Type Keyword(s) to Search
BUMP TO BIRTH

Cara Menghitung IMT untuk Mengetahui Status Gizi

Cara Menghitung IMT untuk Mengetahui Status Gizi

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Moms, pernah dengar istilah IMT waktu medical check-up atau lihat angka IMT di aplikasi kesehatan yang Moms pakai? IMT sering disebut-sebut sebagai patokan berat badan ideal, tapi banyak yang belum tahu cara menghitungnya sendiri, apalagi cara membaca artinya dengan benar. Padahal, cara menghitung IMT sederhana banget, kok, dan bisa Moms lakukan sendiri di rumah tanpa alat khusus.

Apa itu IMT?

IMT atau Indeks Massa Tubuh yang dalam bahasa Inggris disebut Body Mass Index (BMI) adalah ukuran yang digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang proporsional dengan tinggi badannya. IMT dihitung dari perbandingan berat badan dan tinggi badan. Lebih lanjut, IMT menjadi salah satu alat skrining awal yang murah dan praktis untuk mengetahui status gizi seseorang, meski tidak mengukur lemak tubuh secara langsung.

Rumus menghitung IMT adalah berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter yang dikuadratkan, atau bisa ditulis sebagai IMT = BB (kg) ÷ [TB (m) × TB (m)]. Jadi, Moms hanya perlu dua data, berat badan dalam satuan kilogram, dan tinggi badan yang diubah dulu ke satuan meter sebelum dikuadratkan.

Karena rumusnya sesederhana itu, IMT bisa dihitung sendiri kapan saja tanpa perlu alat khusus selain timbangan dan alat ukur tinggi badan. Namun, seperti alat skrining lainnya, IMT tetap perlu dibaca dengan tepat sesuai kategorinya, dan idealnya juga dipertimbangkan bersama kondisi kesehatan lainnya.

Cara menghitung IMT

Supaya lebih jelas, yuk kita praktikkan langsung dengan contoh perhitungannya, Moms. Misalnya, ada seseorang dengan berat badan 60 kg dan tinggi badan 1,60 m. Berikut langkah-langkah menghitung IMT-nya:

1. Catat berat badan dalam kilogram

Pada contoh ini, berat badannya adalah 60 kg. Pastikan angka ini diambil dari penimbangan terbaru, bukan berat badan lama, supaya hasil IMT-nya benar-benar mencerminkan kondisi saat ini.

2.Catat tinggi badan dalam meter

Kalau tinggi badan diukur dalam sentimeter (misalnya 160 cm), ubah dulu ke satuan meter dengan membagi 100, sehingga menjadi 1,60 m. Satuan meter ini wajib digunakan karena rumus IMT memang dirancang dengan tinggi badan dalam meter, bukan sentimeter.

3. Kuadratkan tinggi badan

Kalikan tinggi badan dengan dirinya sendiri: 1,60 m × 1,60 m = 2,56 m². Langkah ini sering terlewat atau tertukar dengan mengalikan dua kali tinggi badan tanpa dikuadratkan, padahal hasilnya akan berbeda jauh.

4. Bagi berat badan dengan hasil kuadrat tinggi badan

Yaitu 60 ÷ 2,56 = 23,4. Pembagian ini adalah langkah inti dari rumus IMT, jadi pastikan angka berat badan dan hasil kuadrat tinggi badan sudah benar sebelum dibagi.

5. Baca hasilnya sebagai nilai IMT

Dalam satuan kg/m². Pada contoh ini, hasil IMT-nya adalah 23,4 kg/m². Angka inilah yang selanjutnya perlu dicocokkan dengan tabel kategori, bukan dijadikan kesimpulan sendiri tanpa acuan yang jelas.

Setelah mendapatkan angka IMT, langkah selanjutnya adalah mencocokkan hasil tersebut dengan tabel kategori IMT, supaya Moms tahu berada di kategori mana. Angka 23,4 kg/m² pada contoh di atas, misalnya, akan masuk ke kategori tertentu yang bisa dicek di tabel pada bagian selanjutnya.

Baca juga: Berat Badan Ideal Bayi Usia 6 Bulan

Tabel kategori IMT dewasa

Setelah dapat angka IMT, langkah berikutnya adalah membacanya sesuai kategori. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merujuk pada standar WHO Asia-Pasifik untuk mengklasifikasikan IMT orang dewasa, yang sedikit berbeda dari standar WHO global karena mempertimbangkan karakteristik populasi Asia. Berikut tabelnya. 

 

Tabel ini berlaku untuk orang dewasa, bukan Si Kecil, remaja, atau ibu hamil, karena kategori di atas dirancang berdasarkan risiko kesehatan pada tubuh orang dewasa yang sudah selesai masa pertumbuhannya. Sebagai catatan, standar WHO Asia-Pasifik ini memang berbeda dengan standar WHO global (di mana ambang batas obesitas dimulai dari IMT 30), sehingga penting untuk selalu mencocokkan hasil IMT dengan standar yang memang berlaku di Indonesia.

IMT anak, remaja, dan ibu hamil tidak dibaca dengan cara yang sama

Moms, penting untuk dipahami bahwa tabel kategori IMT dewasa di atas tidak bisa langsung diterapkan pada Si Kecil, remaja, maupun ibu hamil. Ini karena tubuh Si Kecil dan remaja masih dalam masa pertumbuhan yang terus berubah seiring usia, sehingga IMT mereka perlu dibaca menggunakan IMT menurut umur dan jenis kelamin.

Status gizi anak biasanya dalam bentuk kurva pertumbuhan atau grafik persentil, bukan angka tunggal seperti pada orang dewasa. Si Kecil dengan usia dan jenis kelamin yang sama bisa punya rentang IMT normal yang berbeda dibanding orang dewasa, karena tubuhnya memang belum berhenti tumbuh.

Untuk kehamilan, kondisinya juga berbeda, Moms. IMT yang digunakan sebagai acuan sebaiknya adalah IMT sebelum hamil atau IMT pada trimester awal kehamilan, bukan IMT yang dihitung dari berat badan saat kehamilan sudah berjalan lanjut. Ini karena berat badan pada trimester akhir sudah mencakup berat janin, plasenta, cairan ketuban, dan volume darah yang meningkat. Sehingga kalau dipakai untuk menghitung IMT akan memberikan gambaran yang keliru soal status gizi Moms yang sebenarnya. IMT sebelum hamil inilah yang biasanya dipakai tenaga kesehatan sebagai acuan untuk menentukan target kenaikan berat badan yang ideal selama kehamilan berlangsung.

Jadi, kalau Moms ingin menghitung IMT Si Kecil, remaja, atau ibu hamil, sebaiknya konsultasikan ke tenaga kesehatan agar dibaca dengan acuan dan grafik yang tepat, bukan disamakan begitu saja dengan tabel kategori dewasa.

Baca juga: Ketahui Berat Badan Ideal Anak 0-12 Tahun Menurut WHO

Keterbatasan IMT yang perlu diketahui

Meski praktis, IMT bukan alat ukur yang sempurna, Moms. Ada beberapa keterbatasan yang penting untuk dipahami supaya hasil IMT tidak ditafsirkan secara berlebihan.

1. Tidak membedakan otot dan lemak

IMT hanya menghitung berdasarkan berat dan tinggi badan, sehingga tidak bisa membedakan apakah berat badan seseorang berasal dari massa otot atau jaringan lemak. Akibatnya, dua orang dengan angka IMT yang sama bisa punya komposisi tubuh dan kondisi kesehatan yang sangat berbeda.

2. Kurang akurat untuk atlet atau orang dengan massa otot besar

Atlet atau orang yang rutin latihan beban biasanya punya massa otot lebih tinggi, sehingga IMT mereka bisa terbaca "berlebih" padahal persentase lemak tubuhnya rendah. Kalau hanya berpatokan pada angka IMT, kondisi ini bisa salah diartikan sebagai kelebihan berat badan yang perlu diwaspadai.

3. Kurang tepat untuk lansia

Pada lansia, terjadi penurunan massa otot alami seiring usia, sehingga IMT normal belum tentu mencerminkan komposisi tubuh yang benar-benar sehat. Bisa saja seorang lansia dengan IMT "normal" sebenarnya sudah kehilangan cukup banyak massa otot tanpa disadari.

4. Tidak akurat pada kondisi edema

Penumpukan cairan berlebih di tubuh, misalnya pada kondisi edema, bisa membuat berat badan dan otomatis hasil IMT naik tanpa berkaitan dengan lemak tubuh sama sekali. Dalam kondisi seperti ini, angka IMT perlu ditafsirkan dengan hati-hati dan sebaiknya dikonfirmasi oleh tenaga kesehatan.

5. Tidak menggambarkan distribusi lemak tubuh

IMT tidak bisa menunjukkan di mana lemak tubuh menumpuk, padahal lemak di area perut (viseral) punya risiko kesehatan yang berbeda dibanding lemak di bagian tubuh lain. Karena itu, dua orang dengan IMT sama bisa punya risiko penyakit metabolik yang berbeda tergantung pola sebaran lemaknya.

Karena keterbatasan ini, IMT sebaiknya dipakai sebagai langkah skrining awal, bukan satu-satunya penentu status kesehatan seseorang.

Itulah informasi cara menghitung IMT yang bisa Anda lakukan. Idealnya, hasil IMT dilengkapi dengan pengukuran lain seperti lingkar pinggang, komposisi tubuh, atau pemeriksaan lanjutan dari tenaga kesehatan, supaya gambaran kondisi kesehatan Moms jadi lebih lengkap dan akurat. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)