Type Keyword(s) to Search
BABY

6 Tradisi Bayi Baru Lahir di Jawa, Simbol Syukur dan Doa untuk Si Kecil

6 Tradisi Bayi Baru Lahir di Jawa, Simbol Syukur dan Doa untuk Si Kecil

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Kelahiran bayi adalah momen penuh kebahagiaan yang selalu dinantikan setiap keluarga. Di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Jawa, momen bayi baru lahir sering disertai dengan beragam tradisi yang sarat makna. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya menjadi simbol rasa syukur orang tua, tapi juga bentuk doa dan harapan baik untuk masa depan Si Kecil.

Di Jawa, setiap tradisi memiliki filosofi yang dalam, mulai dari menjaga kesehatan bayi, mempererat hubungan keluarga, hingga memperkenalkan anak kepada lingkungan sekitarnya.

Meski sebagian sudah jarang dilakukan, tradisi bayi baru lahir di Jawa masih melekat kuat di masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya. Nah, Moms, yuk kita kenali lebih dekat apa saja tradisi bayi baru lahir di Jawa dan makna di baliknya.

Tradisi bayi baru lahir di Jawa

1. Puput puser

Tradisi ini dilakukan saat tali pusar bayi terlepas, Moms. Biasanya keluarga akan mengadakan doa bersama sebagai simbol bahwa bayi sudah mulai memasuki fase baru kehidupannya. Puput puser dimaknai sebagai doa agar bayi tumbuh sehat, kuat, dan panjang umur.

Baca juga: Cara Memandikan Bayi Baru Lahir yang Belum Puput Pusar

2. Ritual brokohan

Brokohan adalah tradisi mengadakan doa dan berbagi makanan kepada tetangga saat bayi baru lahir. Makanan yang dibagikan biasanya berupa nasi berkat atau tumpeng kecil. Maknanya adalah sebagai rasa syukur atas kelahiran bayi dan permohonan doa dari orang-orang sekitar.

3. Tetesan

Dalam tradisi Jawa, pemberian nama biasanya dilakukan melalui sebuah upacara sederhana. Pada momen tetesan ini, Moms dan Dads bersama keluarga memberikan nama resmi untuk Si Kecil, disertai doa agar nama tersebut membawa berkah serta menjadi cerminan harapan baik bagi kehidupannya kelak.

Baca juga: 5 Tradisi Pemberian Nama di Indonesia yang Unik dan Penuh Makna

4. Selapanan

Tradisi selapanan dilakukan saat bayi berusia 35 hari. Keluarga biasanya mengadakan syukuran kecil dengan berdoa bersama dan membagikan makanan. Selapanan dianggap sebagai momen penting karena diyakini setelah 35 hari, bayi dan ibu sudah lebih kuat dan boleh lebih sering berinteraksi dengan lingkungan.

5. Bubur abang putih (bubur merah putih)

Pada beberapa keluarga Jawa, kelahiran bayi dirayakan dengan membuat bubur abang putih (merah dan putih) yang melambangkan keseimbangan hidup. Bubur ini biasanya dibagikan kepada tetangga atau kerabat sebagai bentuk syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi.

Baca juga: 6 Perlengkapan Bayi Baru Lahir yang Perlu Disiapkan

6. Tedak siten (turun tanah)

Tedak siten dilakukan saat bayi berusia sekitar 7 atau 8 bulan, ketika ia mulai belajar berjalan atau menginjakkan kaki ke tanah untuk pertama kali. Dalam prosesi ini, bayi diarahkan melewati tangga yang terbuat dari tebu atau sesaji, lalu ditempatkan dalam kurungan ayam yang berisi benda-benda simbolis. Tujuannya, agar kelak bayi tumbuh mandiri, kuat, dan sukses dalam kehidupannya.

Itulah beberapa tradisi bayi baru lahir di Jawa. Tradisi bayi baru lahir di Jawa bukan sekadar seremonial Moms, tapi sarat dengan nilai budaya, filosofi, dan doa yang diwariskan turun-temurun. Meski kini sebagian tradisi mungkin sudah jarang dilakukan, makna di baliknya tetap relevan sebagai wujud rasa syukur dan harapan baik bagi tumbuh kembang anak.

Baca juga: 5 Macam Permainan Tradisional Zaman Dulu, Bikin Nostalgia!

Moms dan Dads bisa menjadikan tradisi-tradisi ini sebagai bagian dari perjalanan indah menyambut Si Kecil, sekaligus menjaga warisan budaya yang penuh makna. (M&B/AY/SW/Foto: Sigit foto/Pexels)