Type Keyword(s) to Search
TODDLER

Jenis Olahraga yang Cocok untuk Anak dan Cara Memilihnya Sesuai Usia 

Jenis Olahraga yang Cocok untuk Anak dan Cara Memilihnya Sesuai Usia 

Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond

Memilih olahraga yang cocok untuk anak bukan hanya soal mencari kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga menyesuaikannya dengan tahap perkembangan, motorik, minat, dan kemampuan Si Kecil. Olahraga dapat membantu anak melatih keseimbangan, koordinasi tubuh, kekuatan otot, hingga kemampuan bersosialisasi.

Namun, kebutuhan anak usia balita tentu berbeda dengan anak usia sekolah. Karena itu, Moms tidak perlu terburu-buru mendaftarkan Si Kecil ke kelas olahraga yang terstruktur. Aktivitas sederhana seperti berlari, melompat, menari, dan bermain bola juga bisa menjadi cara menyenangkan untuk membuat anak lebih aktif.

Kenapa anak perlu olahraga sesuai tahapan usianya?

Kemampuan motorik anak berkembang secara bertahap. Pada usia balita, anak masih belajar mengendalikan gerakan dasar, sedangkan anak usia sekolah mulai mampu mengikuti aturan permainan dan menguasai keterampilan olahraga yang lebih kompleks.

Menyesuaikan olahraga dengan usia dan kemampuan anak membantu Si Kecil berlatih tanpa merasa terlalu terbebani. Aktivitas fisik secara teratur juga mendukung kesehatan tulang dan otot, koordinasi, kualitas tidur, serta kesehatan mental anak. Kuncinya, pilih aktivitas yang aman, menyenangkan, dan tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan.

Olahraga untuk anak usia 2–5 tahun

Pada usia ini, anak sedang mengembangkan keseimbangan, koordinasi, dan keterampilan motorik dasar. Karena itu, aktivitas berbasis permainan lebih disarankan daripada latihan yang terlalu terstruktur.

1. Berlari dan bermain kejar-kejaran 

Membantu melatih keseimbangan, koordinasi kaki, dan daya tahan tubuh. Moms bisa mengajak Si Kecil bermain di taman dengan area yang aman agar ia bebas bergerak.

2. Melompat dan bermain rintangan sederhana

Membantu anak belajar mengendalikan gerakan tubuh. Moms dapat membuat rintangan dari bantal atau garis di lantai, tetapi pastikan permukaannya tidak licin dan ketinggiannya aman.

3. Menari mengikuti musik 

Melatih koordinasi dan keseimbangan sekaligus membantu anak mengekspresikan diri. Pilih lagu favorit Si Kecil dan biarkan ia bergerak bebas agar aktivitas ini terasa menyenangkan.

4. Bermain bola 

Membantu melatih koordinasi mata dan tangan maupun mata dan kaki melalui aktivitas menggelindingkan, menendang, atau melempar bola. Permainan sederhana ini juga bisa menjadi pengenalan awal sebelum anak mencoba olahraga seperti sepak bola.

5. Bersepeda roda tiga atau bermain air 

Dapat dikenalkan sesuai kesiapan anak. Bersepeda roda tiga membantu melatih koordinasi gerakan, sedangkan bermain air dapat membangun kenyamanan anak di dalam air. Jika Si Kecil berenang, pastikan orang dewasa mendampinginya secara aktif dan berada dalam jangkauan tangan.

Olahraga untuk anak usia 6–9 tahun

Anak usia sekolah umumnya mulai mampu mengikuti instruksi, memahami aturan sederhana, dan menguasai gerakan yang lebih kompleks. Moms dapat mengenalkan olahraga yang melibatkan teknik dasar secara bertahap.

1. Bersepeda 

Membantu melatih keseimbangan, koordinasi, dan daya tahan tubuh. Selain menjadi kegiatan rekreasi bersama keluarga, bersepeda juga bisa membangun kebiasaan aktif sejak dini.

2. Berenang 

Membantu mengembangkan koordinasi seluruh tubuh dan kebugaran jantung serta paru. Moms dapat mempertimbangkan kelas renang dengan instruktur yang memahami kemampuan anak dan mengutamakan keselamatan di air.

3. Bulu tangkis 

Bermanfaat untuk melatih kelincahan, refleks, serta koordinasi mata dan tangan. Permainan ini bisa dimulai dengan memukul kok secara bergantian sebelum anak mempelajari teknik yang lebih kompleks.

4. Senam atau bela diri untuk anak 

Dapat membantu melatih fleksibilitas, keseimbangan, disiplin, dan kontrol gerakan. Pilih kelas yang sesuai dengan usia Si Kecil dan memiliki pelatih yang mengutamakan keselamatan.

Olahraga untuk anak usia 10–12 tahun

Pada tahap ini, anak biasanya mulai mampu mengembangkan keterampilan olahraga yang lebih spesifik dan memahami strategi permainan. Moms bisa mengenalkan sepak bola, bola basket, voli dengan modifikasi sesuai kemampuan, atletik, atau tenis.

Sepak bola dan bola basket membantu melatih daya tahan, kelincahan, serta kerja sama tim. Sementara itu, atletik memberi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan berlari dan melompat, sedangkan tenis membantu melatih koordinasi mata dan tangan serta konsentrasi.

Olahraga individu vs olahraga tim untuk anak

Tidak ada jenis olahraga yang paling baik untuk semua anak. Pilihannya bergantung pada kepribadian, minat, dan kenyamanan Si Kecil saat beraktivitas.

Olahraga individu, seperti berenang, bersepeda, bulu tangkis, atau senam, memberi kesempatan bagi anak untuk fokus mengembangkan keterampilan pribadi. Melalui latihan, anak dapat belajar mengenali kemajuannya sendiri, membangun kepercayaan diri, dan memahami bahwa kemampuan berkembang secara bertahap.

Sementara itu, olahraga tim, seperti sepak bola, bola basket, dan voli, membantu anak belajar berkomunikasi, berbagi peran, serta bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Anak juga berkesempatan mengembangkan kemampuan bersosialisasi dan belajar menghadapi kemenangan maupun kekalahan dengan sikap yang sehat.

Cara mengenalkan olahraga baru agar anak tidak cepat bosan

Agar olahraga terasa menyenangkan, hindari menjadikannya sebagai kewajiban atau tuntutan prestasi sejak awal. Moms bisa memulainya dengan memilih aktivitas yang disukai anak. Jika Si Kecil senang bermain air, misalnya, Moms dapat mengenalkannya pada kelas renang yang sesuai dengan usianya.

Berikan kesempatan untuk mencoba beberapa jenis olahraga sebelum mendaftar kelas rutin. Dengan begitu, anak bisa mengetahui aktivitas mana yang membuatnya nyaman dan tertarik untuk melanjutkannya. Tidak perlu memaksakan satu jenis olahraga hanya karena sedang populer.

Selain itu, jangan terlalu fokus pada hasil. Apresiasi usaha dan keberanian Si Kecil saat mencoba gerakan baru, bukan hanya kemenangan atau kemampuannya menguasai teknik tertentu. Moms juga bisa ikut bergerak bersama anak melalui kegiatan sederhana, seperti berjalan santai, bermain bola, atau bersepeda bersama keluarga.

Berapa lama waktu olahraga yang ideal untuk anak setiap hari?

Durasi aktivitas fisik yang disarankan berbeda menurut usia. Mengacu pada pedoman World Health Organization (WHO), anak usia 5–17 tahun dianjurkan melakukan rata-rata minimal 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat setiap hari sepanjang minggu. Aktivitas ini bisa berupa bermain aktif, bersepeda, atau melakukan olahraga yang sesuai dengan kemampuan anak.

Sementara itu, anak usia di bawah 5 tahun memiliki rekomendasi berbeda. Anak usia 2 tahun dianjurkan melakukan setidaknya 180 menit aktivitas fisik dengan berbagai intensitas sepanjang hari. Rekomendasi yang sama berlaku untuk anak usia 3–4 tahun, dengan minimal 60 menit di antaranya berupa aktivitas fisik berintensitas sedang hingga berat.

Olahraga yang cocok untuk anak bukan selalu olahraga yang paling populer atau kompetitif, melainkan aktivitas yang aman, sesuai dengan tahap perkembangannya, dan membuatnya senang bergerak. Dengan dukungan Moms, kebiasaan aktif dapat tumbuh menjadi bagian alami dari keseharian Si Kecil. (MB/RA/RF/Foto: Pexels)