Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Djawab oleh dr. Firda Fairuza, Sp.A (Dokter Spesialis Anak RSKB Columbia Asia Pulomas)
T: Seperti apa gejala TBC pada anak?
J: Penyakit tuberkulosis atau disingkat TB, paling sering mengenai paru-paru. Tapi, juga bisa menyerang organ lain. Namun, yang membedakan TB pada anak dan dewasa itu kebanyakan gejalanya tidak spesifik atau tidak khas. Kalau dewasa mungkin kelihatan batuk terus-menerus. Sedangkan, kalau pada anak biasanya kita melihat ada beberapa gejala, misalnya, satu, demamnya itu bisa sampai dua minggu. Jadi, demamnya umumnya suhunya itu tidak terlalu tinggi. Jadi, hangat-hangat saja di waktu-waktu tertentu.
Kemudian bisa juga anaknya menjadi kurang aktif, tampak lesu, tidak seaktif teman seusianya, dan juga bisa kita nilai dari perkembangan berat badannya. Kenaikan berat badan pada anak TB biasanya ada 2 bulan berturut-turut itu tidak naik, pada umumnya. Jadi, ada kenaikan berat badan yang sulit pada anak.
Kemudian juga, beberapa pasien itu mengeluhkan ada benjolan di leher yang biasanya muncul dalam jangka waktu lama. Jadi, perlu juga dilakukan pemeriksaan di lehernya, apakah ada benjolan. Gejala lainnya adalah batuk, walaupun tidak selalu batuk, tapi pada beberapa anak itu bisa muncul batuk berkepanjangan. Biasanya bahkan bisa lebih dari tiga minggu batuknya. Jadi, batuknya itu menetap atau bahkan memberat pada anak tersebut.
Nah, yang paling penting sebenarnya adalah kita harus mencari kontak erat di sekitar anak karena anak itu biasanya ditularkan dari dewasa. Jadi, cari siapa sumber penularan yang ada di rumah, biasanya dari keluarga inti atau pengasuh. Jadi, yang memang kontak eratnya yang lumayan sering terhadap anak kita.
T: Bagaimana pemeriksaan TBC pada anak?
J: Jika memang anak menunjukkan gejala yang tadi saya sebutkan, kita harus mengonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang. Nah, salah satu pemeriksaan penunjang yang masih kita pakai atau utama pada anak adalah tes mantoux atau tes tuberculin. Ini sebenarnya sebagai salah satu penilaian dari kumpulan bobot nilai, scoring, untuk mengonfirmasi penyakit TB pada anak.
Jadi, untuk menegakkan diagnosis TB pada anak, kita menggunakan sistem scoring yang sudah disahkan oleh Kemenkes dan IDAI, di mana nanti tiap bobot dari gejala klinis itu dilakukan penilaian atau dijumlahkan secara total. Jika, skornya lebih dari atau sama dengan 6. Maka, anak ini lebih kita curigai terhadap penyakit infeksi atau TB paru tadi.
Nah, tentunya pemeriksaan mantoux ini tidak hanya berdiri sendiri jadi harus dikerjakan atau kita melihat gejala klinis yang lain untuk melengkapi skor bobot penilaian untuk diagnosis TB.
T: Apa dampak TBC pada anak?
J: Seperti kita tahu, sebenarnya TB pada anak ini merupakan infeksi bakteri. Jadi, proses terjadi infeksi pada bakteri ini akan memunculkan gejala-gejala tadi. Yang pertama, kesulitan kenaikan berat badan, anak pun menjadi sulit makan atau dia tidak mau makan. Nah, ini menyebabkan asupan nutrisi pada anak yang harusnya dikonsumsi secara harian, kebutuhannya itu menjadi berkurang, sehingga capaian pertumbuhannya pun tidak tercapai.
Berat badannya pun apabila kita lakukan plotting di kurva pertumbuhan, itu akan melambat atau bisa saja dia cenderung flat. Bahkan bisa menjurus atau mengarah ke garis merah. Jadi, tentu pemantauan tumbuh kembang pada anak ini biasanya setahun pertama itu hampir rutin tiap bulan.
T: Apakah TBC pada anak bisa disembuhkan?
J: Penyakit TB pada anak ini tentu bisa disembuhkan. Namun, proses pengobatan itu harus dipantau oleh dokter dan orang tuanya. Nah, kita ketahui bahwa memang TB paru ini membutuhkan terapi yang cukup prosesnya agak lama, jangka waktunya bisa 6-12 bulan. Jadi, butuh komitmen dari orang tua untuk memonitor apakah anaknya rutin meminum obatnya.
Jadi, memang terapi yang diberikan itu sebenarnya dosis tunggal, tapi isinya memiliki beberapa kombinasi dosis obat, di mana diharapkan dengan pemberian kombinasi obat tersebut, kuman akan hilang atau tereredikasi dan mengurangi resiko kekebalan terhadap obat tersebut. Jadi, jangka waktunya minimal enam bulan dan biasanya tergantung dengan proses pengobatannya.
Nah, pemantauannya biasa kita lihat gejalanya pun yang tadi sudah saya sebutkan itu akan terlihat dalam jangka waktu 1-2 bulan. Jadi, tidak langsung efek terapi obatnya. Biasanya kita lihat pemantauan yang tadinya mungkin berat badannya tidak naik, mungkin dalam 1-2 bulan kemudian dia akan cenderung mengalami kenaikan.
Jadi, memang konsumsi obatnya harus teratur tiap hari karena jika terpotong saja satu hari maka terapinya harus dimulai dari awal kembali. Dan memang betul harus membutuhkan komitmen dari orang tua dan pengasuh si anak tersebut.
T: Setelah anak sembuh dari TBC, perlukah untuk tes Mantoux lagi?
J: Pada saat anak sudah dinyatakan sembuh, misalnya sudah selesai terapi pemeriksaan mantoux tadi di awal dilakukan, sebenarnya tidak perlu. Jadi, pada umumnya balik lagi, kita menilai berdasarkan gejala klinis pada pasien. Yang tadi gejalanya positif semuanya, misalnya bb-nya tidak naik, batuknya mungkin yang tadinya batuk berkepanjangan menjadi jarang batuk atau bahkan hilang sama sekali, yang tadinya ada benjolan, benjolannya cenderung mengecil, kemudian yang tadinya demam, demamnya pun tidak ada, hilang.
Nah, ini menjadi panduan kita bahwa secara klinis terapinya sudah efektif dan dapat dihentikan. Namun, kalau misalnya kerusakan parunya cukup berat, biasanya kita melakukan pemeriksaan rontgen ulang untuk memastikan bahwa anak tersebut sudah cukup terapinya dan diberhentikan berdasarkan hasil rontgennya. (MB/SW/Foto: Freepik)