Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Skoring TB Anak: Panduan untuk Deteksi Dini Tuberkulosis

Skoring TB Anak: Panduan untuk Deteksi Dini Tuberkulosis

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Mendapati anak batuk lebih dari dua minggu, berat badan tak kunjung naik, atau mendengar kabar bahwa ada anggota keluarga yang baru didiagnosis tuberkulosis (TB), situasi seperti ini bisa membuat hati orang tua langsung berdebar. Wajar sekali, karena TB pada anak memang berbeda dengan TB dewasa, gejalanya lebih samar, pemeriksaannya lebih kompleks.

Untuk membantu proses penilaian klinis, dokter anak di Indonesia menggunakan sistem skoring TB anak yang dikembangkan dan direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta Kementerian Kesehatan RI. Sistem ini bukan alat diagnosis instan—melainkan panduan terstruktur yang membantu dokter mengumpulkan data secara sistematis sebelum mengambil keputusan klinis.

Apa itu sistem skoring TB anak dan kapan digunakan?

Sistem skoring TB anak adalah alat bantu skrining berbasis skor numerik yang digunakan oleh dokter untuk menilai kemungkinan TB pada anak usia di bawah 15 tahun. Alat ini dikembangkan karena diagnosis TB pada anak secara bakteriologis (menemukan kuman Mycobacterium tuberculosis) sangat sulit dilakukan—dahak anak sulit dikumpulkan, dan jumlah kumannya sering kali sangat sedikit.

Menurut Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis dan panduan IDAI, sistem skoring ini direkomendasikan digunakan pada:

  • Anak yang memiliki kontak erat dengan pasien TB dewasa yang terkonfirmasi
  • Anak dengan gejala yang mengarah pada TB seperti batuk kronik, demam berulang, atau penurunan berat badan
  • Anak yang tinggal di daerah dengan prevalensi TB tinggi
  • Situasi di mana fasilitas pemeriksaan penunjang (seperti kultur dahak) tidak tersedia.

Sistem ini tidak dirancang untuk digunakan sendiri di rumah. Setiap parameter memerlukan penilaian klinis langsung, termasuk pemeriksaan fisik, pengukuran antropometri, dan interpretasi hasil uji Tuberkulin (Mantoux).

Baca juga: Awas Batuk Berkepanjangan pada Anak, Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini!

Parameter dalam tabel skoring TB anak dan nilainya

Berikut ini tabel skoring TB anak berdasarkan pedoman IDAI dan Kemenkes RI. Setiap parameter dinilai oleh dokter, lalu dijumlahkan untuk mendapatkan total skor.

Penjelasan setiap parameter

1. Kontak TB

Parameter ini menilai seberapa jelas riwayat kontak anak dengan pasien TB aktif. Semakin pasti kontak dengan pasien TB BTA positif (pasien yang menular), semakin tinggi skornya. Dokter akan menggali riwayat ini melalui anamnesis mendalam kepada orang tua.

2. Uji Tuberkulin (Mantoux)

Uji Mantoux dilakukan dengan menyuntikkan tuberkulin ke kulit lengan bawah, lalu dibaca hasilnya 48–72 jam kemudian. Reaksi positif (indurasi ≥10 mm pada anak tanpa imunosupresi) mendapatkan skor 3. Penting dipahami: hasil positif Mantoux bukan berarti anak sakit TB—bisa juga berarti anak pernah terpapar atau sudah divaksinasi BCG.

3. Status gizi

Gizi buruk dan kurang merupakan faktor risiko sekaligus dampak TB. Dokter akan mengukur berat dan tinggi badan anak, lalu membandingkannya dengan standar WHO. Parameter ini tidak bisa dinilai hanya dari penampilan.

4. Demam dan batuk kronik

Keduanya dinilai berdasarkan durasi, bukan keparahan. Demam tanpa sebab jelas selama ≥2 minggu dan batuk yang berlangsung ≥3 minggu menjadi penanda klinis penting.

5. Pembesaran kelenjar limfe dan pembengkakan sendi

Pembesaran kelenjar getah bening di leher yang teraba >1 cm, lebih dari satu kelenjar, dan tidak terasa nyeri bisa menjadi tanda TB kelenjar. Pembengkakan sendi atau tulang mengarah pada TB ekstraparu.

6. Foto toraks

Gambaran radiologis yang sugestif TB—seperti pembesaran kelenjar hilus, infiltrat, atau konsolidasi—akan memberikan skor tambahan. Namun, interpretasinya harus dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.

Baca juga: Tuberkulosis pada Bayi, Kenali Penyebab dan Gejalanya!

Cara membaca total skor TB anak tanpa mendiagnosis sendiri

Setelah semua parameter dinilai, dokter akan menjumlahkan skornya. Berikut ini panduan interpretasi berdasarkan pedoman nasional:

Mengapa orang tua tidak boleh mengisi atau menginterpretasikan sendiri tabel ini? Ada beberapa alasan kuat:

1. Beberapa parameter—seperti Mantoux dan foto toraks—hanya bisa dilakukan di fasilitas kesehatan.

2. Penilaian status gizi memerlukan pengukuran standar yang akurat.

3. Interpretasi foto toraks membutuhkan keahlian radiologi.

4. Skor yang sama bisa memiliki makna klinis yang berbeda, tergantung kondisi anak secara keseluruhan.

5. Sistem skoring ini sendiri adalah alat bantu, bukan pengganti penilaian dokter.

Pemeriksaan lanjutan yang tetap dibutuhkan pada dugaan TB anak

Bahkan ketika skor menunjukkan ≥6, diagnosis TB pada anak belum bisa ditegakkan hanya berdasarkan skor. Pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memperkuat atau menyingkirkan diagnosis.

Uji Tuberkulin (Mantoux) vs sistem skoring

Banyak orang tua mengira bahwa hasil Mantoux positif sudah cukup untuk memastikan TB. Faktanya, uji Mantoux adalah salah satu komponen dalam sistem skoring, bukan penentu tunggal. Hasil Mantoux positif bisa muncul karena:

  • Infeksi TB laten (terpapar, tetapi tidak sakit)
  • Efek sisa vaksinasi BCG
  • Infeksi mikobakteri nontuberkulosis
  • Foto toraks (rontgen dada).

Rontgen dada digunakan untuk melihat adanya gambaran sugestif TB seperti pembesaran kelenjar hilus atau efusi pleura. Namun, hasil normal tidak menyingkirkan TB, dan hasil abnormal tidak selalu berarti TB.

Pemeriksaan bakteriologis

Ini adalah pemeriksaan yang paling definitif, meski sulit dilakukan pada anak. Metode yang digunakan meliputi:

  • Pemeriksaan dahak langsung (sulit pada anak kecil; bisa dengan induksi dahak atau bilas lambung)
  • Kultur Mycobacterium tuberculosis (membutuhkan waktu hingga 8 minggu)
  • Tes Xpert MTB/RIF (lebih cepat dan sensitif; direkomendasikan WHO dan Kemenkes RI)
  • Pemeriksaan darah dan penunjang lain.

Dokter mungkin juga meminta pemeriksaan darah lengkap, LED (laju endap darah), atau pemeriksaan tambahan sesuai lokasi dugaan TB (misalnya analisis cairan serebrospinal pada dugaan TB meningitis).

Langkah orang tua jika anak kontak erat atau memiliki gejala TB

Mengetahui bahwa anak Anda pernah kontak dengan penderita TB memang mengkhawatirkan. Namun, ada langkah-langkah konkret yang bisa Anda lakukan—dan mengambil tindakan lebih awal selalu lebih baik.

1. Jangan tunggu gejala muncul

Jika ada anggota rumah tangga yang baru didiagnosis TB BTA positif, bawa anak ke fasilitas kesehatan segera, bahkan jika anak tampak sehat. TB laten pada anak justru tidak menunjukkan gejala apa pun.

2. Catat riwayat kontak dengan detail

Sebelum ke dokter, siapkan informasi berikut:

  • Siapa yang didiagnosis TB dan kapan
  • Seberapa sering dan seberapa dekat anak berada dengan orang tersebut
  • Apakah orang tersebut sudah memulai pengobatan TB.

3. Perhatikan tanda-tanda gejala TB pada anak

Gejala TB pada anak yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Batuk lebih dari 3 minggu yang tidak membaik dengan pengobatan biasa
  • Demam ringan yang hilang-timbul lebih dari 2 minggu
  • Berat badan turun atau tidak naik meski nafsu makan baik
  • Keringat malam berulang
  • Anak tampak lesu dan mudah lelah
  • Benjolan di leher yang tidak nyeri.

4. Bawa ke dokter anak atau puskesmas

Di puskesmas, anak akan mendapatkan penilaian skoring TB anak secara gratis sebagai bagian dari program penanggulangan TB nasional. Jika diperlukan, dokter akan merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap untuk pemeriksaan penunjang.

5. Pastikan vaksinasi BCG anak lengkap

Vaksin BCG tidak mencegah infeksi TB sepenuhnya, tetapi terbukti efektif mencegah bentuk TB yang paling berat pada anak—seperti TB meningitis dan TB milier. Pastikan anak Anda sudah mendapatkan BCG sesuai jadwal imunisasi nasional.

6. Jaga ventilasi dan kebersihan rumah

Selama masa pengobatan anggota keluarga yang sakit TB, pastikan rumah memiliki ventilasi yang baik, sinar matahari bisa masuk, dan pasien TB dewasa mengenakan masker serta tidak tidur sekamar dengan anak kecil hingga dinyatakan tidak menular oleh dokter.

Itulah penjelasan mengenai skoring TB anak. TB anak bisa diobati sepenuhnya jika ditemukan lebih awal. Sistem skoring TB anak adalah alat yang kuat—tetapi hanya jika digunakan dengan benar, oleh tenaga medis yang tepat, dan sebagai bagian dari evaluasi klinis menyeluruh. Sebagai orang tua, peran Anda adalah mengenali tanda-tanda awal dan segera mencari pertolongan medis. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)