain lagi dengannya!” Saya kaget mendengarnya, karena kalau yang saya rasakan adalah lega saat bayi saya (akhirnya) tidur, dan disergap rasa lelah mendadak kalau dia terbangun. Kok udah bangun aja sihh. Saya sempat dirundung
rasa bersalah, apakah ini artinya saya ibu yang buruk? Apakah artinya saya tidak sayang anak? Saya kembali baca beberapa artikel, dan dari sana untungnya saya tersadar, karena terlalu hectic dengan urusan baby, saya lupa bahwa saya adalah seorang ibu introvert, yang tetap butuh waktu bagi diri sendiri untuk benar-benar bisa merejuvenasi diri. Bagi introvert, waktu sendiri itu sakral, dan esensial, dan semenjak punya anak hal itu tidak saya dapatkan. Untungnya suami sangat pengertian dan sangat mendukung, karena dia benar-benar mengerti saya dan sadar bahwa yang saya minta bukanlah sesuatu yang egois, justru atas dasar cinta saya padanya dan anak kita. Saya butuh sendirian agar bisa pulih menjadi diri saya sendiri, untuk mengembalikan energi saya, sehingga saya bisa kembali hadir sebagai ibu yang bahagia dan tercukupi kebutuhan mentalnya, dan bisa mencintai dengan sepenuh hati dan jiwa. Thanks Hubby for this.
Semenjak saya sadar apa yang harus saya lakukan untuk menyegarkan mental saya, saya sempatkan selalu untuk momen recharge ini tiap harinya, sampai sekarang. Tidak perlu lama dan heboh. Setelah antar anak sekolah, saya mampir ke sebuah café untuk ngopi sambil baca buku atau menulis. Sebelum siaran sore, saya berikan waktu 1-1,5 jam untuk duduk sendirian sambil browsing berita dan materi siaran. Bahkan pulang ke rumah di akhir hari naik Uber sambil menikmati kemacetan Jakarta bisa
menjadi blessing bagi saya. Asal driver Ubernya jangan ngajak ngobrol ya. Tahu jalan dan diam selama perjalanan adalah syarat dapat bintang lima dari saya.
Kadang-kadang memang ada rasa tidak enak jika ada teman yang ngajak kumpul-kumpul lalu saya tolak. Kesannya kayak sombong. Padahal kebetulan memang saya lagi letih dan butuh waktu tenang. Beda banget ya dengan zaman muda dulu. Kalau dulu tidak dapat undangan ke acara rasanya sedih. Kalau sekarang dapat undangan acara malah sedih. Aduhh harus yah ketemu orang banyak malam ini? Haha. Tapi tentu sesekali saat saya merasa level energi sedang cukup, saya selalu dengan senang hati akan
menyanggupi ajakan teman, terlebih jika itu adalah teman-teman terdekat saya, karena mereka pun sesungguhnya sumber bahagia saya.
Untuk sesama introvert Moms lainnya, semangat ya semua. Tidak apa-apa kok kalau sesekali kita membutuhkan waktu tenang, karena itulah sumber energi kita sebagai introvert. Hargailah teman-teman terbaikmu, karena introvertpun tetap membutuhkan interaksi sosial yang bermakna. Ambillah me-time untuk diri sendiri jika dirasa perlu (boleh cek di IG @tigamamikece kalau butuh ide), supaya kita bisa kembali melewatkan waktu bersama keluarga tercinta dengan energi yang terisi penuh, menjalankan peran paling indah yang kita miliki, sebagai ibu. All the best to you introvert Moms. Know that you are not alone……….. unless you want to be.