Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Waspadai Gejala Kanker Endometrium Sebelum Terlambat

Waspadai Gejala Kanker Endometrium Sebelum Terlambat

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Moms, pernahkah Anda mengalami menstruasi yang tiba-tiba lebih banyak dari biasanya, muncul flek di luar jadwal haid, atau bahkan mengalami pendarahan setelah menopause? Meski sering dianggap sebagai perubahan hormon yang normal, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan begitu saja. 

Pendarahan yang tidak normal juga bisa menjadi salah satu tanda kanker endometrium lho, Moms. Kanker ini sering kali tidak disadari oleh penderita pada fase awal. Karena keluhannya sering terlihat seperti masalah menstruasi biasa, dan banyak perempuan yang menunda untuk memeriksakan diri ke dokter. 

Kenapa kanker endometrium bisa terjadi?

Kanker endometrium adalah kanker yang tumbuh pada lapisan paling dalam rahim atau endometrium. Kondisi ini terjadi ketika sel-sel pada lapisan rahim mengalami perubahan dan tumbuh secara tidak normal hingga membentuk jaringan kanker. Penyakit ini lebih sering dialami perempuan yang sudah memasuki masa menopause, tetapi bukan berarti Moms yang masih berada di usia produktif terbebas dari risikonya.

Angka kejadiannya pun terus meningkat. Secara global, kanker endometrium menyumbang sekitar 2,1% dari seluruh angka kejadian kanker, dengan sekitar 420.000 kasus baru setiap tahunnya. Di Indonesia, kanker ini menempati urutan ketiga kanker ginekologi setelah kanker serviks dan kanker ovarium. Karena itu, penting bagi setiap perempuan, termasuk Moms, untuk lebih mengenali penyakit ini sejak dini agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.

Menurut dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G., Subsp. Onk., Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi dari RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, penyebab kanker endometrium memang belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron. Saat kadar estrogen terlalu tinggi tanpa diimbangi progesteron, lapisan rahim dapat menebal secara berlebihan dan dalam jangka panjang berpotensi memicu terbentuknya sel kanker.

Selain faktor hormonal, beberapa kondisi juga dapat meningkatkan risiko kanker endometrium, seperti kelebihan berat badan, kurang beraktivitas fisik, infertilitas, penggunaan obat yang mengandung estrogen, serta penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, atau hipertrigliseridemia. Faktor keturunan, seperti Lynch syndrome atau mutasi gen BRCA, juga dapat meningkatkan risikonya.

Gejala kanker endometrium

Beberapa gejala kanker endometrium yang perlu diwaspadai di antaranya adalah:

1. Pendarahan yang tidak normal

Ini merupakan gejala paling umum dari kanker endometrium. Pada perempuan yang belum menopause, perdarahan bisa berupa menstruasi yang lebih banyak dari biasanya, siklus haid yang berubah, atau muncul flek di luar jadwal menstruasi. Sementara itu, pada perempuan yang sudah menopause, perdarahan sekecil apapun perlu diwaspadai karena seharusnya menstruasi telah berhenti sepenuhnya.

2. Keputihan yang berbeda

Selain perdarahan, keputihan juga bisa menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Keputihan yang encer, bercampur darah, atau muncul terus-menerus tanpa penyebab yang jelas sebaiknya tidak diabaikan. Meski tidak selalu menandakan kanker endometrium, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya dan mencegah kondisi yang lebih serius.

3. Nyeri pada panggul atau perut bagian bawah

Sebagian penderita kanker endometrium juga dapat merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul maupun perut bagian bawah. Keluhan ini terkadang muncul secara perlahan sehingga sering disangka sebagai nyeri haid atau gangguan pencernaan biasa. Jika rasa nyeri berlangsung dalam waktu lama, semakin sering muncul, atau disertai perdarahan yang tidak normal, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

4. Nyeri saat berhubungan intim atau buang air kecil

Pada beberapa kasus, kanker endometrium juga dapat menyebabkan rasa nyeri saat berhubungan intim maupun ketika buang air kecil. Keluhan ini terjadi karena adanya perubahan pada jaringan di sekitar rahim. Meski gejala ini tidak selalu dialami setiap perempuan, Moms tetap perlu waspada apabila rasa nyeri muncul berulang atau disertai gejala lain, seperti perdarahan atau keputihan yang tidak biasa.

Bagaimana penanganan kanker endometrium? 

Kabar baiknya, Moms, kanker endometrium memiliki peluang kesembuhan yang cukup tinggi jika berhasil dideteksi sejak stadium awal. Karena itu, jangan menunda untuk memeriksakan diri bila mengalami gejala yang mencurigakan. Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar pula peluang pengobatan memberikan hasil yang optimal.

Menurut dr. Renny, penanganan kanker endometrium akan disesuaikan dengan stadium penyakit, usia, kondisi kesehatan, hingga rencana kehamilan pasien. Operasi menjadi pilihan utama pada sebagian besar kasus. Namun, dokter juga dapat merekomendasikan radioterapi, kemoterapi, atau terapi hormonal sesuai dengan kondisi masing-masing pasien agar hasil pengobatan lebih optimal.

Meski diagnosis kanker tentu bukan hal yang mudah diterima, Moms tidak perlu menghadapinya sendirian. Dengan penanganan yang tepat dan dukungan dari orang-orang terdekat, peluang untuk menjalani pengobatan dengan lebih baik pun semakin besar. Jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi Moms.

Cara mencegah kanker endometrium

1. Jaga berat badan tetap ideal

Memiliki berat badan berlebih dapat meningkatkan produksi hormon estrogen dalam tubuh, yang menjadi salah satu faktor risiko kanker endometrium. Karena itu, menjaga berat badan tetap ideal bukan hanya baik untuk kesehatan secara umum, tetapi juga dapat membantu menjaga kesehatan rahim. Moms bisa memulainya dengan kebiasaan sederhana, seperti mengatur porsi makan dan tetap aktif bergerak setiap hari.

2. Terapkan pola makan sehat dan rutin berolahraga

Pola makan bergizi seimbang yang dipadukan dengan olahraga secara rutin dapat membantu menjaga berat badan sekaligus menurunkan risiko berbagai penyakit kronis. Tak perlu langsung melakukan olahraga berat, Moms. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau aktivitas fisik ringan selama setidaknya 30 menit setiap hari sudah menjadi langkah yang baik untuk menjaga tubuh tetap bugar.

3. Kelola penyakit penyerta dengan baik

Jika Moms memiliki diabetes melitus, hipertensi, atau gangguan metabolik lainnya, pastikan kondisi tersebut tetap terkontrol dengan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter. Pemeriksaan kesehatan secara rutin juga penting dilakukan agar kondisi tubuh tetap terpantau. Dengan begitu, risiko berbagai komplikasi, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan rahim, dapat diminimalkan.

4. Diskusikan penggunaan kontrasepsi dengan dokter

Bagi Moms yang berencana menggunakan kontrasepsi hormonal, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dokter akan membantu memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan Moms. Pada kondisi tertentu, pil kontrasepsi kombinasi yang mengandung estrogen dan progesteron diketahui dapat memberikan efek perlindungan terhadap lapisan endometrium.

Itulah beberapa informasi terkait kanker endometrium yang perlu Anda waspadai. Menjaga kesehatan bukan hanya tentang merawat diri sendiri, tetapi juga menjadi cara agar Moms tetap bisa ada di setiap momen berharga bersama keluarga. Karena itu, jangan abaikan perubahan sekecil apapun yang terjadi pada tubuh, terutama jika muncul perdarahan yang tidak normal. 

Semakin cepat kanker endometrium dikenali, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Jadi, jika Moms merasakan gejala yang mencurigakan, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)