Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Mengapa Kesehatan Otak dan Kualitas Tidur Saling Berkaitan? Ini Jawabannya

Mengapa Kesehatan Otak dan Kualitas Tidur Saling Berkaitan? Ini Jawabannya

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Moms, pernah merasa sudah tidur cukup, tetapi saat bangun tubuh masih terasa lelah? Atau akhir-akhir ini Anda jadi lebih mudah lupa, sulit fokus, bahkan merasa kepala penuh dengan begitu banyak hal yang harus dipikirkan? Bisa jadi, bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat, tetapi otak juga sedang meminta perhatian.

Sebagai ibu, rasanya selalu ada saja yang harus dipikirkan. Mulai dari kebutuhan Si Kecil, pekerjaan, rumah, pasangan, hingga berbagai hal kecil yang sering kali hanya Moms yang ingat. Tidak heran jika waktu tidur menjadi salah satu hal yang paling mudah dikorbankan. Padahal, tidur yang berkualitas bukan hanya penting agar tubuh terasa segar keesokan harinya, tetapi juga berperan besar dalam menjaga kesehatan otak.

Tidur dan kesehatan otak ternyata memiliki hubungan dua arah. Ketika tidur terganggu, fungsi otak dapat ikut menurun. Sebaliknya, ketika otak berada dalam kondisi yang tidak optimal, kualitas tidur pun bisa ikut terganggu.

Saat tidur, otak tidak benar-benar beristirahat lho, Moms

Meski tubuh terlihat sedang beristirahat, otak tetap aktif selama kita tidur. Pada waktu inilah otak menjalankan berbagai proses penting, termasuk membantu mengolah informasi, menguatkan memori, dan mendukung proses pemulihan.

Itulah sebabnya, kurang tidur atau tidur yang sering terputus dapat membuat kita merasa lebih sulit berkonsentrasi, mudah lupa, lebih emosional, atau kurang optimal dalam mengambil keputusan. Jika terjadi terus-menerus, kualitas tidur yang buruk juga dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.

Sebaliknya, kesehatan otak juga dapat memengaruhi pola tidur. Stres dan beban pikiran, misalnya, dapat membuat Moms sulit memejamkan mata meski tubuh sudah lelah. Pada kondisi tertentu, gangguan kognitif atau masalah neurologis juga dapat berkaitan dengan perubahan pola tidur.

Jadi, jangan anggap remeh ketika tidur mulai tidak berkualitas. Bisa jadi, tubuh sedang memberikan sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.

Saatnya mengubah pola pikir, jangan menunggu sakit!

Sebagai masyarakat urban dengan mobilitas tinggi, menjaga kesehatan sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika sudah muncul keluhan, Moms. Deteksi dini dan langkah preventif justru dapat menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.

Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian Seraphim Medical Center menghadirkan Brain Wellness & Sleep Center sebagai solusi untuk membantu menangani berbagai masalah kesehatan kognitif dan gangguan tidur melalui pendekatan yang lebih menyeluruh.

Dalam acara press conference launching Brain Wellness & Sleep Center, Iwan A. Setiawan selaku Direktur Sales, Marketing & Business Development Bethsaida Healthcare mengatakan perubahan paradigma dari kuratif menuju preventif menjadi penting untuk membangun kualitas hidup yang lebih baik.

“Di masa sekarang, kami akan coba pendekatan yang lebih preventive. Sekarang kan banyak pasien datang ke rumah sakit sifatnya sudah kuratif atau akut, sudah terlalu bermasalah. Nah, Seraphim Medical Center hadir agar masyarakat tahu bahwa preventive action dan preventive medicine itu begitu penting. Jadi bagaimana kita menuju ke preventive medicine dan longevity-nya. Kita bukan cari umur panjang, melainkan panjang sehat.” ujarnya, (30/09/2026). 

Mengembalikan fungsi otak dan kualitas tidur dengan pendekatan modern

Seiring berkembangnya ilmu kesehatan, penanganan masalah otak dan tidur kini juga mulai bergerak ke arah pendekatan yang lebih modern. Tidak hanya mengandalkan pengobatan ketika masalah sudah muncul, tetapi juga memanfaatkan teknologi serta perubahan gaya hidup yang didukung oleh bukti ilmiah.

“Sekarang itu dunia sudah shift ke arah neuromodulasi. Jadi kita kembalikan fungsi otak dan kualitas tidur dengan menggunakan approach yang sedikit berbeda, yaitu dengan teknologi, dengan lifestyle changing, yang bentuknya berbasis evidence based medicine,” jelas dr. Febby Astari, IFMCP, Head of Medical Service & Product Development Seraphim Medical Center. 

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kesehatan otak dan tidur perlu dilihat secara menyeluruh. Bukan hanya berfokus pada gejala seperti sulit tidur atau mudah lupa, tetapi juga memahami faktor yang mendasarinya dan bagaimana kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Brain Wellness & Sleep Center di Seraphim Medical Center ini juga memastikan penanganan yang disesuikan dengan kondisi kesehatan pasien. Beberapa servis unggulan mereka diantaranya:

  • qEEG Brain Mapping yang merupakan screening pola otak untuk lebih mengenal otak.
  • Neurofeedback yang bertujuan untuk mengoptimalisasi fungsi otak.
  • Transcranial Pulse Stimulation (TPS) yaitu terapi stimulasi otak non-invasif untuk mendukung kesehatan otak dan meningkatkan kualitas tidur.
  • KINESIQ yang bertujuan untuk melatih keseimbangan, pola jalan, dan ortopedi 
  • Biophoton yaitu terapi berbasis cahaya non-invasif yang diterapkan sebagai pelengkap dalam proses pemulihan dan pengelolaan stress.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak bukan hanya tentang mempertahankan kemampuan berpikir, tetapi juga tentang menjaga produktivitas, keseimbangan emosi, kualitas hidup, dan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal.

“Kami meyakini bahwa deteksi dini kesehatan otak dan tidur yang berkualitas adalah fondasi penting bagi produktivitas dan kemajuan kita semua,” tutup Iwan. (MB/Vonda Nabilla/RF/Foto: Benzoix/Dok. Freepik & Seraphim Medical Center)