Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Si Kecil lagi diare dan dokter meresepkan obat zinc? Atau mungkin Moms baru dengar soal suplemen zinc dan penasaran apakah anak perlu mengonsumsinya? Zinc memang sering dibahas dalam percakapan soal kesehatan anak. Namun, masih banyak orang tua yang bingung soal obat zinc untuk anak.
Zinc adalah mineral esensial yang direkomendasikan WHO untuk mengatasi diare pada anak dan mendukung tumbuh kembang optimal. Dosis harian yang umum digunakan adalah 10 mg untuk bayi di bawah 6 bulan dan 20 mg untuk anak usia 6 bulan ke atas, diberikan selama 10–14 hari.
Apa itu obat zinc dan kapan diberikan kepada anak?
Zinc merupakan mineral esensial yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan ratusan fungsi biologis—mulai dari mendukung sistem imun, membantu penyembuhan luka, hingga berperan penting dalam pembelahan sel dan sintesis protein.
Meski dibutuhkan dalam jumlah kecil, kekurangan zinc bisa berdampak besar pada kesehatan anak. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), defisiensi zinc merupakan salah satu masalah gizi mikro yang paling umum di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dapat memperlambat pertumbuhan, melemahkan daya tahan tubuh, dan memperparah penyakit infeksi seperti diare dan pneumonia.
Baca juga: Bantu Tingkatkan Daya Ingat, Ini Vitamin Otak Anak Rekomendasi Dokter
Kapan zinc perlu diberikan kepada anak?
Dokter biasanya merekomendasikan zinc dalam dua kondisi utama:
- Saat anak mengalami diare akut: WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian zinc sebagai bagian dari tata laksana diare pada anak sejak tahun 2004.
- Saat anak menunjukkan tanda-tanda kekurangan zinc: Misalnya pertumbuhan terhambat, nafsu makan berkurang, sering sakit, atau rambut rontok.
Zinc untuk diare anak bukan sekadar pelengkap. Penelitian menunjukkan bahwa suplementasi zinc dapat mempersingkat durasi diare hingga 25% dan mengurangi risiko diare berulang dalam 2–3 bulan berikutnya.
Baca juga: Makanan yang Baik Diberikan saat Bayi Mengalami Diare
Manfaat zinc untuk diare dan tumbuh kembang anak
Manfaat zinc untuk mengatasi diare anak
Saat anak diare, tubuh kehilangan banyak cairan sekaligus mineral penting, termasuk zinc. Kehilangan zinc memperlemah lapisan usus dan memperlambat pemulihan. Dengan memberikan suplemen zinc, integritas mukosa usus diperbaiki lebih cepat, sehingga penyerapan nutrisi kembali optimal dan frekuensi buang air besar berkurang.
Zinc untuk diare anak juga bekerja dengan cara meningkatkan produksi antibodi lokal di saluran pencernaan, sehingga infeksi yang menjadi penyebab diare dapat dilawan lebih efektif.
Manfaat zinc dalam tumbuh kembang anak
Manfaat zinc tidak berhenti pada penanganan diare. Mineral ini juga berperan krusial dalam:
- Pertumbuhan fisik: Zinc berperan dalam sintesis hormon pertumbuhan. Anak dengan kecukupan zinc optimal cenderung memiliki tinggi badan dan berat badan yang lebih sesuai dengan usianya.
- Perkembangan otak dan kognitif: Beberapa studi menunjukkan hubungan antara kadar zinc yang cukup dan kemampuan konsentrasi serta daya ingat pada anak usia sekolah.
- Kekebalan tubuh: Zinc membantu produksi sel T dan sel NK (natural killer), dua jenis sel imun yang menjadi garda terdepan melawan infeksi bakteri dan virus.
- Penyembuhan luka: Anak yang aktif dan sering luka ringan akan merasakan manfaat zinc dalam proses regenerasi kulit yang lebih cepat.
Dosis zinc untuk anak berdasarkan usia dan kondisi
Dosis zinc untuk anak berbeda-beda tergantung usia dan tujuan pemberiannya. Berikut ini panduan umum berdasarkan rekomendasi WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI):
Dosis zinc untuk diare akut pada anak
- Bayi < 6 bulan: 10 mg per hari selama 10–14 hari
- Anak 6 bulan–5 tahun: 20 mg per hari selama 10–14 hari.
Penting: Pemberian zinc untuk diare anak harus tetap dilanjutkan meskipun diare sudah berhenti sebelum 10–14 hari, karena zinc juga berperan dalam mencegah diare berulang dalam beberapa bulan ke depan.
Dosis zinc sebagai suplemen harian (untuk kekurangan zinc atau pertumbuhan)
Kebutuhan zinc harian berbeda dari dosis terapeutik. Angka kecukupan gizi (AKG) zinc untuk anak berdasarkan Kemenkes RI:
- Bayi 0–6 bulan: 1,1 mg/hari (idealnya dari ASI)
- Bayi 7–11 bulan: 2,5 mg/hari
- Anak 1–3 tahun: 3 mg/hari
- Anak 4–8 tahun: 5 mg/hari
- Anak 9–13 tahun: 8 mg/hari.
Jika Anda ingin memberikan zinc sebagai suplemen di luar kondisi diare, selalu konsultasikan dosis yang tepat dengan dokter atau tenaga kesehatan anak ya, Moms.
Bentuk sediaan dan cara memberikan zinc agar tidak dimuntahkan
Obat zinc sirup untuk anak adalah pilihan yang paling umum digunakan karena mudah disesuaikan dosisnya dan lebih mudah ditelan. Selain sirup, zinc tersedia dalam bentuk:
- Tablet dispersible (larut): Dilarutkan dalam air atau ASI sebelum diberikan. Praktis dan cukup akurat secara dosis
- Tablet biasa: Biasanya untuk anak yang lebih besar dan sudah bisa menelan tablet
- Sachet serbuk: Dicampurkan dengan sedikit air atau makanan.
Salah satu tantangan terbesar orang tua adalah anak yang menolak atau memuntahkan obat zinc. Beberapa tips praktis yang bisa Moms coba:
- Berikan setelah makan, bukan saat perut kosong. Zinc yang dikonsumsi saat perut kosong cenderung menyebabkan mual. Berikan zinc sekitar 30 menit setelah makan.
- Campurkan dengan ASI atau susu formula. Untuk bayi, zinc tablet dispersible bisa dilarutkan dalam sedikit ASI perah agar lebih mudah diterima.
- Gunakan sendok obat atau pipet. Masukkan perlahan ke sisi mulut anak, bukan langsung ke tenggorokan, untuk menghindari refleks muntah.
- Tunggu 30 menit jika anak muntah. Jika anak memuntahkan zinc dalam 30 menit setelah pemberian, ulangi dengan dosis yang sama. Jika lebih dari 30 menit, tidak perlu diulang.
- Berikan dalam jumlah kecil. Bagi dosis menjadi dua kali pemberian jika anak kesulitan menerima dosis penuh sekaligus. Konsultasikan dulu dengan dokter.
Efek samping, interaksi obat, dan tanda anak harus dibawa ke dokter
Efek samping zinc yang perlu Moms ketahui
Pada dosis yang tepat, zinc umumnya aman untuk anak. Namun, beberapa efek samping ringan yang mungkin muncul antara lain:
- Mual dan muntah: Paling sering terjadi jika zinc diberikan saat perut kosong
- Gangguan pencernaan ringan: Seperti nyeri perut atau diare sementara
- Rasa logam di mulut: Terutama pada anak yang lebih besar dan bisa mendeskripsikan sensasinya.
- Overdosis zinc (dosis sangat tinggi dalam jangka panjang) dapat mengganggu penyerapan tembaga (copper) dan zat besi dalam tubuh. Itulah sebabnya, penting untuk tidak memberikan zinc melebihi dosis yang dianjurkan tanpa petunjuk dokter.
Interaksi dengan obat lain
Zinc dapat berinteraksi dengan beberapa obat, yakni:
- Antibiotik (tetrasiklin dan fluorokuinolon): Zinc dapat mengurangi penyerapan antibiotik ini. Beri jarak minimal 2 jam antara konsumsi zinc dan antibiotik.
- Suplemen zat besi: Zinc dan zat besi bersaing untuk diserap di usus. Jika anak mendapat keduanya, konsultasikan jadwal pemberian yang tepat.
Kapan Moms harus segera membawa anak ke dokter?
Meski zinc relatif aman, ada kondisi yang memerlukan perhatian medis segera:
- Diare berlangsung lebih dari 3 hari meski sudah diberi zinc dan oralit
- Anak menunjukkan tanda dehidrasi berat: mata cekung, tidak mau minum, tidak buang air kecil lebih dari 6–8 jam
- Terdapat darah atau lendir dalam tinja
- Anak demam tinggi yang tidak turun
- Kondisi anak semakin memburuk, bukan membaik.
Itulah penjelasan mengenai obat zinc untuk anak. Zinc adalah mineral kecil dengan peran yang sangat besar untuk kesehatan anak. Namun, seperti semua suplemen dan obat-obatan, zinc paling efektif saat diberikan dalam dosis yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang benar. Jangan ragu untuk bertanya kepada dokter anak jika Moms masih bingung soal dosis zinc untuk anak berdasarkan usia atau kondisi tertentu. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)
