Type Keyword(s) to Search
KID

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan saat Anak FOMO? Ini Jawabannya!

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan saat Anak FOMO? Ini Jawabannya!

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Moms, di era digital seperti sekarang ini, istilah Fear of Missing Out (FOMO) bukan hanya dialami oleh orang dewasa. Anak-anak pun bisa merasakan kecemasan karena takut tertinggal dari teman-temannya. Baik soal mainan atau produk terbaru, acara ulang tahun, tempat ‘nongkrong’, hingga aktivitas di media sosial.

Di usia anak, keinginan untuk merasa diterima oleh lingkungan mulai tumbuh semakin besar. Karena itu, saat mereka melihat teman-temannya tampak lebih seru atau lebih sering diajak, muncul rasa takut tertinggal yang akan memengaruhi emosinya. Apalagi, FOMO pada anak muncul dalam bentuk-bentuk yang sederhana dan kadang tidak disadari oleh orang tua. Berikut tanda anak mulai mengalami FOMO yang perlu Moms perhatikan!

Tanda anak mengalami FOMO

FOMO pada anak sering muncul secara halus, Moms. Tidak selalu berupa tantrum atau marah secara langsung. Kadang, anak hanya terlihat jadi lebih sensitif atau mudah cemas setelah melihat aktivitas teman-temannya. 

1. Sering membandingkan diri dengan temannya

Anak jadi lebih sering melihat apa yang dimiliki atau dilakukan teman-temannya dibandingkan fokus pada dirinya sendiri. Hal-hal sederhana seperti tidak punya barang yang sama atau tidak ikut suatu acara bisa membuat anak merasa kurang. Lama-lama anak lebih mudah merasa minder tanpa sadar lho, Moms!

2. Mood berubah setelah bermain gadget

Biasanya setelah melihat aktivitas teman-temannya di media sosial, anak bisa jadi tiba-tiba lebih diam atau sensitif. Kadang kelihatannya biasa saja, padahal sebenarnya Si Kecil sedang merasa iri atau ketinggalan. Apalagi yang dilihat terlihat seru dan tren. 

3. Selalu ingin ikut dan takut tertinggal

Anak jadi ingin selalu diajak ke mana-mana supaya tidak merasa tertinggal dari teman-temannya. Saat tidak ikut suatu kegiatan, reaksinya akan lebih sedih dari biasanya. Ini sering terjadi karena Si Kecil ingin tetap merasa dekat dan diterima di lingkungannya. 

4. Sulit menikmati momen yang sedang dijalani

Saat sedang bermain atau berkegiatan, pikiran anak malah sibuk memikirkan apa yang dilakukan oleh orang lain. Akibatnya, anak jadi kurang menikmati waktunya sendiri. Biasanya hal ini membuat anak merasa khawatir, apakah ia akan melewatkan momen tertentu. Selain itu, anak juga jadi mudah bosan atau selalu merasa ada yang kurang.

5. Terlalu memikirkan pertemanan dan penerimaan sosial

Di fase ini anak mulai sangat memikirkan siapa yang mengajaknya bermain atau apakah dirinya termasuk dalam circle pertemanan tertentu. Hal kecil soal pertemanan bisa terasa besar buat anak. Kalau terus menerus dibiarkan, anak akan jadi lebih gampang cemas, overthinking, bahkan insecure karena berpikir dirinya tidak mampu mengikuti pergaulan di lingkungannya. 

Apa yang bisa dilakukan orang tua saat anak FOMO?

1. Dengarkan dan validasi perasaan anak

Saat Si Kecil mulai berkata, “Semua teman aku ikut, cuma aku yang enggak!” Usahakan untuk tidak langsung menasihati. Anak biasanya ingin didengar dan dipahami terlebih dahulu. Kanchi Wijesekera, PhD, Psikolog Klinis sekaligus pendiri Milika Center for Therapy & Resilience, menyarankan orang tua untuk menciptakan ruang yang aman agar anak bisa bercerita tanpa takut dihakimi. Respons sederhana seperti, “Pasti sedih ya rasanya,” bisa membantu anak merasa lebih tenang dan dimengerti.

2. Ajarkan anak memahami realita media sosial

Anak perlu memahami media sosial itu bukan gambaran sepenuhnya kehidupan seseorang. Apa yang terlihat di internet sering kali hanya bagian terbaik yang dipilih untuk ditampilkan. Hal ini menjadi penting karena memberi Si Kecil pemahaman adalah aspek utama agar anak paham dengan adanya perspektif lain. 

3. Dorong anak melakukan aktivitas yang disukai

FOMO sering membuat anak hanya fokus pada kehidupan orang lain. Karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu Si Kecil menemukan aktivitas yang membuatnya nyaman dan percaya diri. Pernyataan ini juga sejalan dengan pendapat Leah Jacobs, LMHC, pendiri sekaligus direktur Digital Wellness Project, yang memaparkan bahwa aktivitas offline dapat membantu anak membangun rasa percaya diri tanpa terus bergantung pada validasi sosial. 

4. Tetapkan batas penggunaan gadget

Batasan penggunaan gadget bukan berarti melarang sepenuhnya, tetapi membantu mereka memiliki keseimbangan dalam penggunaan layar sehari-hari. Dengan adanya batasan ini anak jadi bisa lebih fokus untuk melakukan dan menekuni hal apa yang disukai. Jadi anak tidak hanya terfokus dengan kehidupan orang lain yang dilihat di media sosial. 

5. Kenalkan anak pada konsep JOMO

Selain FOMO, ada juga istilah Joy of Missing Out (JOMO) yaitu kemampuan menikmati hidup tanpa harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Leah Jacobs menjelaskan bahwa JOMO membantu anak memahami bahwa tidak ikut semua tren atau kegiatan bukan berarti dirinya tertinggal. Justru, anak bisa belajar menikmati waktu sendiri dan merasa lebih tenang tanpa terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Membantu anak menghadapi FOMO bukan soal membuat mereka selalu ikut dalam setiap hal, tetapi membantu mereka merasa cukup dengan dirinya sendiri. Ketika anak tumbuh dengan rasa aman, diterima, dan didengar di rumah, mereka akan lebih mudah membangun kepercayaan diri tanpa terus mencari validasi dari lingkungan sekitarnya. (MB/RAI/RF/Foto: Freepik)