Type Keyword(s) to Search
FAMILY & LIFESTYLE

Rekomendasi Psikolog Anak, Ini Kriteria Memilihnya yang Tepat

Rekomendasi Psikolog Anak, Ini Kriteria Memilihnya yang Tepat

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Menjadi orang tua berarti belajar membaca bahasa tubuh dan perasaan anak setiap hari, bahkan saat mereka belum bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Terkadang, perubahan kecil seperti anak jadi lebih pendiam, sulit tidur, atau tiba-tiba menolak pergi sekolah, membuat hati kita bertanya-tanya: apakah ini hanya fase, atau tanda bahwa Si Kecil butuh dukungan lebih?

Menurut Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia 2022 oleh Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan UGM, sekitar 34,9% remaja usia 10-17 tahun di Indonesia atau satu dari tiga anak memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental. Angka ini menunjukkan bahwa kekhawatiran Moms & Dads bukanlah hal yang berlebihan, dan mencari rekomendasi psikolog anak yang tepat adalah langkah bijak.

Baca juga: Moms, Ini Tanda-Tanda Anak Punya Masalah Mental

Tanda anak mungkin membutuhkan dukungan psikolog

Setiap anak unik, dan tidak ada daftar gejala yang berlaku sama untuk semua. Namun, beberapa perubahan berikut patut menjadi perhatian Moms & Dads.

  1. Perubahan suasana hati yang signifikan, seperti anak yang biasanya ceria menjadi mudah marah, murung, atau menarik diri dari keluarga dan teman-teman.
  2. Gangguan pola tidur dan makan, termasuk sulit tidur, mimpi buruk berulang, atau perubahan nafsu makan yang drastis.
  3. Kesulitan di sekolah, baik secara akademis maupun sosial, seperti menolak berangkat sekolah atau mengalami penurunan prestasi secara tiba-tiba.
  4. Perilaku regresif, misalnya anak yang sudah bisa toilet training kembali mengompol, atau anak yang kembali mengisap jempol.
  5. Keluhan fisik tanpa sebab medis jelas, seperti sakit perut atau sakit kepala yang sering muncul saat menghadapi situasi tertentu.
  6. Reaksi berlebihan terhadap perubahan, seperti perceraian orang tua, kelahiran adik baru, atau pindah rumah.

Jika salah satu atau beberapa tanda ini berlangsung lebih dari beberapa minggu dan mengganggu keseharian anak, ini saatnya mempertimbangkan konsultasi psikolog anak. 

Bagaimana memilih psikolog anak berdasarkan kebutuhan dan usia?

Setiap tahap tumbuh kembang anak memiliki tantangan berbeda, sehingga pendekatan psikolog pun perlu disesuaikan.

  • Untuk balita dan prasekolah (0-5 tahun), fokus biasanya pada observasi perilaku, pola komunikasi dengan orang tua, dan deteksi dini keterlambatan perkembangan. Psikolog anak pada rentang usia ini sering melibatkan orang tua secara aktif dalam sesi konsultasi.
  • Untuk anak usia sekolah (6-12 tahun), psikolog umumnya menangani isu seperti kesulitan belajar, kecemasan sosial, atau masalah perilaku di sekolah. Pendekatan bermain (play therapy) sering digunakan karena anak di usia ini lebih mudah mengekspresikan diri melalui aktivitas dibandingkan percakapan langsung.
  • Untuk remaja (13-17 tahun), pendekatan konseling lebih menyerupai terapi bicara seperti pada orang dewasa, tetapi tetap mempertimbangkan dinamika keluarga dan tekanan sosial khas remaja.

Baca juga: 8 Terapi yang Tepat untuk Masalah Anak Kurang Konsentrasi

Soal format layanan, Moms & Dads kini memiliki dua pilihan utama, yaitu:

  1. Psikolog anak terdekat (tatap muka): cocok untuk anak yang membutuhkan observasi langsung, terutama balita atau anak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan interaksi fisik dalam sesi terapi.
  2. Psikolog anak online: memberikan fleksibilitas waktu dan tempat, ideal untuk keluarga dengan jadwal padat atau yang tinggal di daerah dengan akses terbatas ke tenaga profesional. Konsultasi psikolog anak secara online juga bisa menjadi langkah awal yang lebih nyaman sebelum memutuskan terapi tatap muka.

Pilih psikolog tatap muka jika anak membutuhkan observasi fisik langsung atau mengalami kesulitan berinteraksi melalui layar. Sebaliknya, pilih psikolog anak online jika fleksibilitas waktu dan akses menjadi prioritas utama keluarga.

Perbedaan psikolog klinis anak, psikiater, dan terapis

Istilah-istilah ini sering tertukar, padahal perannya cukup berbeda dan saling melengkapi.

Psikolog klinis anak adalah profesional yang berfokus pada asesmen psikologis, konseling, dan psikoterapi menggunakan pendekatan nonmedis. Psikolog tidak memiliki kewenangan meresepkan obat.

Psikiater anak, di sisi lain, adalah dokter spesialis yang telah menempuh pendidikan kedokteran. Psikiater dapat melakukan pemeriksaan medis, memberikan psikoterapi, dan meresepkan obat bila diperlukan, misalnya untuk kondisi seperti ADHD atau gangguan kecemasan yang memerlukan penanganan farmakologis.

Terapis adalah istilah payung yang mencakup berbagai spesialisasi, dua di antaranya yang paling umum untuk anak adalah:

  • Terapis wicara, yang berfokus membantu anak mengembangkan kemampuan komunikasi dan bahasa.
  • Terapis okupasi, yang membantu anak mengasah keterampilan motorik, sensori, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Memahami perbedaan ini penting agar Moms & Dads bisa memilih layanan yang paling relevan dengan kondisi anak, atau bahkan menggunakan kombinasi beberapa layanan sekaligus sesuai rekomendasi profesional.

Baca juga: Dokter Tumbuh Kembang Anak: Kapan Harus Konsultasi?

Kriteria memilih psikolog anak yang tepat untuk keluarga

Memilih psikolog anak bukan hanya soal kecocokan jadwal, tetapi juga kenyamanan dan kepercayaan jangka panjang. Berikut ini beberapa kriteria yang bisa Moms & Dads pertimbangkan.

  1. Legalitas dan kredensial resmi. Pastikan psikolog memiliki Surat Izin Praktik Psikologi (SIPP) yang masih berlaku dan terdaftar di Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Ini adalah standar dasar yang menjamin kualifikasi profesional mereka.
  2. Pengalaman menangani kasus serupa. Jika anak Anda mengalami kecemasan sosial, misalnya, carilah psikolog dengan rekam jejak menangani kasus serupa pada rentang usia yang sama.
  3. Pendekatan komunikasi yang nyaman bagi anak. Beberapa psikolog lebih banyak menggunakan permainan, sementara yang lain lebih berfokus pada percakapan terstruktur. Kenali gaya yang paling sesuai dengan karakter anak.
  4. Keterlibatan orang tua dalam proses terapi. Pilih psikolog yang transparan dan bersedia melibatkan Moms & Dads dalam memahami perkembangan anak, bukan hanya menyampaikan hasil akhir.

Langkah menyiapkan konsultasi pertama dan evaluasi lanjutan

Konsultasi pertama sering menjadi momen yang menegangkan, baik bagi anak maupun orang tua. Beberapa langkah berikut bisa membantu mempersiapkannya dengan lebih tenang.

  • Catat observasi harian sebelum sesi, seperti kapan perubahan perilaku mulai terlihat, situasi apa yang memicunya, dan bagaimana respons anak terhadap situasi tersebut.
  • Jelaskan tujuan kunjungan kepada anak dengan bahasa sederhana, sesuai usia mereka, tanpa membuatnya merasa "bermasalah" atau dihakimi.
  • Siapkan riwayat kesehatan dan perkembangan anak, termasuk catatan dari sekolah jika relevan, untuk membantu psikolog memahami konteks secara menyeluruh.
  • Beri ruang bagi anak untuk beradaptasi, terutama pada sesi pertama. Tidak jarang anak membutuhkan beberapa pertemuan sebelum merasa nyaman terbuka sepenuhnya.
  • Diskusikan rencana evaluasi lanjutan bersama psikolog, termasuk frekuensi sesi berikutnya dan indikator kemajuan yang akan dipantau dari waktu ke waktu.

Proses terapi anak jarang berlangsung instan. Kesabaran dan konsistensi dari orang tua menjadi bagian penting dari keberhasilan dukungan psikologis ini.

Mencari rekomendasi psikolog anak yang tepat adalah bentuk cinta dan tanggung jawab, bukan tanda kekhawatiran berlebihan. Setiap langkah kecil, mulai dari mengenali tanda-tanda awal hingga memilih profesional yang tepercaya, penting bagi kesehatan mental anak di masa depan. (MB/SW/RF/Foto: Magnific)