Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Demam Turun Setelah Minum Obat Kemudian Naik Lagi? Ini Alasannya

Demam Turun Setelah Minum Obat Kemudian Naik Lagi? Ini Alasannya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Tidak ada yang lebih melegakan hati orang tua selain melihat angka di termometer turun setelah memberikan obat pereda demam kepada Si Kecil. Namun, rasa tenang itu sering kali berubah menjadi kebingungan dan kekhawatiran ketika beberapa jam kemudian, tubuh anak kembali terasa panas, bahkan mungkin lebih tinggi dari sebelumnya. Apa penyebab demam turun setelah minum obat kemudian naik lagi?

Memahami mekanisme demam dan cara kerja obat sangat penting untuk menjaga ketenangan kita sebagai orang tua. Berikut ini penjelasan mengapa demam turun setelah minum obat kemudian naik lagi.

Mengapa demam datang lagi dan lagi setelah minum obat?

1. Obat hanya bekerja sementara

Obat penurun panas, seperti parasetamol atau ibuprofen, memiliki durasi kerja yang terbatas. Umumnya, obat-obatan ini efektif menurunkan suhu tubuh selama 4- 6 jam. Saat Moms memberikan obat, zat aktifnya akan memblokir sinyal kimia di otak yang menyuruh tubuh menaikkan suhu.

Namun, ketika efek obat habis dan dibuang melalui urine, sinyal kimia tersebut mungkin masih ada jika infeksi virus atau bakteri belum sepenuhnya kalah. Akibatnya, "termostat" di otak kembali menyuruh tubuh untuk menaikkan suhu, dan demam pun muncul kembali.

2. Infeksi masih berlangsung

Selama virus atau bakteri masih aktif berkembang biak di dalam tubuh, sistem imun akan terus memproduksi zat-zat pirogen (zat penyebab demam). Ini adalah cara tubuh menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi kuman agar mereka mati.

Jadi, naik turunnya demam hanyalah tanda bahwa “pertempuran” di dalam tubuh masih berlangsung. Selama sumber infeksinya belum sembuh total, wajar jika suhu tubuh masih naik dan turun.

3. Waktu pemberian obat

Terkadang, demam naik kembali karena jeda waktu pemberian obat yang terlalu lama atau dosis yang belum disesuaikan dengan berat badan terkini anak. Metabolisme anak bekerja cepat, sehingga ketepatan dosis dan jadwal sangat berpengaruh pada efektivitas obat dalam mengendalikan gejala.

Baca juga: Obat-obatan Tradisional Penurun Demam Alami buat Anak

Berapa lama normalnya demam sembuh?

Fase demam virus (viral infection)

Sebagian besar demam pada anak disebabkan oleh infeksi virus (seperti flu atau infeksi saluran pernapasan atas). Pada kasus ini, demam biasanya memiliki pola yang khas:

Durasi: Umumnya berlangsung selama 3- 5 hari (72 jam adalah patokan umum untuk observasi).

Pola: Suhu cenderung lebih tinggi di sore atau malam hari dan menurun di pagi hari.

Siklus: Hari ke-1 hingga ke-3 biasanya adalah puncaknya, lalu berangsur turun dan jarak antardemam jadi lebih jarang.

Kapan harus khawatir?

Meskipun naik turunnya demam adalah hal yang normal, ada beberapa tanda bahaya yang mengharuskan Moms segera membawa Si Kecil ke dokter, yakni:

Usia: Bayi di bawah 3 bulan dengan suhu rektal 38 °C atau lebih harus segera mendapat penanganan medis.

Durasi: Demam yang berlangsung lebih dari 5 hari berturut-turut.

Kondisi umum: Anak terlihat sangat lemas, tidak mau minum sama sekali, bibir kering, buang air kecil sedikit, atau sesak napas.

Gejala lain: Muncul ruam kulit, kejang, leher kaku, atau muntah terus-menerus.

Bagaimana cara mengatasi demam yang naik turun?

Menghadapi demam yang persisten membutuhkan kombinasi antara perawatan medis dan kenyamanan di rumah (home treatment). Tujuan utamanya bukanlah membuat suhu menjadi normal seketika, melainkan membuat anak merasa nyaman (comfort goal).

1. Pemberian obat yang tepat

Jika anak merasa sangat tidak nyaman, rewel, atau kesakitan, pemberian antipiretik (penurun panas) sangat dianjurkan. Buat catatan kapan terakhir kali obat diberikan. Jangan berikan parasetamol lebih sering dari setiap 4 jam atau lebih dari 5 kali dalam 24 jam, kecuali atas saran dokter.

Pastikan dosis obat sesuai dengan berat badan anak, bukan hanya berdasarkan usia. Hindari memberikan parasetamol dan ibuprofen secara bergantian kecuali disarankan oleh tenaga medis, karena risiko kesalahan dosis bisa meningkat.

2. Jaga hidrasi tubuh

Kunci penyembuhan demam sebenarnya ada pada cairan. Saat suhu tubuh naik, cairan tubuh lebih cepat menguap, sehingga risiko dehidrasi meningkat. Karena itu, berikan air putih, ASI (untuk bayi), sup hangat, atau cairan elektrolit oral sesering mungkin dalam porsi kecil. Tanda hidrasi yang cukup bisa dilihat dari warna urine yang jernih dan frekuensi buang air kecil yang normal (tiap 3-4 jam).

3. Kompres hangat, bukan dingin

Mengompres dengan air dingin justru akan membuat pembuluh darah menyempit (vasokonstriksi) dan membuat tubuh menggigil. Menggigil justru akan menaikkan suhu tubuh lebih tinggi lagi. Sebaliknya, kompres hangat membantu membuka pori-pori kulit sehingga panas tubuh bisa keluar melalui penguapan. Letakkan kompres di lipatan tubuh, seperti ketiak dan selangkangan atau seka seluruh tubuh anak.

4. Kenakan anak pakaian yang nyaman

Hindari membungkus anak dengan selimut tebal atau pakaian berlapis saat demam sedang tinggi. Hal ini dapat memerangkap panas tubuh dan mencegah suhu turun. Kenakan pakaian berbahan katun tipis yang menyerap keringat. Biarkan sirkulasi udara di kamar tetap baik, tetapi hindari AC atau kipas angin yang langsung mengarah ke tubuh anak.

5. Pantau aktivitas dan istirahat

Biarkan tubuh Si Kecil beristirahat untuk memfokuskan energinya melawan infeksi. Tidak perlu memaksa anak tidur terus-menerus jika ia ingin bermain ringan di tempat tidur, tetapi batasi aktivitas fisik yang berat. Sentuhan fisik seperti pelukan dari Moms juga terbukti menurunkan tingkat stres pada anak, yang dapat membantu proses pemulihan.

Baca juga: 10 Cara Mengatasi Anak Demam di Malam Hari

Menghadapi kondisi demam anak yang naik turun memang menguji kesabaran dan ketahanan mental kita sebagai orang tua. Namun, tetaplah tenang dan percaya pada insting keibuan Anda. Berikan kenyamanan maksimal, pantau tanda-tanda dehidrasi, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika Anda merasa ada yang tidak beres. (MB/AY/SW/Foto: Freepik)