Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Pentingnya Pendekatan Multidisiplin dalam Perawatan Kanker Payudara

Pentingnya Pendekatan Multidisiplin dalam Perawatan Kanker Payudara

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Berdasarkan data GLOBOCAN 2024, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit ini. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia, lho, Moms. Tingginya angka kasus tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini, diagnosis yang tepat, serta penanganan yang sesuai karakteristik penyakit.

Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM), Kemenkes RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, menekankan bahwa keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara di Indonesia.

“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ujarnya. Ia mengimbau perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia.

“Masalah klasik penanganan kanker payudara di Indonesia antara lain fasilitas layanan terbatas, dan masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya deteksi dini,” ucapnya. Ini yang membuat pasien datang ke faskes sudah dalam kondisi stadium lanjut.

Kebijakan terkait deteksi dini oleh Kemenkes sudah dituangkan melalui rencana aksi nasional. “Target Kemenkes adalah 60% kasus kanker payudara bisa ditemukan di stadium awal. Dengan penemuan kasus yang lebih awal maka kesintasannya lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di stadium lanjut,” terangnya. 

Sayangnya di tahun 2025 hanya tercapai 10% secara nasional masih jauh dari target 60%. Dan di tahun 2026 per 30 September baru sekitar 16,19%.

Pentingnya kualitas hidup pasien kanker payudara

Penanganan kanker payudara tidak berhenti pada diagnosis dan pengobatan, tetapi juga mencakup pemulihan serta kualitas hidup pasien. Karena setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan berbeda, pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai spesialisasi medis dan berpusat pada pasien menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan kanker.

Pesan tersebut diangkat MRCCC Siloam Semanggi bersama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters”, dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara di Jakarta, Rabu (28/10).

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan “Setiap pasien memiliki perjalanan perawatan yang berbeda. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi multidisiplin agar setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kualitas hidupnya,” ujarnya.

Hospital Director MRCCC Siloam Semanggi, dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, MARS, menjelaskan bahwa pendekatan multidisiplin memungkinkan para dokter dari berbagai spesialisasi untuk bersama-sama mempertimbangkan pilihan terapi berdasarkan karakteristik penyakit, kondisi kesehatan, dan kebutuhan masing-masing pasien. 

“Masih banyak pasien yang datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut. Penting sekali untuk menyadari betapa pentingnya deteksi dini,” ujar dr. Dita. Ia mengingatkan, deteksi dini tidak harus dengan alat. Cara paling sederhana yaitu melakukan SADARI secara rutin setiap bulan.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM, menjelaskan bahwa kanker payudara memiliki beberapa subtipe, antara lain Luminal A, Luminal B, HER2-positif, dan triple negative. Karakteristik tumor tersebut, bersama stadium penyakit, menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan terapi.

“Biopsi dan pemeriksaan lanjutan penting untuk mengetahui karakteristik tumor sehingga pasien dapat memperoleh pengobatan yang sesuai,” jelasnya. Biopsi merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan hasil diagnosis yang pasti. 

Ia menyayangkan, kata kanker masih sering dianggap sebagai vonis mati. Tak bisa dipungkiri, diagnosis kanker pasti akan memengaruhi kondisi psikis pasien. 

“Beri waktu saat seseorang sedang kalut. Kadang kita ingin beri semangat, tapi tanpa disadari malah menjatuhkan mental. Cukup kasih waktu dan temani dia,” ujarnya.

Untuk pengobatan kanker sendiri bersifat spesifik dan individual. “Kalau belum ada penyebaran, benjolan kurang dari 2 cm, tidak dilakukan mastektomi di depan. Sekarang pengobatan dulu dengan kemoterapi misalnya, lalu operasi setelah tumor mengecil,” imbuh dr. Jeffry.

Dari sisi bedah onkologi, Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi, Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk, menjelaskan bahwa tindakan operasi disesuaikan dengan kondisi pasien. “Jika ditemukan dini, kanker memiliki kesempatan sembuh lebih baik. Namun harus diingat bahwa kanker bukan penyakit lokal. Operasi bukan berarti menyelesaikan segalanya karena sel kanker biasanya berinvasi ke sel-sel lain di seluruh tubuh (metastasis). Itu yang harus kita cegah dengan melakukan diagnostik dini dengan deteksi dini, USG, mammografi, atau MRI,” ujarnya.

Pemeriksaan diagnostik dengan radiologi, patologi, molekuler, dan metode lainnya, diperlukan untuk mengetahui tipe sel kanker dan penyebarannya, karena masing-masing sel kanker punya sifat berbeda-beda.

Setelah diagnosis ditegakkan baru masuk ke perencanaan terapi. Pilihan operasi antara lain mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh jaringan payudara, dan Breast Conserving Surgery (BCT), yaitu operasi yang mempertahankan sebagian jaringan payudara.

“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujarnya.

Selain pengobatan, proses pemulihan juga menjadi perhatian. Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Subspesialis Kardiorespirasi) MRCCC Siloam Semanggi, dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K), menyampaikan bahwa rehabilitasi setelah operasi kanker payudara perlu  disesuaikan dengan kondisi pasien agar fungsi tubuh dapat pulih secara bertahap. “Selain pasca operasi, rehabilitasi sebelum operasi juga penting. Ada tahapan panjang sebelum operasi. Di sinilah peranan rehab medik. Minimal untuk mengatasi kelelahan dan perubahan mood,” tuturnya.

Rehabilitasi medik pasca operasi dapat mencakup latihan rentang gerak bahu untuk mengurangi kekakuan, penguatan otot, serta penilaian dan penanganan pembengkakan lengan (limfedema) bila diperlukan. Tujuannya adalah mendukung pemulihan fungsi dan kemandirian pasien dalam aktivitas sehari-hari.

Dr. Anita menekankan tiga hal yang perlu dilatih dengan rehab medik. Yaitu latihan pernapasan (breathing), kekuatan (strengthening), dan ketahanan (endurance). 

“Setelah semua pengobatan selesai, bukan berarti dampak dari pengobatan pun selesai. Diperlukan early rehabilitation yang dilakukan secara kontinyu, yang direncanakan sesuai kondisi tiap pasien,” ucap dr. Anita. Hal tersebut akan membantu mencegah dan meminimalkan segala komplikasi, serta mendukung fungsi yang optimal untuk kembali beraktivitas seperti sebelumnya.

Melalui momentum Bulan Kesadaran Kanker Payudara, MRCCC Siloam Semanggi mengajak perempuan untuk lebih memperhatikan kesehatan payudara, termasuk memahami kapan dan bagaimana pemeriksaan perlu dilakukan. Komitmen ini juga diwujudkan melalui dukungan nyata untuk memperluas kesempatan mengakses deteksi dini. (MB/RF/Foto: Pexels)