TODDLER

Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara Tapi Mengerti Perintah, Apakah Normal?


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Perkembangan keterampilan setiap anak sangatlah unik, tak terkecuali kemampuan berbicara dan berkomunikasi. Ada kalanya orang tua khawatir saat anak usia 2 tahun belum bisa bicara, meskipun terlihat memahami perintah yang diberikan. Apakah ini normal?

Pada usia 2 tahun, kemampuan bicara dan pemahaman bahasa anak biasanya mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Si Kecil umumnya bisa mengucapkan kata sederhana atau mulai merangkai 2-3 kata untuk membentuk kalimat pendek. Namun, ada beberapa anak yang tampaknya belum lancar berbicara, tapi sudahmemahami instruksi atau perintah yang diberikan.

Normalkah anak 2 tahun belum bisa bicara meski paham perintah?

Hal ini bisa termasuk normal, tapi juga bisa menjadi tanda adanya keterlambatan perkembangan bahasa. Untungnya, keterlambatan bicara tidak selalu berarti adanya masalah serius. Jika Si Kecil terlihat responsif terhadap suara, memahami perintah sederhana seperti "Ambil bola" atau "Tutup pintu," dan menunjukkan usaha untuk berkomunikasi melalui gestur, kemungkinan besar ia hanya membutuhkan waktu lebih untuk mulai berbicara.

Namun, penting untuk memahami tanda-tanda yang mungkin memerlukan perhatian lebih, seperti:

  • Anak tampak kesulitan memahami arahan sederhana.
  • Tidak ada kata yang keluar sama sekali (seperti "Mama" atau "Papa") pada usia 2 tahun.
  • Tidak ada kontak mata saat berbicara.
  • Tidak menunjukkan usaha untuk menggunakan gestur seperti menunjuk atau melambaikan tangan.

Jika Moms melihat tanda-tanda ini, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau terapis bicara.

Baca juga: 8 Tips Praktis Mengajarkan Anak Berbicara dengan Lancar

Faktor penyebab anak 2 tahun belum bisa bicara

Sebagai orang tua, Moms mungkin bertanya-tanya, “Jika anak saya memahami perintah, kenapa dia belum bisa berbicara?”. Berikut ini beberapa penyebab yang umum terjadi.

1. Keterlambatan bicara yang normal

Tidak semua anak mencapai perkembangan pada saat yang sama. Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mulai berbicara, meskipun kemampuan memahami bahasa mereka berkembang dengan baik. Hal ini bisa menjadi bagian dari variasi perkembangan yang normal.

2. Gangguan pendengaran

Gangguan pendengaran sebagian atau total dapat memengaruhi kemampuan anak dalam meniru suara dan berbicara. Karena itu, Si Kecil mungkin bisa memahami perintah melalui gerakan, ekspresi wajah, atau pola kebiasaan, bukan melalui instruksi verbal.

3. Faktor bilingual atau multilingual

Jika anak tumbuh dalam lingkungan bilingual atau multilingual, ada kemungkinan ia membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses bahasa dan mulai berbicara. Ia mungkin sedang “bekerja keras” untuk menyerap lebih dari satu bahasa, sehingga kemampuan bicaranya muncul sedikit lebih lambat.

4. Speech delay

Kondisi ini sering terjadi pada anak-anak usia dini dan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk hereditas (keturunan atau riwayat keluarga), stimulasi yang kurang, atau pengaruh lingkungan.

Baca juga: Kenali Tanda-Tanda Speech Delay pada Anak Sejak Dini!

5. Gangguan spektrum autisme (GSA)

Pada beberapa kasus, keterlambatan bicara bisa menjadi salah satu gejala awal autisme. Si Kecil mungkin kesulitan dalam komunikasi verbal, tapi menunjukkan pemahaman yang baik terhadap bahasa non-verbal.

Baca juga: Mengenali Tanda-Tanda Autisme pada Balita Sejak Dini

6. Gangguan neurologis atau mulut dan motorik

Beberapa anak mungkin memiliki masalah pada otot-otot yang dibutuhkan untuk berbicara, atau gangguan neurologis yang bisa memengaruhi kemampuan bicara mereka.

7. Lingkungan yang kurang stimulus

Lingkungan rumah yang kurang memperkaya keterampilan bahasa bisa memengaruhi perkembangan bicara anak. Contohnya, jika waktu interaksi verbal anak lebih banyak digantikan oleh waktu menonton layar gadget tanpa pendampingan.

Cara membantu anak 2 tahun yang belum bisa bicara

Setelah mengetahui beberapa kemungkinan penyebabnya, Moms mungkin bertanya-tanya, “Apa yang harus saya lakukan untuk membantu anak saya?”. Berikut ini langkah-langkah yang dapat Moms coba.

1. Konsultasi dengan dokter anak

Langkah pertama yang penting adalah berbicara dengan dokter spesialis anak. Ia akan menilai perkembangan Si Kecil dan memberikan rekomendasi jika diperlukan, seperti rujukan ke terapis wicara atau spesialis lainnya.

2. Lakukan evaluasi pendengaran

Jika ada kecurigaan gangguan pendengaran, maka segera lakukan tes pendengaran pada anak. Mengetahui apakah Si Kecil memiliki kesulitan mendengar adalah langkah penting untuk menentukan strategi membantunya berbicara.

3. Berikan stimulasi yang konsisten

Stimulasi adalah kunci untuk mendorong kemampuan bicara anak. Membaca buku cerita, ngobrol dengan anak, membuat narasi singkat saat beraktivitas bersama anak, serta bermain mengulang kata bisa menjadi beberapa langkah untuk memberikan stimulasi bicara pada Si Kecil.

4. Batasi waktu layar

Terlalu banyak waktu layar atau bermain gawai dapat membatasi interaksi sosial anak, yang merupakan bagian penting dari perkembangan bahasa. Karena itu, pasang batasan waktu layar harian, dan fokuskan lebih banyak waktu untuk bermain bersama Si Kecil.

5. Libatkan terapis wicara

Jika anak membutuhkan bantuan tambahan, terapis wicara dapat memberi terapi berbasis permainan yang membantu memperkuat otot motorik mulut, meningkatkan kepercayaan diri berbicara, dan mendorong komunikasi verbal Si Kecil.

6. Ciptakan lingkungan yang mendukung

Kehadiran lingkungan yang hangat dan mendukung sangatlah penting. Untuk itu, hindari membandingkan Si Kecil dengan anak lain, dan semangati setiap kemajuan kecil yang ia capai.

Jika Si Kecil belum bisa berbicara tapi sudah memahami perintah, ini adalah tanda bahwa perkembangannya mungkin hanya membutuhkan dorongan tambahan. Perkembangan bicara bukanlah sesuatu yang instan. Dibutuhkan kesabaran dan konsistensi untuk mencapai hasil yang diharapkan. Berikan waktu kepada anak sambil tetap memberikan stimulasi yang ia butuhkan, Moms. (M&B/AY/GA/Foto: jcomp/Freepik)