Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Tumbuh dan besar di keluarga yang memiliki ketertarikan pada pendidikan membuat Saskhya Aulia Prima memilih menjadi psikolog anak dan keluarga yang tidak hanya concern pada tumbuh kembang anak, tetapi juga bertekad mendorong anak-anak Indonesia agar bisa bertahan dan bersaing di masa depan. Tak heran, selain masih aktif dan menjadi bagian dari rumah konsultasi TigaGenerasi (@tigagenerasi), ia juga mendirikan nursery, preschool & activity center Lightbeam Education (@lightbeam.id) dan Mindtastic (@mindtastic.id).
Selain berkarier, Saskhya juga merupakan seorang ibu dari jagoannya, Saga Khairava (7) dan satu bayi mungil yang masih dalam kandungan. Meski telah mengantongi banyak ilmu parenting, Saskhya mengaku tak semudah itu menerapkannya saat mengasuh Si Kecil. Pun dalam menjalani bisnis di dunia pendidikan yang tak kalah menantang. Lalu, sebagai wanita yang menjalani multiperan, bagaimana cara Saskya juggling dengan kesibukan dan peran yang ada saat ini? Simak wawancara eksklusif Mother & Beyond bersama Saskhya Aulia Prima untuk Working Moms Lyfe kali ini, Moms!
Saskhya, sibuk apa saat ini?
Kesibukan utama tentu menjadi full time mom, ya, dengan segala kegiatan antar-jemput anak ke sekolah atau tempat les, dan tentunya juga mengurus suami. Praktik sebagai psikolog juga masih aku jalani, dibarengi kegiatan mengisi seminar atau talkshow sebagai pembicara. Selain itu, karena kebetulan aku punya preschool, jadi beberapa kali dalam seminggu ke sana untuk cek.
Apa tantangan yang dihadapi ketika menjalani profesi sebagai psikolog anak?
Sebagai psikolog, aku cukup senang melihat bahwa saat ini orang-orang lebih aware dengan mental health, development anak, dan segala macam. Tapi di sisi lain, aku juga sering bertemu klien yang melakukan self diagnosed, begitu juga klienku yang masih remaja. Misalnya saat konsultasi mereka bilang, “Tante, aku ngerasa kalau aku ADHD”, tapi minggu depannya mereka merasakan hal yang berbeda lagi.
Mereka mungkin sudah baca symptom-nya dari internet, lalu mereka mendiagnosis sendiri. Yang berat dari hal ini adalah kalau mereka sudah punya mindset seperti itu, mereka mengesahkan sendiri hal-hal yang sebetulnya belum valid, atau sebenarnya tidak seperti apa yang dipikirkan. Jadi, di satu sisi bagus kita sudah bisa mengakses banyak informasi, tapi di sisi lain informasi ini juga sering disalahgunakan.
Selain itu, mengusahakan untuk tetap update tentang perkembangan ilmu yang makin banyak dan makin cepat, dengan waktuku yang makin terbatas, tanpa meninggalkan tanggung jawab-tanggung jawabku, juga menjadi tantangan tersendiri. Dan yang tak kalah menantang bagaimana aku bisa balancing untuk caring dengan keluarga, bukan hanya pada orang atau klien yang kita urusi.
Apa hal yang paling sering dikonsultasikan klien dan memprihatinkan bagi Saskhya selama sesi konseling?
Akhir-akhir ini hal yang sedang sering dikonsultasikan adalah tentang kesiapan anak masuk SD. Kebetulan kan memang aku ada kegiatan yang membantu anak-anak remaja, dari SMP-SMA, untuk mengetahui minat dan bakat mereka, berbarengan dengan educational mentorship. Nah, ternyata aku menemukan bahwa tidak banyak anak-anak sekarang yang mengerti purpose atau goals-nya. Selain itu, masalah-masalah perkembangan seperti sensori, kurangnya stimulasi, mungkin karena adanya gadget dan efek pandemi, juga kerap dikeluhkan orang tua.
Sementara hal yang memprihatinkan adalah saat orang tua yang anaknya mungkin mengalami masalah perkembangan tidak mengerti apa yang dibutuhkan dan merasa tidak butuh pertolongan. Mereka masih denial dengan kondisi anaknya. Bagaimanapun, it starts with them. Jadi, kadang mereka yang mengulur-ngulur terapi, mereka tidak mempraktikkan saran dari kami, atau nanti kembali lagi konsultasi dengan kondisi anak yang lebih chaos lagi. Jadi, kesiapan orang tua menerima kondisi anak dan mengubah itu yang paling memprihatinkan.
Kenapa Sakshya membuka preschool Light Beam dan apa tantangan yang dihadapi?
Aku tumbuh di keluarga yang memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan. Kebetulan ayahku juga punya dua sekolah di Cibubur dan Cikarang. Jadi, mungkin sedikit banyak ketertarikanku pada dunia pendidikan tumbuh dari keluarga. Meski sudah menjadi psikolog, pada akhirnya memang hatiku masih di pendidikan.
Kalau ditanya apa hal menantang yang aku hadapi ketika membuka preschool di Indonesia, dari banyaknya hal yang aku pelajari, paradigmanya itu mungkin berbeda dengan kurikulum Nasional di Indonesia, misalnya, pemahaman orang tentang pendidikan usia dini. Beberapa orang tua mungkin tahu bahwa bermain itu penting, tapi mereka tetap was-was kalau anaknya tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Jadi, ini cukup menantang dan aku harus jelasin pelan-pelan memang apa yang paling penting untuk anak-anak di pendidikan dini mereka.
Boleh jelaskan sedikit tentang tagline “Nurturing Kid with WISDOM” di Lightbeam?
Sebenarnya WISDOM itu singkatan. W untuk Well-being management skills, I untuk Initiative and love of learning, S untuk Social adjustment and collaboration skills, D untuk Determination and resilience, O untuk Optimism and gratitude, dan M untuk Mindfulness. Singkatan-singkatan ini berasal dari research yang sudah kami lakukan, yang menjadi semacam pilar-pilar yang memungkinkan anak-anak untuk berfungsi ketika mereka harus hidup berdampingan dengan orang banyak.
Saat ini, kalau soal pintar, sepertinya tidak perlu dikhawatirkan. Anak-anak sekarang pintar-pintar, mungkin didukung dengan stimulasi, pemenuhan gizi, dan akses informasi yang sekarang sudah lebih bagus. Tapi, berdasarkan sejumlah report terakhir yang aku lihat, saat ini ada yang namanya resesi emotional intelligence. Jadi, emotional intelligence anak-anak makin tahun makin turun. Susah kalau kita hanya berpaku pada pintar saja, tapi tidak bisa komunikasi dengan orang, tidak bisa beradaptasi.
Jadi, sudah bukan lagi “Kamu pintar matematika, kamu pintar baca, kamu pintar science”, tapi mendorong untuk tahu apa manfaat hal yang dia lakukan ke orang lain, bagaimana cara berkolaborasi, dan membangun inisiatif. Jadi, ini culture yang mau dibangun di tim guru, sekolah, maupun anak-anak didiknya.
Boleh perkenalkan kita pada Mindtastic?
Mindtastic merupakan wadah yang menyediakan program-program pengembangan keterampilan untuk anak-anak usia 6-14 tahun. Mindtastic ini bermula dari kebingunganku untuk mencarikan kegiatan yang lebih mengasah life skills untuk Saga, misalnya seperti belajar bisnis, membuat konten, atau belajar public speaking. Beruntungnya aku bertemu dengan dua temanku yang juga tertarik dan memiliki concern yang sama. Akhirnya kami mendirikan Mindtastic dan mulai fokus membuat holiday program, kelas bulanan atau per sekian bulan, yang menghadirkan kegiatan pengembangan keterampilan yang bermakna untuk anak-anak.
Rencananya akan lebih banyak kegiatan yang dilakukan di Mindtastic, dengan harapan ini bisa membantu anak-anak di masa depan, misalnya saat mereka kuliah nanti, karena ternyata anak sekarang itu butuh semacam CV ya, saat masuk perguruan tinggi. Jadi, nanti dilihat portofolio mereka saat kecil itu ikut apa saja, prestasi yang sudah didapat. Saat kuliah, baik di dalam atau luar negeri, biasanya akan ada esai dan wawancara yang tidak semua anak bisa melakukannya kalau dari kecil saja mereka tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan. Jadi, itu fokusnya di Mindtastic, untuk men-develope life skills anak-anak dari activity di holiday program atau program lepasan kami.
Dengan banyaknya ilmu parenting yang dimiliki Saskhya sebagai psikolog anak, apakah lantas ini mempermudah pengasuhan Saga?
Waduh, kalau boleh jujur, sepertinya anakku adalah ujianku, haha. Kebetulan Saga ini tipe anak yang aktif sekali, banyak tanya, banyak teori dan ngotot juga, mungkin karena dibiasakan diskusi dari kecil. Kalau zaman dulu, kita dinasihati atau dimarahi orang tua kan takut ya, tapi aku merasa bahwa gen alpha, yang salah satunya adalah anakku, justru mereka lebih galak. Jadi, meski aku punya banyak basic ilmu parenting, tidak semudah itu juga menerapkannya.
Aku banyak belajar dari Saga. Sesederhana bagaimana harusnya kita berbicara dengan mereka. Misalnya saat dia sedang kesal dengan salah satu temannya, dan aku tidak mau dia jadi benci dengan temannya itu, aku menanganinya dengan membuat worksheet bareng, apa yang Saga suka dan tidak suka dari temannya dan apa yang temannya suka.
From time to time, aku kira anak-anak itu akan berubah, misalnya seiring bertambah usia, mereka akan jadi lebih kalem, tapi nyatanya justru ada hal baru lagi. Ada kalanya segala teori dari A sampai Z sudah aku terapkan dalam pengasuhan, tapi belum terpecahkan masalahnya. Sama seperti ibu-ibu lainnya, aku juga enggak jarang ngomel, kok, haha.

Meski aku punya banyak basic ilmu parenting, tapi tidak semudah itu juga menerapkannya. Aku justru belajar banyak dari anakku, Saga, sesederhana bagaimana seharusnya kita berbicara dengan mereka.
Tumbuh besar di keluarga yang memiliki minat tinggi pada pendidikan, apakah Saskhya juga mulai mengarahkan Saga untuk mengikuti jejak yang sama?
Sejujurnya, aku terserah Saga, dan mungkin lebih menyesuaikan dengan minat dan potensi dia saja nanti, karena keinginannya masih berubah-ubah. Dari umur 3 tahun, Saga bilang mau jadi scientist supaya bisa menemukan obat kanker, schizophrenia. Tapi, kadang-kadang dia mau jadi atlet baseball.
Jadi, sekarang aku fokus mengekspos dia dengan berbagai pengetahuan yang menjadi ketertarikannya dan mendorongnya untuk eksplor hal-hal yang buat dia penasaran. Aku bebaskan apa pun yang mau dia lakukan nanti, selama dia juga tahu purpose-nya, kebermanfaatannya untuk apa, dan nanti dia harus tahu bagaimana mencapai tujuannya tersebut.
Saga akan segera memiliki adik, bagaimana mempersiapkannya sebagai seorang kakak?
Waktu balita, sebenarnya Saga tidak mau punya adik, tapi sekarang dia excited sekali. Dia bahkan sudah memikirkan hal apa yang bisa dia ajarkan ke adiknya nanti. Tapi, di sisi lain, Saga juga sempat bertanya “Kalau ada adik, aku jadi expired enggak?”, “Nanti Mommy dan Daddy lebih sayang adik atau aku, ya?”.
Kebetulan Saga memang sedang tertarik isu fairness saat ini. Aku coba jelaskan bahwa fairness itu tidak harus sama, semuanya disesuaikan dengan kebutuhan Saga dan adik. Setiap tahun juga pasti ada kebutuhan yang berbeda. So, our effort to be fair parents adalah menyesuaikan kebutuhan anak-anak.

Kunci menyeimbangan peran sebagai ibu, istri dan psikolog adalah dengan setting routines dan tahu mana prioritas.
Bagaimana menyeimbangkan peran sebagai ibu, istri dan psikolog?
Kuncinya adalah membuat rutinitas. Untuk urusan anak, dari Senin sampai Jumat, dari jam 6-7 pagi pasti ini waktunya aku berdiskusi dengan Saga, mulai dari bahas sesuatu yang dia pelajari di sekolah sampai hal-hal lain yang Saga sebut sebagai life problems, haha.
Untuk waktu dengan suami, aku usahakan untuk tetap nge-date. Kadang aku suka kirimin makanan ke kantornya. Kami usahakan juga untuk selalu ngobrol, misalnya saat pulang kantor, di jam 6-7 malam. Kemudian di jam 8-9 malam, kita main dengan Saga atau baca buku sampai tidur. Sisanya, antar Saga sekolah dan les sudah ada jadwalnya. Kalau memang tidak bisa, aku tak jarang minta bantuan kakek atau nenek Saga.
Nah, di tengah-tengah waktu yang lain itu, aku mengerjakan hal lain. Setiap bangun tidur, aku buka kalender, apa yang harus aku kerjakan dan lihat waktunya. Dan sebisa mungkin aku juga menyelipkan waktu untuk olahraga. Kebetulan aku olahraga itu masih 5-6 kali dalam seminggu. Kalau tidak mampu offline, aku usahakan cari kelas online, jadi bisa olahraga dari rumah. Intinya, setting routines dulu, tahu prioritas, dan sisanya mengikuti saja.
Bagaimana membangkitkan mood untuk ngonten?
Meski terkadang malas, ngonten itu harus. Beruntungnya aku punya tim yang baik banget. Mereka bantu riset kontenku, mana yang engagement-nya bagus, lalu konten apa lagi yang harus aku buat selanjutnya. Sebenarnya, saat membuat konten, aku fokus ke bagaimana followersku mengerti apa yang aku bicarakan. Zaman dulu kalau harus sambil joget-joget untuk menyampaikan point message-nya, ya, aku ikutan joget supaya mereka mengerti. Jadi, karena aku merasa this is my responsibility, this is my job, jadi harus mengikutilah tren belajar orang-orang dengan cara apa. Sisanya tetap aku masukkan basic research yang aku tahu.
(MB/VN/Photographer: Lintang Sukmana/Digital Imaging: Raghamanyu Herlambang/Stylist: Gabriela Agmassini/MUA: Arimbi (@arimbi_mua)/Hairstylist: Winda (@windajuniansa.artist))
