Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Pernahkah Moms merasa hari sudah berakhir, anak-anak sudah tidur, pekerjaan rumah sudah beres, tetapi rasanya belum rela menutup mata? Alih-alih langsung tidur, Anda malah scroll media sosial, nonton drama favorit, atau sekadar menikmati keheningan rumah sendirian. Malam semakin larut, tetapi rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja. Fenomena ini disebut revenge bedtime procrastination.
Jika ini terdengar familiar, Moms tidak sendirian. Dan ternyata, kebiasaan ini dialami banyak orang tua yang hari-harinya penuh dengan tanggung jawab, mulai dari mengurus anak, pekerjaan, hingga rumah tangga.
Pengertian revenge bedtime procrastination
Revenge bedtime procrastination adalah fenomena ketika seseorang sengaja mengorbankan waktu tidurnya demi mendapatkan waktu luang untuk diri sendiri, terutama karena jadwal harian yang sudah terlalu padat. Konsepnya berakar dari bedtime procrastination, yaitu kebiasaan menunda waktu tidur yang sudah direncanakan tanpa adanya alasan eksternal yang menghalangi.
Yang membedakan revenge bedtime procrastination adalah unsur "balas dendamnya". Moms menunda tidur bukan karena lupa waktu, tetapi karena ingin "membalas" hari yang terasa tidak sepenuhnya milik sendiri. Bagi banyak ibu, larut malam jadi satu-satunya waktu di mana tidak ada yang meminta perhatian, tidak ada jadwal yang harus dikejar.
Baca juga: 7 Risiko Buruk Begadang dan Bahayanya bagi Kesehatan
Apa penyebab revenge bedtime procrastination?
Beberapa faktor yang sering memicunya antara lain:
- Rutinitas harian yang terlalu padat. Ketika siang dan sore habis untuk mengurus anak, pekerjaan, atau rumah tangga, malam hari jadi satu-satunya celah untuk bernapas sejenak.
- Kurangnya pengendalian diri terhadap distraksi digital. Media sosial atau tontonan favorit sangat menggoda, apalagi saat tubuh sebenarnya sudah lelah tetapi pikiran masih ingin me time.
- Stres dan tekanan dari pekerjaan atau tanggung jawab sehari-hari. Semakin tinggi tekanan yang dirasakan, semakin besar dorongan untuk mencari pelarian di malam hari.
- Pengaruh teknologi dan hiburan digital yang tersedia 24 jam. Kemudahan akses ke ponsel, media sosial, dan platform streaming membuat godaan untuk begadang semakin sulit dihindari.
Kombinasi faktor-faktor ini membuat revenge bedtime procrastination bukan sekadar soal "kurang disiplin", melainkan respons alami terhadap hari yang terasa tidak memberi ruang untuk diri sendiri.
Contoh revenge bedtime procrastination dalam keseharian
Agar lebih mudah dikenali, berikut ini beberapa contoh umum revenge bedtime procrastination yang mungkin terasa dekat dengan keseharian Anda.
- Sudah mengantuk sejak jam 9 malam, tetapi tetap terjaga sampai tengah malam hanya untuk menonton serial favorit
- Membuka media sosial "sebentar saja" sebelum tidur, lalu tanpa sadar sudah 1-2 jam berlalu
- Sengaja menunda waktu tidur meski tahu besok harus bangun pagi, karena merasa "belum punya waktu untuk diri sendiri" sepanjang hari
- Merasa lega dan tenang saat rumah sudah sunyi, lalu menggunakan waktu itu untuk melakukan hal-hal yang disukai, meski malam sudah larut.
Jika pola-pola di atas terasa akrab, itu tandanya Moms mungkin sedang mengalami revenge bedtime procrastination. Bukan hal yang perlu disesali, tetapi penting untuk dikenali agar bisa dikelola dengan lebih baik.
Dampak kurang tidur terhadap fokus dan kesehatan emosional
Menunda tidur sesekali mungkin tidak terasa masalahnya. Namun, jika terus berulang, revenge bedtime procrastination berkaitan dengan dampak negatif pada kesehatan secara menyeluruh, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, mencakup aspek fisik, mental, dan emosional.
Fenomena ini juga sering dialami oleh mahasiswa dan pekerja dengan tekanan akademik atau pekerjaan yang tinggi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Global Journal of Medical, Pharmaceutical, and Biomedical Update menemukan bahwa revenge bedtime procrastination berkaitan dengan kinerja akademis pada mahasiswa kedokteran. Artinya, kebiasaan ini tidak hanya memengaruhi rasa kantuk, tetapi juga kemampuan berpikir dan berkonsentrasi.
Baca juga: Bahaya Kurang Tidur pada Ibu Hamil, Jangan Anggap Sepele!
Bagi Moms yang menjalani hari dengan multitasking antara mengurus anak, pekerjaan, dan rumah tangga, kurang tidur bisa membuat fokus menurun, lebih mudah lelah, dan emosi menjadi lebih sensitif. Alih-alih merasa segar setelah me time di malam hari, Anda justru bisa terbangun keesokan harinya dengan rasa lelah yang berlipat ganda.
Jika gangguan tidur terasa berkepanjangan atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapat penanganan yang tepat.
Cara mengatasi revenge bedtime procrastination tanpa menghilangkan me time
Kabar baiknya, Moms tidak harus memilih antara tidur cukup atau menikmati waktu untuk diri sendiri. Berikut ini beberapa cara mengatasi revenge bedtime procrastination yang direkomendasikan oleh Sleep Foundation.
- Jaga waktu tidur dan bangun yang konsisten, termasuk di akhir pekan. Konsistensi ini membantu tubuh membentuk ritme alami yang membuat Anda lebih mudah mengantuk di jam yang sama setiap hari.
- Hindari konsumsi alkohol dan kafein di sore hingga malam hari, karena keduanya dapat mengganggu kualitas tidur meski Anda sudah berhasil tidur lebih awal.
- Hentikan penggunaan perangkat elektronik, seperti ponsel dan tablet, minimal 30 menit sebelum tidur. Cahaya biru dari layar bisa membuat otak tetap "terjaga" meski tubuh sudah lelah.
- Bangun rutinitas sebelum tidur yang menenangkan, seperti membaca buku, meditasi singkat, atau peregangan ringan. Rutinitas ini bisa menjadi bentuk me time baru yang tetap mendukung kualitas tidur.
- Pastikan kamar tidur nyaman, gelap, dan tenang agar tubuh lebih mudah rileks dan siap beristirahat.
Yang terpenting, ingatlah bahwa pola tidur yang sehat dibentuk melalui kebiasaan yang konsisten. Alih-alih mencari me time di jam-jam yang seharusnya untuk tidur, coba sisipkan momen kecil untuk diri sendiri di sela-sela hari, misalnya lima menit menyeruput kopi dengan tenang atau mendengarkan lagu favorit saat anak sedang bermain.
Revenge bedtime procrastination bukan tanda Moms gagal mengatur waktu, melainkan sinyal bahwa Anda membutuhkan lebih banyak ruang untuk diri sendiri di tengah kesibukan sehari-hari. Dengan mengenali pemicunya dan mulai membangun rutinitas tidur yang lebih sehat, Anda bisa tetap menikmati me time tanpa harus mengorbankan istirahat yang dibutuhkan tubuh dan pikiran, Moms. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)
