Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Bagi sebagian wanita, hamil di atas usia 40 tahun mungkin menghadirkan perasaan yang campur aduk, antara rasa syukur yang luar biasa dan sedikit kekhawatiran. Seketika muncul pertanyaan, apakah ada risiko yang mungkin timbul saat hamil di usia tak muda lagi ini? Apa yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan saat hamil di atas usia 40 tahun? Hingga hal lainnya.
Kekhawatiran tersebut rasanya wajar menghinggapi Anda. Apalagi bila yang menjadi concern adalah kekuatan fisik. Tak dimungkiri bahwa seiring bertambahnya usia, kesehatan fisik mengalami penurunan. Namun, bukan berarti Anda tak bisa memiliki perjalanan kehamilan yang lancar, tenang, dan bahagia. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dan panduan menjaga kehamilan di atas usia 40 tahun.
Apakah berbahaya hamil di atas usia 40 tahun?
Pertanyaan ini mungkin sering terlintas di pikiran Anda atau bahkan ditanyakan oleh orang-orang terdekat. Secara medis, kehamilan di atas usia 35 tahun memang kerap disebut sebagai kehamilan berisiko tinggi (geriatri). Namun, kata "berisiko" bukan berarti kehamilan Anda pasti akan menghadapi masalah yang membahayakan.
Kemajuan teknologi medis dan perawatan kehamilan saat ini sudah sangat luar biasa. Banyak sekali ibu yang hamil di usia 40-an berhasil melewati masa kehamilan dengan lancar dan melahirkan bayi yang sehat. Kunci utamanya terletak pada pemantauan yang ketat dan perawatan proaktif.
Pada kehamilan di atas usia 40 tahun, dokter kandungan Anda akan memberikan panduan khusus dan jadwal pemeriksaan yang mungkin lebih sering dibandingkan ibu hamil yang berusia lebih muda. Selama Anda disiplin mengikuti anjuran medis dan peka terhadap sinyal tubuh, kehamilan ini bisa menjadi pengalaman yang aman dan indah.
Apa saja risiko hamil di atas usia 40 tahun?
Memahami risiko bukan berarti menakut-nakuti diri sendiri. Sebaliknya, pengetahuan ini adalah pelindung Anda agar bisa melakukan pencegahan sedini mungkin. Berikut beberapa kondisi yang perlu Anda perhatikan saat hamil di atas usia 40 tahun:
1. Diabetes gestasional
Ibu hamil di usia matang lebih rentan mengalami peningkatan kadar gula darah yang hanya terjadi selama masa kehamilan. Kondisi ini disebut diabetes gestasional. Jika tidak dikontrol, bayi bisa tumbuh terlalu besar, yang berpotensi menyulitkan proses persalinan.
2. Tekanan darah tinggi dan preeklampsia
Risiko mengalami lonjakan tekanan darah menjadi lebih tinggi saat hamil di usia 40-an. Dalam beberapa kasus, tekanan darah tinggi bisa berujung pada preeklampsia, yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda-tanda kerusakan organ lain, biasanya ginjal.
3. Kelahiran prematur
Peluang bayi lahir sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu sedikit lebih tinggi pada ibu yang berusia di atas 40 tahun. Kelahiran prematur memerlukan perawatan intensif bagi bayi karena organ-organnya, terutama paru-paru, mungkin belum berkembang sempurna.
4. Kelainan kromosom
Kualitas sel telur manusia menurun seiring bertambahnya usia. Hal ini meningkatkan peluang bayi lahir dengan kondisi kelainan kromosom, seperti down syndrome. Dokter biasanya akan menyarankan tes skrining genetik pada trimester pertama untuk mendeteksi kemungkinan ini sejak awal.
5. Risiko keguguran
Angka risiko keguguran memang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia ibu. Penyebab utamanya sering kali berkaitan dengan kelainan kromosom pada janin atau kondisi kesehatan bawaan yang sudah dimiliki ibu sebelum hamil.
Cara menjaga kesehatan kehamilan di atas usia 40 tahun
Meskipun ada risiko yang mengintai, ada banyak langkah nyata yang bisa Moms lakukan untuk melindungi diri dan Si Kecil dalam kandungan. Berikut panduan praktis untuk menjaga kehamilan Anda tetap sehat:
1. Disiplin melakukan pemeriksaan kehamilan
Jangan pernah melewatkan jadwal konsultasi dengan dokter kandungan Anda. Pemeriksaan rutin atau Antenatal Care (ANC) sangat penting untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah, serta perkembangan janin. Dokter juga bisa segera mengambil tindakan jika menemukan gejala yang tidak wajar.
2. Penuhi kebutuhan gizi seimbang
Pastikan piring Anda selalu terisi dengan makanan bernutrisi tinggi. Perbanyak konsumsi sayuran hijau, buah-buahan segar, protein tanpa lemak, dan biji-bijian utuh. Hindari makanan olahan dan batasi asupan gula harian.
3. Rutin mengonsumsi vitamin prenatal
Meskipun Anda sudah makan dengan sehat, vitamin prenatal tetap dibutuhkan untuk menutup celah nutrisi yang kurang. Asam folat, zat besi, kalsium, dan vitamin D adalah sahabat terbaik Anda saat ini. Pastikan Anda mengonsumsi suplemen sesuai dengan resep yang diberikan oleh dokter.
4. Tetap aktif dengan olahraga ringan
Berolahraga ringan dapat membantu meredakan nyeri punggung, mencegah sembelit, dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Moms juga bisa melakukan aktivitas ringan lain seperti berjalan kaki di pagi hari, berenang, atau mengikuti kelas yoga khusus ibu hamil.
5. Kelola stres
Kehamilan bisa memicu berbagai emosi yang naik turun. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang membuat Anda rileks, seperti membaca buku, mendengarkan musik klasik, bermeditasi, atau sekadar bercerita dengan pasangan dan sesama ibu hamil.
6. Cukupi kebutuhan istirahat dan tidur
Usahakan untuk mendapatkan tidur malam yang berkualitas selama 7 hingga 9 jam. Gunakan bantal penyangga kehamilan jika Anda mulai merasa kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman.
7. Pantau kenaikan berat badan
Kenaikan berat badan yang berlebihan bisa memperparah risiko diabetes gestasional dan tekanan darah tinggi. Diskusikan dengan dokter mengenai target berat badan yang paling sesuai dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) Anda sebelum hamil.
8. Jauhi asap rokok dan alkohol
Alkohol dan zat beracun dalam rokok dapat menghambat perkembangan janin dan meningkatkan risiko komplikasi serius. Pastikan juga Anda terhindar dari paparan asap rokok orang lain (perokok pasif).
Memiliki kehamilan yang sehat meski sudah berusia di atas 40 tahun bukan sekedar mimpi yang tak bisa terwujud. Dengan menjaga gaya hidup sehat, berpikiran positif, dan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis profesional sama dengan Anda sedang membangun fondasi terbaik bagi masa depan Si Kecil. (MB/Vonda Nabilla/TW/Foto: Dok.Freepik)
