Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, niat baik untuk menjadi "orang tua yang menyenangkan" terkadang justru membuat batasan menjadi kabur. Inilah yang terjadi pada pola asuh permisif, gaya pengasuhan yang penuh kasih sayang, tetapi minim aturan.
Moms mungkin pernah merasa ragu menegakkan batasan karena takut dianggap terlalu keras atau justru sering mengalah demi menghindari drama di rumah. Nah, berikut ini MB akan membahas apa itu pola asuh permisif, ciri-cirinya dalam keseharian, dan langkah-langkah praktis untuk menerapkan batasan yang tepat buat anak dan konsisten.
Pengertian pola asuh permisif dan karakteristik utamanya
Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan saat orang tua sangat responsif terhadap kebutuhan dan keinginan anak, tetapi kurang menuntut dalam hal kedisiplinan dan tanggung jawab. Istilah lain yang sering digunakan untuk pola asuh ini adalah "indulgent parenting".
Konsep ini berakar dari penelitian psikolog Diana Baumrind pada tahun 1966, yang mengidentifikasi tiga gaya pengasuhan utama: otoriter, otoritatif (di Indonesia sering disebut demokratis), dan permisif.
Berdasarkan kerangka tersebut, pola asuh permisif berada di titik kehangatan tinggi tetapi kontrol rendah. Orang tua permisif umumnya mencintai anaknya dengan tulus dan ingin menjadi sosok yang dekat secara emosional. Sayangnya, keinginan ini sering kali membuat mereka enggan menetapkan aturan tegas atau memberikan konsekuensi atas perilaku anak.
Pilih gaya pengasuhan yang lebih terstruktur jika Moms merasa anak mulai kesulitan mengikuti aturan di luar rumah, seperti di sekolah atau lingkungan sosial. Namun, jika anak masih sangat kecil dan sedang membangun rasa aman, kehangatan tetap menjadi fondasi penting yang tidak perlu dikorbankan.
Baca juga: Mengenal Pola Asuh Strict Parents, Ini Ciri-cirinya dan Dampaknya pada Anak
Ciri-ciri pola asuh permisif dalam kehidupan sehari-hari
Mengenali ciri-ciri pola asuh permisif bisa membantu Moms mengevaluasi gaya pengasuhan yang diterapkan di rumah. Berikut ini beberapa tanda yang biasa muncul.
- Menghindari konfrontasi dan jarang menghukum. Orang tua permisif cenderung memilih jalan damai, bahkan ketika anak melanggar aturan yang sudah disepakati.
- Memberikan kebebasan besar. Anak diberi ruang luas untuk mengambil keputusan sendiri, termasuk dalam hal yang sebenarnya masih memerlukan pengawasan.
- Sangat responsif, bahkan pada permintaan yang tidak pantas. Demi menyenangkan anak, orang tua kerap mengabulkan permintaan yang sebenarnya kurang sesuai dengan usia atau situasi.
- Memilih menjadi teman, bukan figur otoritas. Hubungan orang tua-anak terasa setara, hingga batas antara "orang tua" dan "sahabat" menjadi tidak jelas.
- Memiliki harapan rendah terhadap kematangan dan tanggung jawab anak. Orang tua jarang mendorong anak untuk menyelesaikan tugas atau memikul konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Ciri-ciri ini biasanya tidak muncul sendiri-sendiri, melainkan sebagai pola yang konsisten dalam interaksi harian antara orang tua dan anak.
Contoh sikap orang tua permisif dan dampaknya pada anak
Untuk memahami pola asuh permisif secara lebih konkret, berikut ini beberapa contoh sikap orang tua permisif yang bisa membantu mempermudah pemahaman Anda.
- Jam tidur yang tidak konsisten. Seorang anak berusia 8 tahun meminta izin menonton televisi hingga larut malam meski besok harus sekolah. Orang tua permisif cenderung mengizinkan karena tidak ingin anak kecewa atau mengalami drama sebelum tidur.
- Tugas rumah yang diabaikan. Anak remaja tidak menyelesaikan tugas membereskan kamarnya selama berminggu-minggu. Alih-alih menegakkan konsekuensi yang sudah disepakati, orang tua memilih membereskannya sendiri agar suasana rumah tetap tenang.
- Permintaan yang berlebihan. Anak terus merengek meminta gadget baru meski belum waktunya mengganti yang lama. Orang tua akhirnya menyerah karena lelah menghadapi tangisan atau amukan anak.
Pola asuh seperti ini dalam jangka panjang dapat menimbulkan beberapa dampak pada anak, antara lain:
- Kesulitan mengontrol diri dan menunda kepuasan (self-control dan delayed gratification)
- Prestasi akademik yang rendah akibat motivasi belajar yang kurang
- Masalah perilaku, seperti agresivitas, sikap memberontak, hingga kenakalan remaja
- Kurangnya rasa tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban
- Harga diri yang sebenarnya rendah, meski secara tampilan anak terlihat percaya diri.
Penting untuk dipahami bahwa pola ini biasanya tidak muncul karena orang tua tidak peduli. Penyebab umum pola asuh permisif justru datang dari keinginan menjadi teman bagi anak, pengalaman masa kecil dengan pola asuh otoriter yang keras, rasa bersalah karena kesibukan dan kurangnya waktu bersama anak, atau sekadar kurangnya pengetahuan tentang cara menetapkan batasan yang sehat.
Perbedaan pola asuh permisif, otoriter, dan demokratis
Memahami perbedaan tiga gaya pengasuhan ini dapat membantu Moms menemukan titik keseimbangan yang tepat. Berikut ini perbandingannya.
Pilih pendekatan demokratis jika Moms ingin anak tumbuh mandiri sekaligus tetap menghormati aturan—karena gaya ini menggabungkan kehangatan tinggi dengan kontrol yang jelas. Menurut Kementerian Kesehatan RI, pola asuh yang baik adalah yang seimbang antara kasih sayang, dukungan, dan batasan yang jelas.
Baca juga: 5 Dampak Pola Asuh Otoriter bagi Perkembangan Anak
Bagaimana cara menerapkan batasan yang hangat dan konsisten?
Mengubah pola asuh permisif menjadi lebih seimbang bukan berarti Moms harus kehilangan kehangatan dalam mengasuh anak. Berikut ini beberapa cara praktis yang bisa dicoba.
- Tetapkan aturan yang jelas sesuai usia anak. Jelaskan juga konsekuensi dari setiap aturan, sehingga anak memahami alasan di baliknya, bukan sekadar menerima larangan tanpa penjelasan.
- Konsisten, meski Moms lelah atau merasa bersalah. Konsistensi adalah kunci. Jangan mengalah hanya karena ingin menghindari tangisan atau drama sesaat.
- Tetap berikan kasih sayang dan dukungan. Batasan yang tegas tidak harus terasa dingin. Sampaikan dengan nada hangat, agar anak merasa dicintai sekaligus memahami batasannya.
- Ajarkan tanggung jawab lewat tugas sesuai usia. Berikan anak tugas-tugas kecil, seperti merapikan mainan atau membantu pekerjaan rumah ringan, untuk membangun rasa tanggung jawab sejak dini.
- Bangun komunikasi dua arah. Dengarkan sudut pandang anak, tetapi tetap jadikan Anda sebagai pengambil keputusan akhir.
- Cari bantuan profesional bila diperlukan. Jika pola asuh ini terasa sulit diubah sendiri, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga untuk mendapatkan pendampingan lebih lanjut.
Pola asuh permisif sering kali lahir dari niat baik—keinginan untuk dekat dengan anak dan menghindari konflik yang tidak perlu. Namun, kehangatan tanpa batasan dapat membuat anak kehilangan arah dalam memahami tanggung jawab dan disiplin diri.
Untuk mengatasinya, mulailah dengan menetapkan satu aturan kecil yang konsisten, sambil tetap menjaga kehangatan dalam setiap interaksi dengan anak. Setiap langkah menuju pola asuh yang seimbang penting untuk masa depan anak. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)
