Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Bagi banyak orang tua, mendengar kabar bahwa bayi lahir sebelum waktunya pasti bikin cemas. Salah satunya ketika dokter mengatakan bayi lahir di usia 8 bulan atau sekitar 34-36 minggu kehamilan, yang secara medis disebut sebagai late preterm.
Moms & Dads mungkin bertanya-tanya bagaimana kondisi bayi prematur 8 bulan, apa saja risikonya, dan apakah ia bisa tumbuh sehat seperti bayi cukup bulan?
Secara definisi, WHO menjelaskan bahwa bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kategori ini dibagi lagi menjadi sangat prematur (kurang dari 32 minggu), dan moderate to late preterm (32-36 minggu).
Artinya, bayi prematur 8 bulan biasanya masuk kelompok late preterm dengan risiko yang lebih rendah dibandingkan bayi yang lahir di usia sangat prematur. Namun, ia tetap membutuhkan pemantauan ekstra.
Kabar baiknya, peluang hidup bayi prematur 8 bulan saat ini jauh lebih baik dibandingkan dulu, berkat kemajuan perawatan NICU dan teknologi medis. Namun, Moms & Dads tetap perlu memahami kondisi, risiko, serta cara mencegah bayi lahir prematur agar bisa lebih siap secara fisik dan mental.
Kondisi bayi prematur 8 bulan
Secara umum, bayi prematur 8 bulan sudah lebih matang dibandingkan bayi yang lahir di bawah 32 minggu, tetapi organ tubuhnya, seperti paru-paru, sistem saraf, dan saluran cerna, masih terus berkembang.
Pusat Neonatologi menjelaskan bahwa bayi prematur lebih rentan mengalami kesulitan bernapas, kesulitan menyusu, sulit menjaga suhu tubuh, dan membutuhkan perawatan di NICU untuk pemantauan ketat. Beberapa karakteristik umum bayi prematur 8 bulan adalah:
- Berat badan lahir cenderung lebih rendah dibandingkan bayi cukup bulan
- Kulit terlihat lebih tipis dan sensitif
- Otot dan refleks mengisap mungkin belum sekuat bayi cukup bulan, sehingga kadang perlu bantuan selang atau teknik menyusu khusus
- Lebih mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia) dan kadar gula darah rendah (hipoglikemia).
Jadi, walau secara kasat mata tubuh bayi tampak sudah besar, bayi prematur 8 bulan tetap memerlukan observasi dan perawatan lebih intensif, terutama di awal kehidupan.
Baca juga: Ini Manfaat Pemberian ASI Eksklusif untuk Bayi Prematur
Penyebab bayi lahir prematur 8 bulan
Orang tua mungkin sering merasa bersalah ketika bayi lahir prematur, padahal faktanya, banyak kasus terjadi tanpa penyebab yang jelas. World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa persalinan prematur bisa terjadi secara spontan (kontraksi datang sendiri sebelum waktunya) atau karena dokter perlu mengakhiri kehamilan lebih awal demi keselamatan ibu atau janin.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko bayi prematur 8 bulan antara lain:
1. Infeksi selama kehamilan. Infeksi pada saluran kemih, infeksi ketuban, atau infeksi sistemik tertentu dapat memicu kontraksi dini dan pecahnya ketuban sebelum waktunya.
2. Kehamilan ganda (bayi kembar). Kehamilan kembar dua, tiga, atau lebih, memiliki risiko lebih tinggi melahirkan prematur karena rahim menanggung beban lebih besar dalam waktu yang lebih singkat.
3. Kondisi kesehatan ibu. Tekanan darah tinggi (preeklampsia), diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, atau kelainan bentuk rahim dapat membuat dokter memutuskan untuk melahirkan lebih awal demi keselamatan ibu dan bayi.
4. Riwayat kelahiran prematur sebelumnya. CDC mencatat bahwa ibu yang pernah melahirkan prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan prematur lagi di kehamilan berikutnya.
5. Faktor gaya hidup dan sosial. Merokok, konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, stres berat, kurang gizi, hingga jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat meningkatkan risiko bayi prematur 8 bulan.
Penting untuk diingat, meski Moms sudah berhati-hati, kelahiran bayi prematur 8 bulan tetap bisa terjadi. Karena itu, fokus utama bukan menyalahkan diri sendiri, melainkan memahami kondisi dan bagaimana memberikan perawatan terbaik.
Risiko bayi prematur 8 bulan
Risiko bayi prematur 8 bulan bisa dibagi menjadi jangka pendek (di masa neonatal) dan jangka panjang.
Risiko jangka pendek
Studi tentang late preterm menunjukkan beberapa masalah yang lebih sering dialami bayi prematur 8 bulan dibandingkan bayi cukup bulan, seperti:
- Gangguan pernapasan, termasuk respiratory distress syndrome (RDS) karena paru-paru belum matang sepenuhnya.
- Hipotermia (suhu tubuh rendah) karena lapisan lemak tubuh belum cukup tebal.
- Hipoglikemia (gula darah rendah), yang bisa mengganggu fungsi otak bila tidak ditangani.
- Jaundice (kuning) akibat kadar bilirubin yang tinggi.
- Kesulitan menyusu, sehingga perlu pemantauan berat badan dan asupan nutrisi.
Risiko jangka panjang
Dalam jangka panjang, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi prematur, termasuk bayi prematur 8 bulan, memiliki risiko sedikit lebih tinggi untuk:
- Keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif.
- Masalah belajar, gangguan perhatian, atau kesulitan akademik di masa sekolah.
- Gangguan pernapasan kronis, gangguan jantung, atau masalah metabolik tertentu di usia dewasa, walaupun tidak terjadi pada semua orang.
Baca juga: Bayi Prematur dan Masalah Kesehatan yang Kerap Dialami
Cara mencegah bayi lahir prematur
Tidak semua kasus bayi prematur 8 bulan bisa dicegah, tetapi ada banyak langkah yang dapat membantu menurunkan risikonya, seperti:
1. Kontrol kehamilan rutin
Pemeriksaan kehamilan secara teratur membantu dokter memantau tekanan darah, kadar gula darah, pertumbuhan janin, dan kondisi plasenta. Bila ada tanda-tanda risiko persalinan prematur, dokter bisa mengambil langkah pencegahan lebih cepat.
2. Mengelola penyakit kronis sebelum dan selama hamil
Jika Moms memiliki hipertensi, diabetes, atau penyakit lain, usahakan kondisi tersebut terkontrol dengan baik sebelum program hamil dan selama kehamilan. Obat-obatan dan pola hidup mungkin perlu disesuaikan dengan arahan dokter.
3. Menghindari rokok, alkohol, dan obat terlarang
Merokok dan paparan asap rokok terbukti meningkatkan risiko persalinan prematur. Begitu juga dengan alkohol dan obat-obatan terlarang. Menghentikan kebiasaan ini adalah salah satu langkah terpenting untuk mencegah bayi prematur 8 bulan.
4. Menjaga nutrisi dan berat badan ideal
Asupan gizi seimbang (protein, zat besi, asam folat, kalsium, dan vitamin lain) penting untuk menjaga kesehatan ibu dan perkembangan janin. Berat badan yang terlalu rendah atau terlalu tinggi juga dapat meningkatkan risiko persalinan prematur.
5. Mengatur jarak kehamilan
Kehamilan yang terlalu dekat jaraknya (misal kurang dari 18 bulan dari persalinan sebelumnya) bisa meningkatkan risiko prematur. Perencanaan kehamilan yang matang membantu tubuh Moms punya waktu cukup untuk pulih.
6. Waspadai tanda persalinan prematur
Kenali gejala seperti kontraksi teratur sebelum 37 minggu, nyeri punggung bawah yang menetap, keluar lendir bercampur darah, atau ketuban pecah dini. Bila tanda-tanda ini muncul, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Memiliki bayi prematur 8 bulan memang bisa menjadi pengalaman emosional bagi orang tua. Namun, dengan perawatan NICU yang makin canggih dan pemantauan jangka panjang yang baik, banyak bayi prematur 8 bulan yang dapat tumbuh sehat, aktif, dan mencapai tonggak tumbuh kembang yang membanggakan. (MB/AY/SW/Foto: Freepik)
