Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Tantrum adalah fase perkembangan emosi yang hampir pasti dialami setiap anak. Moms mungkin sering menemui momen ketika Si Kecil menangis kencang, berteriak, bahkan berguling di lantai saat keinginannya tidak terpenuhi. Kondisi ini sering membuat orang tua kewalahan, apalagi jika terjadi di tempat umum. Karena itu, Moms perlu tahu cara cerdas menghadapi anak tantrum.
Faktanya, tantrum bukan semata tanda anak “nakal”, melainkan bagian dari proses Si Kecil belajar mengatur emosi. Memahami kapan anak mulai tantrum dan apa penyebabnya akan membantu Moms menentukan strategi yang tepat untuk menghadapinya.
Kapan anak mulai tantrum?
Tantrum biasanya mulai terlihat sejak anak berusia sekitar 1 tahun, ketika kemampuan bicara masih terbatas, tapi kebutuhan dan rasa ingin tahu sudah tinggi. Pada fase ini, anak belum mampu mengekspresikan perasaan atau keinginannya dengan jelas, sehingga emosi sering diluapkan lewat tangisan, teriakan, atau perilaku fisik.
Penyebab tantrum bisa bervariasi, mulai dari rasa frustrasi karena tidak dimengerti, kelelahan, lapar, overstimulasi dari lingkungan, hingga keinginan menguji batas orang tua. Penelitian di Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics menyebutkan bahwa transisi mendadak atau perubahan rutinitas juga menjadi pemicu umum tantrum pada anak.
10 Cara cerdas menghadapi anak tantrum
Kesabaran orang tua memang sangat diuji ketika menghadapi anak tantrum, tapi memarahinya bukanlah solusi yang benar. Coba lakukan 10 cara di bawah ini untuk mengatasi anak tantrum, Moms.
1. Jangan ikut teriak
Saat anak sedang tantrum, respons emosional Moms sangat berpengaruh terhadap jalannya situasi. Jika Moms ikut berteriak atau marah, anak justru akan makin sulit menenangkan diri. Teori co-regulation menjelaskan bahwa anak belajar mengelola emosi dari ketenangan orang tua. Cobalah menarik napas dalam-dalam, menurunkan nada suara, dan menatap anak dengan ekspresi netral atau penuh empati. Hal ini bisa membantu anak merasa aman, sehingga emosinya pun perlahan menurun.
2. Biarkan anak meluapkan emosi
Mengabaikan bukan berarti tidak peduli, tapi memberi ruang pada anak untuk meluapkan emosinya tanpa intervensi berlebihan. Jika tantrum tidak membahayakan anak atau orang lain, biarkan Si Kecil mengekspresikan kemarahan sampai reda. Respons yang terlalu cepat atau berlebihan bisa membuat anak mengulang perilaku tersebut untuk mendapatkan perhatian. Dengan mengabaikan secara selektif, Moms mengajarkan bahwa tantrum bukan cara yang efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Baca juga: Jangan Panik! Coba Jurus Ini untuk Atasi Tantrum pada Anak 2 tahun
3. Alihkan perhatian anak
Distraksi adalah strategi sederhana tapi sering kali efektif. Saat tanda-tanda tantrum mulai muncul, ajak anak melakukan aktivitas yang ia sukai, seperti melihat binatang di luar jendela, mendengarkan lagu kesukaannya, atau bermain dengan mainan favorit. Distraksi bekerja karena memindahkan fokus otak anak dari sumber frustrasi ke hal yang lebih positif. Namun, strategi ini biasanya lebih efektif jika dilakukan sebelum tantrum mencapai puncaknya.
4. Validasi emosi, bukan perilaku
Validasi berarti mengakui perasaan anak tanpa menyetujui perilaku yang salah. Misalnya, ucapkan, “Mama tahu kamu kesal karena tidak bisa main di luar,” sambil tetap mempertahankan aturan yang ada. Dengan cara ini, anak merasa dipahami, tapi tetap belajar bahwa emosi harus diekspresikan dengan cara yang lebih tepat. Validasi juga membantu memperkuat ikatan emosional antara Moms dan Si Kecil.
5. Pindahkan dari tempat ramai
Tantrum di ruang publik sering membuat orang tua panik. Namun, situasi ramai justru bisa memperburuk tantrum karena banyaknya stimulus visual dan suara. Jika memungkinkan, bawa anak ke tempat yang lebih sepi dan aman, seperti area kosong atau mobil, agar anak bisa lebih cepat menenangkan diri. Lingkungan yang tenang akan membantu menurunkan tingkat stres anak sekaligus memberi Moms ruang untuk merespons dengan lebih bijak.
6. Latihan mengatur napas
Mengajarkan teknik pernapasan pada anak sejak dini bisa menjadi alat pengendalian emosi yang sangat berguna. Saat anak mulai marah, ajak ia menarik napas panjang melalui hidung, menahannya sejenak, lalu mengembuskan perlahan. Moms bisa membuatnya lebih menyenangkan dengan membayangkan meniup balon atau meniup lilin ulang tahun. Penelitian di Frontiers in Psychology membuktikan bahwa latihan pernapasan sederhana dapat mengurangi stres, baik pada anak maupun orang tua.
7. Gunakan bahasa tubuh untuk tenang
Bahasa tubuh sering berbicara lebih keras daripada kata-kata. Saat menghadapi anak tantrum, posisikan tubuh sejajar dengan anak, jaga kontak mata, dan hindari gerakan tangan yang tergesa-gesa. Sikap ini memberi sinyal bahwa Moms hadir dan siap membantu tanpa menambah tekanan. Anak yang melihat orang tuanya tenang akan merasa lebih aman dan lebih cepat keluar dari mode “fight or flight”.
8. Buat calm corner
Calm corner atau sudut tenang adalah area di rumah yang dirancang khusus untuk membantu anak menenangkan diri. Isinya bisa berupa bantal empuk, boneka kesayangan, buku bergambar, atau aromaterapi lembut. Tempat ini bukan hukuman, melainkan ruang aman untuk mengatur emosi. Seiring waktu, anak akan belajar pergi ke calm corner sendiri saat merasa marah atau kesal, yang berarti ia mulai memahami cara mengelola emosinya.
9. Konsistensi aturan
Konsistensi adalah kunci dalam mengasuh anak. Jika Moms kadang-kadang menyerah pada tantrum dan kadang-kadang tidak, anak akan bingung dan terus mencoba untuk menguji batas. Terapkan aturan yang sama setiap saat, baik di rumah maupun di luar, sehingga anak memahami ekspektasi yang jelas. Konsistensi juga membangun rasa aman, karena anak tahu apa yang akan terjadi jika ia melanggar batas.
10. Cari tahu akarnya
Alih-alih hanya fokus menghentikan tantrum, penting juga untuk mencari tahu pemicunya, apakah anak lapar, lelah, atau merasa diabaikan? Catat waktu dan kondisi sebelum tantrum untuk menemukan pola. Dengan mengetahui penyebabnya, Moms bisa mengambil langkah pencegahan, seperti memberi camilan sebelum pergi atau mengatur jadwal tidur yang konsisten. Pencegahan sering kali jauh lebih mudah daripada penanganan saat tantrum sudah terjadi.
Menghadapi tantrum memang menguji kesabaran, tapi dengan strategi yang tepat, Moms bisa membantu anak belajar mengelola emosinya. Menerapkan 10 cara cerdas menghadapi anak tantrum ini secara konsisten akan membuat proses pengasuhan lebih tenang dan hubungan orang tua-anak makin harmonis. (M&B/AY/TW/Foto: Odua Images/Canva)
Baca juga: 7 Cara Mengatasi Anak Tantrum di Depan Umum