Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang kerap menuntut kesempurnaan, masih ada sosok wanita luar biasa yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk terus berkarya. Hal ini ditunjukkan Hana Merlian, ibu 2 anak yang menekuni berbagai profesi: atlet tenis meja, kurir online food, membuat kue, dan juga bagian dari special crew McDonald’s Sukahati Cibinong.
Meski hidup dengan keterbatasan pendengaran, Hana membuktikan bahwa perempuan dengan disabilitas pun bisa mandiri, berkarya, dan memberi kontribusi nyata, baik di rumah sebagai ibu 2 anak, maupun di tempat kerja. Dalam semangat Hari Kartini, kisah Mom Hana bisa menjadi cerminan nyata dari emansipasi perempuan, bukan hanya dalam meraih kesetaraan, tapi juga dalam memperjuangkan hak untuk didengar dan diakui di ruang kerja dan masyarakat. Yuk, baca interview eksklusif M&B dengan Mom Hana Merlian berikut ini, Moms!
Apa pekerjaan yang Anda tekuni saat ini?
Halo, perkenalkan nama saya Hana Merlian. Saya seorang tunarungu, ibu 2 anak, dan saya bekerja sebagai special crew di McDonald’s Cibinong Bogor, sejak 20 Agustus 2023. Suami saya bekerja sebagai supir pengiriman barang. Selain menjadi special crew, ada banyak kegiatan yang saya tekuni saat ini, seperti mengurus rumah tangga, latihan tenis meja, membuat pesanan brownies untuk dijual, dan kurir online food.
Sudah berapa lama menjadi atlet tenis meja?
Sudah berlatih sejak 2021 dan sudah ikut pertandingan mewakili Kabupaten Bogor pada 2022.
Sejak usia berapa mulai bekerja dan pernahkah merasakan diskriminasi dalam mencari pekerjaan?
Saya bekerja di perusahaan sejak 2023. Sebelumnya, pasti saya pernah mengalami diskriminasi. Beberapa orang pernah menganggap saya tidak mampu melakukan pekerjaan seperti orang normal lainnya. Contoh diskriminasi yang pernah saya alami salah satunya dalam hal berkomunikasi, misalnya ketika saya meminta informasi, yang diberikan kepada saya tidak terlalu jelas, mungkin karena malas menjelaskan lebih detail dengan sabar.
Sebagai ibu, wanita karier, dan penyandang disabilitas, apa saja tantangan terberat dalam menjalankan tantangan multiperan tersebut?
Menurut saya tantangan terberatnya adalah soal waktu. Saya harus bisa membagi waktu untuk semua peran tersebut, supaya semuanya bisa berjalan dengan baik. Bagi orang lain mungkin hal ini mudah, tapi bagi saya ini hal yang cukup menantang.
Bagaimana cara Anda menghadapi dan melawan diskriminasi?
Tidak mudah melawan diskriminasi, tapi bukan berarti mustahil. Saya tetap menjalankan semuanya dengan semangat dan sabar. Saya yakin ketika satu pintu tertutup, pasti ada pintu lain yang sedang terbuka lebar untuk saya. Intinya jangan patah semangat dalam berjuang, berkarya, dan meraih mimpi.
Bagaimana awal kisah Anda bisa bergabung dalam special crew di tempat Anda bekerja sekarang?
Awalnya saya dapat info dari teman bahwa ada lowongan kerja di McDonald’s Indonesia dan bisa melamar melalui email. Saya pun langsung mencoba mengirim lamaran pekerjaan walau dengan hati ragu. Ya, saya ragu karena saya sudah menikah dan usia saya sudah di atas 35 tahun. Biasanya perusahaan tidak menerima kriteria seperti itu. Namun, setelah menanti jawaban cukup lama, saya akhirnya mendapat panggilan untuk wawancara dan tes di restoran pusat. Betapa bersyukurnya saya karena akhirnya saya diterima bekerja.
Saya memang tertarik bekerja di McDonald’s Indonesia karena ini adalah perusahaan makanan yang terkenal, saya tertarik untuk belajar banyak hal. Saya juga ingin mendapat teman yang lebih banyak ketika saya bekerja di sini.
Seperti apa saja bentuk dukungan di tempat kerja Anda yang dirasakan sangat membantu dan mempermudah aktivitas Anda dalam bekerja?
Atasan dan teman-teman mau mengajarkan saya tentang pekerjaan yang baru saya geluti ini. Mereka dengan sabar berkomunikasi dengan saya, baik tentang pekerjaan ataupun tentang hal lain di luar pekerjaan.
Menurut Anda, kenapa perempuan harus mandiri, berdaya, dan terus menggali potensi diri?
Karena perempuan bisa melakukannya, tidak hanya laki-laki dan tidak hanya orang normal. Perempuan harus bisa berdiri sendiri, karena tidak selamanya kita bisa mengharapkan orang lain.
Apa saja yang menjadi penyemangat atau motivasi Anda dalam bekerja, berkarya, dan berkontribusi bagi masyarakat?
Keluarga yang membuat saya semangat, yang selalu mendukung saya melakukan semuanya. Saya mau keluarga saya lebih bahagia dan kebutuhan utamanya tercukupi.
Jika Anda bisa mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi penyandang disabilitas, apa yang ingin Anda lakukan?
Saya mau membuktikan bahwa disabilitas juga bisa mengerjakan pekerjaan yang orang normal lakukan dengan baik. Kita semua setara.
Terakhir, mohon berikan kata-kata penyemangat untuk para Moms agar bisa terus berkarya dan melawan stigma “perempuan cuma bisa mengurus anak” yang beredar di masyarakat.
Perempuan itu bisa melakukan banyak hal, perempuan itu bisa mandiri dan menjadi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan asalkan kita selalu semangat dalam menjalankan semuanya.
Mom Hana adalah satu dari 130 teman tuli yang telah bergabung sebagai special crew dan tersebar di berbagai restoran McDonald’s di seluruh Indonesia. Menurut Yulianti Hadena (HR & GS Director PT Rekso Nasional Food), inclusion atau inklusivitas memang merupakan salah satu pilar utama McDonald’s Indonesia, yang juga bagian dari DNA perusahaan. Simak wawancara M&B dengan Yulianti di bawah ini, Moms!
Apa saja upaya McDonald’s Indonesia untuk memperkuat nilai inklusivitas di dunia kerja dan di masyarakat?
Kami berupaya secara konsisten menciptakan lingkungan kerja yang aman, saling menghormati, dan terbuka bagi semua individu, apa pun latar belakang mereka.
Salah satu bentuk konkret komitmen ini adalah program special crew yang memberdayakan karyawan tuli. Kami memberikan pelatihan khusus serta menciptakan kesempatan kerja yang sama, yang memungkinkan mereka berkembang dan berkontribusi secara setara. Kami juga memberikan pelatihan tentang keberagaman, kesetaraan dan inklusivitas (DEI) kepada seluruh karyawan sehingga terbangun budaya kerja yang inklusif dan empatik.
Tidak hanya pelatihan, kami senantiasa mengingatkan pentingnya DEI dalam pekerjaan sehari-hari melalui kanal-kanal komunikasi internal yang ada di perusahaan. Selain itu, kami mendorong representasi yang beragam di setiap level organisasi, termasuk memperjuangkan kesetaraan gender. Tak hanya memberdayakan teman tuli, kami juga memperhatikan kemajuan karier dari karyawan perempuan, yang mana hingga saat ini sekitar 40% level manajemen diduduki oleh perempuan.
Sejak kapan McDonald’s Indonesia merekrut special crew?
McDonald’s Indonesia telah merekrut special crew teman tuli sejak 1995, menjadikan kami salah satu pelopor dalam menciptakan ruang kerja ramah disabilitas di industri restoran cepat saji Indonesia, sebagai bagian dari komitmen kami terhadap keberagaman dan inklusi. Kami terus memperluas program special crew ini agar makin banyak individu dengan disabilitas bisa merasa diterima, dihargai, dan diberdayakan.
â Apa saja keahlian yang diajarkan untuk karyawan special crew?
Special crew teman tuli dibekali dengan berbagai keterampilan kerja yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan mereka. Beberapa di antaranya menjadi barista, spesialis ayam McDonald’s, bertanggung jawab menjaga kebersihan area restoran, pengemasan produk, hingga layanan pelanggan. Kami juga memberikan pelatihan komunikasi, kerja tim, kedisiplinan, serta pendampingan yang dirancang untuk membangun kepercayaan diri dan memberdayakan secara menyeluruh. Kami ingin setiap karyawan merasa bahwa mereka tidak hanya bekerja, tapi juga bertumbuh bersama McDonald’s Indonesia.
â Dengan hadirnya special crew seperti Mom Hana Merlian, apa lagi harapan atau mimpi besar McDonald’s Indonesia dalam pemberdayaan wanita dan khususnya penyandang disabilitas?
Sosok seperti Hana Merlian menjadi inspirasi nyata bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, memiliki potensi besar jika diberi kesempatan yang adil dan lingkungan yang mendukung. Tidak hanya bagi perempuan, tapi juga bagi penyandang disabilitas dan kelompok marjinal lainnya. Kami ingin menjadi bagian dari perubahan sosial yang lebih luas, di mana keberagaman bukan hanya diterima, tapi juga dilihat dan didengar agar bisa menjadi versi terbaik bagi diri mereka sendiri. (M&B/Tiffany Warrantyasri/Foto: Dok. Image Dynamics)
