Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Moms, preeklamsia sering kali tidak disadari karena gejalanya yang bisa sangat samar bahkan nyaris tidak terasa. Padahal, kondisi ini termasuk penyebab utama komplikasi serius pada ibu dan janin. Yuk, kenali tanda-tandanya dan kapan harus ke dokter.
Apa itu preeklamsia?
Preklamsia adalah komplikasi kehamilan yang ditandai dengan naiknya tekanan darah secara signifikan, biasanya disertai tingginya kadar protein dalam urine. Kondisi ini umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, dan paling sering terjadi di trimester ketiga, meski beberapa kasus bisa muncul lebih awal atau bahkan setelah melahirkan.
Pada kehamilan normal, pembuluh darah yang mengalirkan darah ke plasenta akan melebar agar suplai darah ke janin tetap lancar. Namun, pada preeklamsia, pembuluh darah ini tampaknya tidak berkembang atau berfungsi dengan baik, sehingga aliran darah menjadi terbatas.
Sistem kekebalan tubuh ibu yang bereaksi terhadap sel-sel plasenta juga berperan memicu peradangan pada pembuluh darah, dan riwayat keluarga dengan preeklamsia juga menjadi faktor pendukung meningkatnya risiko Moms untuk mengalami masalah ini.
Penyebab pasti kondisi tersebut memang belum diketahui dengan jelas, namun diduga berkaitan dengan gangguan pada proses pembentukan plasenta sehingga aliran darah menjadi tidak optimal.
Beberapa faktor juga bisa meningkatkan risikonya, seperti kehamilan pertama, riwayat hipertensi, penyakit ginjal, kehamilan kembar, obesitas, hingga riwayat preeklamsia sebelumnya. Dikarenakan kondisi ini bisa muncul tanpa adanya gejala yang mencolok, pemeriksaan kehamilan rutin jadi kunci utama untuk mendeteksinya.
Baca juga: Ini Nutrisi untuk Ibu Hamil dengan Preeklampsia, Jaga Kesehatan Janin
Ciri-ciri preeklamsia yang bisa dirasakan
1. Sakit kepala berat yang tidak kunjung reda
Rasa nyerinya cenderung menetap dan cukup mengganggu, bahkan setelah Moms beristirahat atau minum obat pereda nyeri biasa. Ini berbeda dari sakit kepala ringan akibat kelelahan, karena sakit kepala terkait preeklamsia biasanya lebih berat, berdenyut, dan tidak kunjung membaik.
2. Pandangan tiba-tiba kabur atau muncul kilatan cahaya
Gangguan penglihatan ini terjadi karena tekanan darah tinggi memengaruhi pembuluh darah di area mata, sehingga Moms bisa melihat bayangan buram, bintik-bintik, atau kilatan cahaya tiba-tiba. Jika muncul bersamaan dengan sakit kepala, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.
3. Nyeri di ulu hati atau perut kanan atas
Keluhan ini sering disalah artikan sebagai gangguan pencernaan biasa, padahal bisa jadi tanda gangguan fungsi hati akibat preeklamsia. Rasa nyerinya biasanya menetap, tidak hilang meski sudah berganti posisi, dan kerap disertai rasa penuh atau tertekan di perut atas.
4. Mual dan muntah yang terasa lebih parah dari biasanya
Mual dan muntah memang wajar di awal kehamilan, tapi jika muncul kembali bahkan lebih parah di trimester ketiga, Moms perlu lebih waspada karena ini bisa jadi respons tubuh terhadap gangguan organ tertentu.
5. Bengkak yang muncul mendadak di wajah dan tangan
Berbeda dari bengkak ringan di kaki yang wajar menjelang akhir kehamilan, bengkak jenis ini datang tiba-tiba, cukup mencolok, dan tidak membaik meski sudah beristirahat. Bila disertai kenaikan berat badan drastis dalam beberapa hari, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Sayangnya, keluhan di atas kerap mirip dengan ketidaknyamanan kehamilan biasa, sehingga sering baru disadari setelah kondisinya cukup berat.
Ciri-ciri preeklamsia yang hanya terdeteksi saat kontrol
1. Kenaikan tekanan darah hingga 140/90 mmHg atau lebih
Angka ini baru diketahui lewat pengukuran tensi saat kontrol, dan biasanya perlu dikonfirmasi dua kali dengan jarak beberapa jam untuk memastikan bukan sekadar lonjakan sesaat. Karena tidak selalu disertai gejala fisik, banyak ibu hamil baru tahu tekanan darahnya tinggi saat memeriksakannya di fasilitas kesehatan.
2. Protein berlebih dalam urine (proteinuria)
Kondisi ini terdeteksi lewat tes strip urine sederhana saat kontrol, atau tes laboratorium lebih lengkap bila hasil awal mencurigakan. Adanya protein berlebih menandakan ginjal mulai bekerja tidak seperti biasanya.
3. Penurunan jumlah trombosit dalam darah
Kondisi ini hanya terlihat lewat tes darah di laboratorium, dan bisa menandakan preeklamsia sudah memengaruhi sistem pembekuan darah. Jika dibiarkan, penurunan trombosit yang signifikan bisa meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan.
4. Peningkatan enzim hati
Enzim hati yang meningkat jadi salah satu indikator bahwa fungsi hati mulai terganggu akibat tekanan darah tinggi yang berlangsung cukup lama. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan tes darah lain saat dokter mencurigai tanda preeklamsia. Inilah alasan kontrol kehamilan rutin, terutama trimester ketiga, tidak boleh dilewatkan meski Moms merasa baik-baik saja.
Perbedaan bengkak normal saat hamil dan bengkak yang perlu diwaspadai
Bengkak atau edema cukup umum dialami ibu hamil menjelang akhir kehamilan. Namun, tidak semua bengkak berarti tanda bahaya, Moms. Yang membedakan adalah pola munculnya dan bagian tubuh yang terkena.
Bengkak yang tergolong normal biasanya muncul bertahap di area kaki dan pergelangan kaki, memburuk menjelang sore setelah banyak berdiri atau duduk lama, dan mereda setelah kaki diistirahatkan.
Sedangkan, bengkak yang perlu diwaspadai, sebaliknya, muncul tiba-tiba dan cukup signifikan di wajah dan tangan, tidak membaik meski sudah beristirahat, serta sering disertai kenaikan berat badan drastis dalam waktu singkat. Jika Moms mengalami pola ini, apalagi disertai sakit kepala atau pandangan kabur, sebaiknya segera periksakan diri.
Baca juga: Kaki Bengkak saat Hamil 9 Bulan, Apakah Tanda Melahirkan atau Masalah Kesehatan?
Gejala berat yang perlu pertolongan segera
Ada beberapa kondisi yang tidak boleh ditunda dan memerlukan penanganan medis sesegera mungkin. Jika Moms mengalami salah satu atau beberapa hal berikut, segera hubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat:
1. Sakit kepala hebat yang tidak membaik
Meski sudah minum obat pereda nyeri dan beristirahat cukup lama, rasa nyerinya tetap terasa berat, berdenyut, dan cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini menandakan tekanan darah kemungkinan sudah cukup tinggi dan memengaruhi pembuluh darah di kepala.
2. Gangguan penglihatan
Termasuk pandangan kabur, melihat bintik-bintik atau kilatan cahaya, hingga kehilangan penglihatan sementara. Semakin sering muncul, semakin penting untuk segera diperiksa, apalagi jika disertai sakit kepala.
3. Nyeri tajam di ulu hati atau perut kanan atas
Berbeda dari rasa tidak nyaman biasa akibat pertumbuhan janin, nyeri ini terasa lebih tajam, menetap, dan tidak kunjung hilang meski sudah berganti posisi. Nyeri seperti ini bisa menandakan gangguan fungsi hati yang perlu segera dievaluasi.
4. Sesak napas
Bisa jadi tanda cairan mulai menumpuk di area paru-paru akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Jika Moms merasa napas menjadi lebih berat dari biasanya, terutama saat berbaring, jangan dianggap sepele.
5. Gerakan janin yang terasa berkurang
Jika Moms merasa Si Kecil jauh lebih jarang bergerak dari biasanya, atau pola gerakannya terasa berbeda dalam beberapa jam terakhir, jangan tunggu sampai besok untuk memeriksakan diri. Penurunan gerakan janin bisa jadi tanda aliran darah dan oksigen ke janin sedang terganggu.
Kombinasi ciri-ciri preeklamsia ini bisa menjadi tanda preeklamsia sudah berada pada tahap lebih berat, sehingga penanganan cepat sangat menentukan keselamatan Moms dan Si Kecil. Namun, ini hanya gambaran umum dan bukan pengganti diagnosis dokter. Jangan mendiagnosis diri sendiri atau mengonsumsi obat, termasuk aspirin, tanpa resep dokter. Jika Moms merasakan salah satu tanda di atas, terutama gejala berat, segera konsultasikan ke tenaga medis. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)
