Type Keyword(s) to Search
BUMP TO BIRTH

Bolehkah Menahan Muntah saat Hamil?  Ini Jawaban dan Cara Mengatasinya

Bolehkah Menahan Muntah saat Hamil?  Ini Jawaban dan Cara Mengatasinya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Trimester pertama memang identik dengan drama mual yang datang tiba-tiba. Baru bangun tidur saja, perut sudah terasa naik-turun, belum lagi bau makanan yang biasanya disukai malah bikin Moms mau muntah di tempat. Pertanyaan yang sering muncul adalah mual saat hamil sebaiknya dimuntahkan atau ditahan.

Banyak Moms yang akhirnya memaksakan diri menahan karena takut mengganggu aktivitas, padahal ada juga yang sampai memaksakan muntah supaya lega lebih cepat. Sebelum salah langkah, yuk kita bahas satu per satu supaya Moms tahu mana yang aman dan mana yang justru berisiko.

Perlukah muntah ditahan saat ibu hamil merasa mual?

Pertanyaan ini sebenarnya sangat wajar muncul, apalagi buat Moms yang baru pertama kali hamil. Rasanya mual sudah cukup mengganggu, jadi wajar kalau ada dorongan untuk menahan supaya tidak sampai muntah di depan orang lain atau di tempat umum. Tapi sebenarnya, muntah saat hamil adalah respon alami tubuh terhadap perubahan hormon, terutama hormon hCG yang meningkat pesat di trimester awal.

Menahan muntah dengan paksa, misalnya dengan menegangkan otot perut atau menahan napas, justru bisa membuat Anda merasa lebih tidak nyaman. Tubuh yang sedang berusaha mengeluarkan sesuatu lewat refleks alami sebaiknya tidak dilawan secara berlebihan, karena hal ini bisa meningkatkan tekanan di area perut dan dada yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Jadi, kalau Moms merasa dorongan muntah itu muncul secara alami, tidak masalah untuk membiarkannya terjadi. Yang penting, lakukan dengan cara yang aman dan tenang, bukan dengan menahannya mati-matian sampai tubuh jadi tegang dan justru lebih lelah.

Jangan memaksakan untuk muntah

Disisi lain, ada juga Moms yang berpikir kalau muntah bisa bikin lega, jadi sengaja dipicu supaya mual cepat hilang. Nah, ini juga sebaiknya dihindari, ya, Moms. Memicu muntah secara sengaja tidak disarankan karena bisa mengiritasi kerongkongan dan membuat tubuh kehilangan cairan serta elektrolit lebih cepat dari yang seharusnya.

Sederhananya, biarkan tubuh bekerja sesuai responnya sendiri. Kalau memang mual reda tanpa harus muntah, justru baik untuk tubuh Anda, karena tidak kehilangan banyak cairan tubuh. Tapi kalau refleks muntah muncul secara alami, tidak perlu ditahan dengan paksa. Kedua hal tersebut bukan sesuatu yang perlu diintervensi secara berlebihan oleh Moms sendiri.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Moms menyikapi situasinya dengan aman. Saat merasa mual dan sepertinya akan muntah, usahakan duduk atau membungkuk sedikit ke depan, bukan berbaring telentang. Posisi telentang berisiko membuat isi lambung naik ke arah kerongkongan dengan cara yang tidak nyaman, bahkan berpotensi tersedak pada situasi tertentu. Jadi, cukup posisikan tubuh senyaman dan seaman mungkin, lalu biarkan prosesnya berjalan alami.

Baca juga: 5 Perbedaan Mual Hamil dengan Mual Maag yang Perlu Moms Tahu

Cara mengurangi mual dan menjaga cairan setelah muntah

Setelah muntah, biasanya Moms akan merasa sedikit lega, tapi ingat, ini sifatnya sementara. Tubuh baru saja kehilangan cairan, jadi ada beberapa langkah sederhana yang bisa Moms lakukan supaya kondisi tidak makin drop dan mual tidak gampang kambuh lagi.

  1. Berkumur setelah muntah

    Gunakan air bersih untuk membersihkan sisa asam lambung dari mulut. Selain menyegarkan, langkah ini membantu menjaga kondisi gigi dan gusi supaya tidak terpapar asam terlalu lama, karena asam lambung yang menempel bisa mengikis lapisan email gigi kalau dibiarkan berulang kali. Kalau perlu, Moms juga bisa menyikat gigi sekitar 30 menit setelahnya, jangan langsung, supaya email gigi yang sempat terkena asam tidak ikut tergesek saat masih lunak.
  2. Minum sedikit-sedikit, bukan langsung banyak

    Setelah muntah, tubuh memang butuh cairan pengganti, tapi minum dalam jumlah banyak sekaligus justru bisa memancing mual kembali karena lambung yang baru saja kosong, tiba-tiba menerima cairan dalam volume besar. Lebih baik minum air putih dalam tegukan kecil, diselingi jeda beberapa menit, atau ditambah cairan elektrolit ringan agar cairan dan mineral tubuh lebih cepat pulih tanpa membebani lambung yang masih sensitif.
  3. Makan porsi kecil tapi sering

    Dibanding makan banyak sekaligus yang bikin perut terasa penuh dan memicu mual lagi, coba atur pola makan jadi lebih sering dengan porsi yang kecil-kecil saja sepanjang hari, misalnya setiap dua sampai tiga jam sekali. Cara ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, yang mana penurunan gula darah juga sering jadi salah satu pemicu mual di pagi hari.
  4. Pilih makanan kering sebagai penahan awal

    Biskuit tawar atau roti panggang dapat membantu meredakan mual sebelum Moms lanjut makan makanan yang lebih berat, terutama di pagi hari saat perut masih kosong. Moms bahkan bisa menyiapkan beberapa keping di dekat tempat tidur, supaya bisa dikonsumsi sedikit sebelum benar-benar bangun dan berdiri, karena perubahan posisi mendadak saat perut kosong juga bisa memicu mual.
  5. Hindari makanan berbau tajam atau berminyak untuk sementara. 

    Aroma yang kuat dan tekstur berminyak cenderung memperburuk rasa mual yang belum sepenuhnya reda, jadi sebaiknya dihindari dulu sampai kondisi lebih stabil. Sebagai gantinya, Moms bisa memilih makanan dengan suhu ruang atau sedikit dingin, karena biasanya aromanya tidak setajam makanan yang masih panas.

Yang terpenting adalah Moms harus lebih peka dengan kondisi tubuh sendiri, ya. Setiap kehamilan bisa punya pola dan tingkat sensitivitas yang berbeda-beda, jadi tidak masalah kalau Moms perlu bereksperimen sedikit untuk menemukan kombinasi yang paling nyaman.

Baca juga: Makanan yang Efektif Mengurangi Mual saat Hamil

Obat dan vitamin pereda mual, ini pilihannya

Kalau mual dan muntah sudah cukup mengganggu aktivitas harian, Moms tidak perlu memaksakan diri untuk menahannya. Ada beberapa pilihan obat dan suplemen yang bisa didiskusikan bersama dokter kandungan, tergantung kondisi dan kebutuhan masing-masing.

  1. Vitamin B6 (Piridoksin)

    Vitamin ini jadi pilihan pertama karena tergolong sederhana, dijual bebas, dan relatif aman dikonsumsi selama kehamilan untuk meredakan mual ringan hingga sedang. Cukup mudah ditemukan di apotek.
  2. Mediamer B6

    Ini adalah obat kombinasi yang mengandung antihistamin (Pyrathiazine Theoclate) dan Vitamin B6 (Pyridoxine HCl), yang memang diformulasikan khusus untuk mengatasi mual dan muntah di awal masa kehamilan. Obat ini termasuk golongan obat keras sehingga wajib menggunakan resep dokter. 
  3. Ondansetron

    Obat ini biasanya baru dipertimbangkan untuk kasus mual dan muntah yang lebih berat, termasuk hiperemesis gravidarum, setelah pilihan yang lebih ringan belum memberikan hasil. Ondansetron tergolong obat keras dan penggunaannya perlu resep serta pengawasan dokter. 
  4. Domperidone atau Metoclopramide

    Kedua obat ini termasuk golongan antiemetik yang kadang diresepkan dokter untuk kasus mual muntah yang cukup mengganggu, namun keduanya tergolong obat keras dan penggunaannya pada ibu hamil harus benar-benar berdasarkan pertimbangan dokter kandungan, mengingat ada catatan keamanan khusus yang perlu diperhatikan.

Obat di atas sebaiknya dikonsumsi atas rekomendasi dan pengawasan dokter, bukan berdasarkan saran orang lain atau hasil pencarian sendiri di internet. Dosis dan jenis penanganan yang tepat bisa berbeda untuk setiap Moms, jadi jangan ragu untuk berkonsultasi secara detail soal seberapa sering mual dan muntah terjadi supaya penanganannya bisa lebih tepat sasaran.

Tanda hiperemesis gravidarum yang wajib diwaspadai

Meski mual dan muntah ringan tergolong wajar di masa kehamilan, ada batas yang perlu Moms perhatikan supaya tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, seperti hiperemesis gravidarum. Berikut beberapa tanda yang perlu segera mendapat perhatian medis:

  1. Tidak bisa menahan cairan sama sekali

    Kalau minum sedikit pun langsung dimuntahkan lagi, ini tanda tubuh sudah kesulitan mempertahankan asupan yang masuk, dan risiko dehidrasi bisa meningkat dengan cepat kalau kondisi ini berlangsung lebih dari beberapa jam.
  2. Urine sangat sedikit atau warnanya jauh lebih gelap dari biasanya. 

    Ini bisa jadi sinyal awal dehidrasi yang perlu segera ditangani sebelum semakin parah. Moms bisa mulai memerhatikan frekuensi dan warna urine sebagai indikator sederhana untuk mengetahui apakah cairan tubuh masih tercukupi atau tidak.
  3. Pusing hebat bahkan sampai pingsan

    Kondisi ini menandakan tubuh mulai kekurangan cairan dan energi secara signifikan, dan biasanya disertai dengan rasa lemas yang tidak biasa serta sulit berkonsentrasi, bukan sekadar pusing ringan yang hilang setelah duduk sebentar.
  4. Penurunan berat badan yang cukup signifikan

    Ini jadi sinyal bahwa tubuh sedang kekurangan asupan nutrisi yang serius akibat mual dan muntah yang terus-menerus, dan biasanya dokter akan memantau berat badan sebagai salah satu indikator utama untuk menilai tingkat keparahan kondisi.
  5. Muntah disertai darah

    Kondisi ini perlu diperiksakan segera, karena bisa menandakan iritasi pada saluran cerna bagian atas akibat muntah yang terlalu sering dan intens, dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa terjadi.
  6. Nyeri perut yang tidak biasa

    Nyeri yang cukup mengganggu dan berbeda dari kram ringan biasa sebaiknya tidak diabaikan, apalagi kalau disertai dengan rasa tegang atau nyeri yang menetap di satu titik tertentu.
  7. Demam

    Muntah yang disertai demam bisa menandakan ada masalah lain yang perlu dievaluasi oleh dokter, karena demam bukan gejala umum dari mual kehamilan biasa dan bisa menjadi tanda infeksi yang perlu ditangani terpisah.
  8. Gejala psikologis berat

    Perasaan cemas dan putus asa yang berlebihan akibat kondisi fisik yang terus menurun juga perlu mendapat perhatian, bukan hanya kondisi fisiknya saja. Kesehatan mental Moms selama kehamilan sama pentingnya, jadi jangan ragu untuk terbuka soal perasaan ini ke dokter atau orang terdekat.

Itulah penjelasan saat muncul pertanyaan mual saat hamil sebaiknya dimuntahkan atau ditahan. Kalau salah satu atau beberapa tanda di atas muncul, jangan ditunda lagi, ya, Moms, segera hubungi dokter atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat. Menjaga diri sendiri sama pentingnya dengan menjaga Si Kecil yang sedang tumbuh di dalam kandungan. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)