Type Keyword(s) to Search
ASK THE EXPERT

Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi: Kenali Gejala Sejak Dini dan Cara Penanganannya

Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi: Kenali Gejala Sejak Dini dan Cara Penanganannya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Dijawab oleh: dr. Aditya Agita Sembiring, Sp. J.P, Subsp. K.Ped.P.J.B. (K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan di RS Pondok Indah – Puri Indah.

Selama ini, banyak orang tua mengira penyakit jantung hanya dialami orang dewasa atau lansia. Padahal, ada kondisi yang sudah terjadi sejak bayi lahir, bahkan sejak masih dalam kandungan. Kondisi tersebut dikenal sebagai Penyakit Jantung Bawaan (PJB), yaitu kelainan struktur jantung yang muncul sejak lahir dan dapat mengganggu aliran darah di dalam jantung maupun ke seluruh tubuh.

Secara global, penyakit jantung bawaan bukan kasus yang jarang. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan sekitar 8 dari 1.000 bayi lahir dengan PJB. Bahkan, 1 dari 4 bayi dengan kondisi ini memerlukan intervensi medis darurat, baik melalui tindakan bedah maupun non-bedah. Di Indonesia sendiri, data prevalensinya memang masih terbatas, namun angka global tersebut menjadi pengingat bahwa kondisi ini perlu mendapat perhatian serius.

Untuk meningkatkan pengetahuan tentang PJB, simak wawancara Mother & Beyond dengan dr. Aditya Agita Sembiring, Sp. J.P, Subsp. K.Ped.P.J.B. (K) berikut ini, Moms.

T: Apa penyebab penyakit jantung bawaan?

J: Hingga kini, penyebab pasti penyakit jantung bawaan belum sepenuhnya diketahui. Namun, penelitian menunjukkan adanya peran faktor genetik dan faktor eksternal selama masa kehamilan.

Beberapa kelainan genetik diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko PJB, seperti Down syndrome dan Turner syndrome. Selain faktor genetik, infeksi yang dialami ibu saat hamil (seperti rubella dan sifilis) juga dapat mengganggu pembentukan jantung janin, terutama pada trimester pertama yang merupakan fase kritis perkembangan organ.

Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya obat anti-jerawat berbahan aktif isotretinoin atau beberapa jenis obat anti-epilepsi, juga disebut berisiko bila dikonsumsi tanpa pengawasan medis saat kehamilan. Karena itu, konsultasi dengan dokter sebelum merencanakan kehamilan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko.

T: Apa saja gejala yang perlu diwaspadai orang tua?

J: Tidak semua bayi dengan penyakit jantung bawaan langsung menunjukkan gejala. Pada beberapa kasus, tanda-tanda baru terlihat ketika bayi mulai tumbuh.

Orang tua perlu peka jika bayi tampak cepat lelah saat menyusu, menyusu dalam waktu lama tetapi tidak efektif, atau sering berhenti di tengah proses menyusu. Pada anak yang lebih besar, tanda kelelahan bisa terlihat dari kebiasaan sering jongkok setelah beraktivitas.

Gejala lain yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Pertumbuhan dan berat badan tidak sesuai usia
  • Infeksi paru berulang
  • Sesak napas, terutama saat demam
  • Bibir, lidah, atau ujung kuku tampak kebiruan (sianosis)
  • Pembengkakan pada perut atau tungkai

Pada kondisi yang lebih berat, PJB dapat menyebabkan gagal jantung dan berisiko fatal. Karena itu, orang tua memegang peran penting sebagai garda terdepan dalam mengenali gejala awal penyakit jantung bawaan pada bayi.

Baca juga: Bocor Jantung pada Anak, Kenali Penyebab dan Penanganannya!

T: Bagaimana diagnosis PJB ditegakkan?

J: Jika dicurigai adanya gangguan jantung, dokter akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Selanjutnya, pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk memastikan kondisi jantung.

Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi foto rontgen dada untuk melihat ukuran dan bentuk jantung, serta elektrokardiografi (EKG) untuk menilai aktivitas listrik jantung.

Pemeriksaan yang menjadi standar emas dalam diagnosis penyakit jantung bawaan adalah ekokardiografi (echocardiography). Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menampilkan struktur jantung dan aliran darah secara detail. Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat melakukan kateterisasi jantung untuk menilai tekanan dan aliran darah di dalam ruang jantung dan pembuluh darah besar.

T: Bagaimana penanganan PJB pada anak?

J: Penanganan PJB sangat bergantung pada jenis dan tingkat keparahan kelainan. Tidak semua kasus memerlukan tindakan segera. Pada beberapa kondisi, dokter akan memantau pertumbuhan anak hingga mencapai usia atau berat badan ideal sebelum melakukan intervensi.

Terapi dapat berupa pemberian obat untuk membantu kerja jantung, tindakan non-bedah seperti pemasangan balon atau stent, hingga operasi untuk memperbaiki kelainan struktural.

Selain pengobatan medis, dukungan orang tua berperan besar dalam menjaga kualitas hidup anak. Pola makan seimbang, aktivitas fisik ringan sesuai anjuran dokter, serta menghindari paparan asap rokok dan polusi dapat membantu mengurangi beban kerja jantung.

Tak kalah penting, dukungan emosional dari keluarga menciptakan rasa aman bagi anak. Lingkungan yang penuh empati membantu anak tumbuh dengan percaya diri meski memiliki kondisi kesehatan tertentu.

T: Bagaimana harapan untuk anak dengan PJB?

J: Mendengar diagnosis penyakit jantung bawaan tentu bukan hal mudah bagi orang tua. Namun, perkembangan teknologi medis saat ini memberi harapan besar. Dengan deteksi dini, pemantauan rutin, dan penanganan yang tepat, banyak anak dengan PJB dapat tumbuh hingga dewasa dan menjalani hidup produktif.

Penyakit jantung bawaan bukan akhir dari segalanya. Dengan cinta, pemahaman, serta dukungan yang konsisten, setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang penuh warna. (MB/TW/Foto: Dok. Canva)