Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Melihat Si Kecil sering menangis tentu membuat hati orang tua cemas. Terkadang, kita mungkin berpikir tangisan hanyalah cara anak untuk mendapatkan perhatian. Namun, jika tangisan terjadi terus-menerus, ini bisa menjadi pertanda adanya masalah. Bahkan tangisan berlebihan dapat membawa dampak psikologis bagi perkembangan anak.
Menangis adalah cara utama bayi dan anak kecil berkomunikasi. Ini adalah sinyal bahwa mereka membutuhkan sesuatu, entah itu lapar, tidak nyaman, atau butuh pelukan. Namun, ketika tangisan menjadi pola yang sulit dihentikan, dampaknya bisa lebih dari ekspresi kebutuhan sesaat. Simak penjelasan mengenai dampak psikologis yang bisa dialami anak yang sering menangis berikut ini, Moms!
Mengapa anak sering menangis?
Sebelum membahas dampaknya, penting untuk mengetahui mengapa seorang anak bisa sering menangis. Penyebabnya sangat beragam, tergantung pada usia dan tahap perkembangan anak.
1. Kebutuhan fisik yang tidak terpenuhi
Ini adalah alasan paling umum, terutama pada bayi dan balita. Mereka mungkin merasa lapar atau haus, lelah atau mengantuk, tidak nyaman, atau sakit, sehingga mereka menangis.
2. Kebutuhan emosional
Anak-anak, sama seperti orang dewasa, memiliki kebutuhan emosional yang kuat. Tangisan mereka bisa menjadi sinyal bahwa mereka membutuhkan rasa aman dan nyaman, seperti ingin dipeluk, membutuhkan perhatian, atau validasi emosi, di mana anak mungkin merasa frustrasi, marah, atau sedih dan belum tahu cara lain untuk menyampaikannya selain dengan menangis.
Baca juga: 10 Hal yang Bisa Menyebabkan Bayi Anda Menangis
Dampak psikologis anak sering menangis
Jika tangisan anak tidak mendapat respons yang tepat atau dibiarkan berlarut-larut, hal ini bisa memengaruhi perkembangan psikologisnya, Moms.
1. Masalah keterikatan (attachment)
Hubungan antara anak dan orang tua adalah fondasi bagi semua hubungan di masa depan. Ketika orang tua merespons tangisan anak dengan hangat dan konsisten, anak belajar bahwa dunia adalah tempat yang aman dan ia dapat memercayai orang lain. Sebaliknya, jika tangisan sering diabaikan, anak mungkin akan merasa insecure.
Anak dengan insecure attachment bisa menjadi terlalu cemas saat ditinggal, atau justru tampak terlalu mandiri dan menghindari kedekatan emosional. Hal ini dapat memengaruhi kemampuannya dalam membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
2. Kesulitan mengatur emosi
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk mengelola dan mengendalikan respons emosional. Anak mempelajari keterampilan ini melalui interaksi dengan orang tuanya. Saat orang tua membantu menenangkan anak yang menangis, ia secara tidak langsung diajarkan cara mengatasi perasaan dan mengatur emosinya.
Anak yang sering dibiarkan menangis sendirian tanpa ditenangkan mungkin akan kesulitan belajar menenangkan dirinya sendiri. Akibatnya, ia bisa tumbuh menjadi individu yang mudah frustrasi, cepat marah, atau sulit menghadapi stres saat dewasa.
3. Rendahnya rasa percaya diri
Seorang anak membangun rasa percaya dirinya dari respons yang ia terima dari lingkungannya. Jika tangisannya selalu dianggap sebagai gangguan atau “cengeng”, ia mungkin mulai merasa bahwa kebutuhannya tidak penting. Perasaan ini bisa berkembang menjadi rasa percaya diri yang rendah. Ia mungkin akan ragu-ragu untuk mengungkapkan kebutuhannya di masa depan karena takut ditolak atau diabaikan.
4. Gangguan kecemasan
Stres yang berkepanjangan akibat sering menangis dan tidak ditenangkan dapat meningkatkan kadar kortisol (hormon stres) dalam tubuh anak. Dalam jangka panjang, tingkat stres yang tinggi dapat membuat anak lebih rentan terhadap gangguan kecemasan. Ia mungkin menjadi anak yang penakut, terlalu khawatir tentang banyak hal, atau sulit beradaptasi dengan situasi baru.
Baca juga: Bayi Sering Menangis di Sore Hari? Ini Penyebab dan Cara Menenangkannya
Bolehkah membiarkan anak menangis sampai tertidur?
Membiarkan bayi atau anak menangis sampai tertidur, yang dikenal sebagai metode “cry it out” (CIO), masih kontroversial. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa metode ini tidak menimbulkan gangguan psikologis jangka panjang pada anak yang siap. Metode ini cocok untuk bayi yang sudah agak besar, ketika siklus tidurnya sudah lebih teratur.
Namun, metode ini tidak boleh digunakan untuk bayi baru lahir karena Si Kecil perlu respons cepat terhadap kebutuhan dasarnya dan membangun ikatan yang aman dengan orang tua, karena tangisan bayi juga bisa menandakan ia lapar, lelah, atau sakit.
Itulah penjelasan mengenai dampak psikologis anak sering menangis. Respons yang hangat dan sabar tidak hanya akan menenangkan tangisannya saat ini, tetapi juga memberinya bekal untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan percaya diri. Cobalah untuk mengenali pola tangisan anak dan penuhi kebutuhannya dengan penuh kasih sayang, Moms. (MB/AY/SW/Foto: Freepik)
