Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Akselerasi Puskesmas Indonesia (APKESMI) menggelar Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Nasional ke-5 di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai forum strategis untuk memperkuat peran Puskesmas dalam mewujudkan transformasi layanan kesehatan primer di Indonesia.
Kegiatan ini menghadirkan rangkaian seminar tematik yang menyoroti isu kesehatan, salah satunya isu Tuberkulosis (TB), yang masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan masyarakat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak. Berangkat dari tema Hari Anak Nasional 2025, “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, isu tuberkulosis (TB) pada anak menjadi perhatian khusus dalam kegiatan ini.
Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua di dunia dengan sekitar 1,09 juta kasus dan 125 ribu kematian akibat TB setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 135 ribu kasus terjadi pada anak usia 0-14 tahun. Anak-anak termasuk kelompok paling rentan karena sistem imunitas yang belum berkembang sempurna, terutama jika mengalami malnutrisi.
TB juga bisa berdampak pada tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak. Jika tidak ditangani sejak awal, kondisi ini dapat memperburuk infeksi, menghambat proses pengobatan dan menyebabkan malnutrisi seperti stunting, hingga berisiko menurunkan kualitas hidup.
Karena itu, APKESMI mendorong puskesmas untuk tak hanya berperan dalam pengobatan, tapi juga aktif dalam edukasi, penyuluhan, serta membentuk komunitas penyintas TB yang bisa memberi motivasi. Saat ini, Puskesmas juga telah dilengkapi alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk deteksi tuberkulosis (TB), dan distribusi paket pengobatan pun sudah berjalan baik.
Selain penguatan layanan primer, penanganan TB pada anak juga perlu disertai intervensi gizi yang tepat, karena sebagian besar anak dengan TB yang berisiko mengalami malnutrisi. Jika tidak ditangani sejak awal, malnutrisi bisa menurunkan daya tahan tubuh dan menghambat efektivitas pengobatan. Jika tidak ditangani sejak awal, kondisi ini dapat memperburuk infeksi, menyebabkan stunting, hingga menurunkan kualitas hidup.
“Anak dengan TB, terutama yang mengalami malnutrisi membutuhkan asupan gizi yang seimbang, padat energi dan kaya protein untuk membantu memperbaiki jaringan tubuh dan memperkuat sistem imun serta memulihkan kondisi malnutrisinya,” jelas dokter spesialis anak, dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K).
“Selain itu, pemantauan pertumbuhan serta menjaga pola makan bergizi seimbang harus dilakukan. Tenaga kesehatan dan fasilitas layanan kesehatan terdekat dapat membantu melakukan pemantauan dan edukasi yang diperlukan. Orang tua memiliki peran penting dalam memastikan pengobatan TB dijalani secara rutin dan sesuai anjuran dokter, termasuk asupan makanan yang tepat,” tambah dr. Titis.
Dengan pengobatan yang tepat dan pemenuhan gizi seimbang atau intervensi gizi yang tepat, anak dengan TB memiliki peluang besar untuk pulih dan tumbuh optimal. Hal ini sekaligus menjadi upaya dalam mendorong pencapaian target eliminasi TBC 2030 dan terwujudnya Generasi Emas Bebas Stunting. (M&B/SW/Foto: Freepik)