Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Glaukoma adalah penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia setelah katarak. Untuk itu, dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap penyakit glaukoma dengan memberikan info-info penting seputar glaukoma.
Pekan Glaukoma Sedunia sendiri merupakan inisiatif global dari World Glaucoma Association yang diperingati setiap minggu kedua bulan Maret. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pencegahan kebutaan akibat glaukoma, dengan tema tahun ini “Uniting for a Glaucoma-Free World.”
Fakta tentang glaukoma yang perlu Anda ketahui
Untuk meningkatkan kewaspadaan Moms akan bahaya glaukoma, ketahui 7 fakta berikut ini, ya.
1. Glaukoma tidak hanya menyerang lansia
Glaukoma adalah penyakit saraf mata yang bersifat progresif dan dapat merusak saraf optik secara perlahan. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata. Glaukoma dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun.
2. Glaukoma terjadi secara bertahap
Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg. Namun ketika tekanan tersebut meningkat, atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap. Kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga akhirnya berujung pada kebutaan permanen.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan glaukoma adalah gejalanya yang sering kali tidak muncul pada tahap awal. Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah cukup berat.
3. Glaukoma tidak dapat dipulihkan
Berbeda dengan katarak, kerusakan penglihatan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan. Meski demikian, kondisi ini sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan pemeriksaan mata secara rutin.
Di negara berkembang, diperkirakan sekitar 80–90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis. Sementara itu, menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada tahun 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040. Peningkatan ini berkaitan dengan pertumbuhan populasi serta meningkatnya angka harapan hidup.
4. Kasus glaukoma di Indonesia cukup sering terjadi
Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2023. Angka ini menunjukkan bahwa glaukoma masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan mata masyarakat dan membutuhkan perhatian lebih melalui edukasi serta deteksi dini.
5. Sering kali tidak menunjukkan gejala
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, “Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini.”
“Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi (miopia/hipermetropia), katarak, atau riwayat trauma mata. Namun, glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran menurut American Academy of Ophthalmology (2025), sementara pada orang dewasa penyakit ini sering berkembang tanpa gejala hingga tahap lanjut,” imbuh Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K).
6. Ada beberapa tipe glaukoma
- Glaukoma Primer Sudut Terbuka (Primary Open-Angle Glaucoma). Ini jenis paling umum. Penyakit berkembang perlahan dan sering tanpa gejala. Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap sehingga sering tidak disadari hingga stadium lanjut.
- Glaukoma Primer Sudut Tertutup (Angle-Closure Glaucoma). Jenis ini dapat terjadi secara mendadak dan menimbulkan gejala seperti nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur. Kondisi ini termasuk kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera.
- Glaukoma Kongenital. Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
- Glaukoma Sekunder. Terjadi akibat kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.
7. Sering disebut sebagai silent thief of sight
“Glaukoma sering disebut sebagai silent thief of sight karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit,” jelas Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), Dokter Mata Subspesialis Glaukoma di JEC Group. Ia menjelaskan bahwa kerusakan penglihatan akibat glaukoma bersifat permanen, sehingga pencegahan melalui deteksi dini sangat penting.
Itulah fakta penting tentang glaukoma yang menjadi penyebab kebutaan kedua di dunia. Pastikan Moms mewaspadainya dan tidak mengabaikannya agar dapat terhindar dari glaukoma. (MB/TW/Foto: Dok. Canva Pro)
- Tag:
- glaukoma
- kesehatan
- dokter mata
