Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Sebagai ibu menyusui, Moms sudah berjuang keras untuk memompa dan menyimpan ASI demi Si Kecil. Namun, pernahkah Anda merasa ragu, apakah ASI yang tersimpan di kulkas atau freezer itu masih aman untuk diberikan kepada bayi Anda? Apa masih segar atau sudah basi? Dan apa sih, ciri-ciri ASI yang sudah basi?
Kekhawatiran ini sangat wajar. ASI adalah sumber nutrisi utama bayi, dan memberikan ASI yang sudah basi bisa berdampak pada kesehatannya. Sayangnya, tidak semua ibu menyusui tahu bagaimana cara mengenali ASI yang sudah basi dan tidak layak minum.
Ciri-ciri ASI basi yang perlu diketahui ibu menyusui
Mengenali ASI basi tidak selalu mudah, terutama karena ASI memang memiliki tampilan dan aroma yang bervariasi. Namun, ada beberapa tanda yang bisa Moms perhatikan, yaitu:
1. Bau asam atau tengik
Ini adalah tanda yang paling mudah dikenali. ASI segar biasanya berbau manis dan ringan. Jika ASI tercium asam seperti susu basi, atau bahkan berbau tengik seperti sabun, ini bisa menjadi indikasi bahwa ASI sudah tidak layak konsumsi.
Perlu dicatat, bau sabun pada ASI tidak selalu berarti basi. Hal ini bisa disebabkan oleh kadar lipase tinggi, yaitu enzim alami dalam ASI yang memecah lemak. ASI dengan kadar lipase tinggi mungkin berbau sedikit sabun setelah disimpan, tetapi masih aman diminum. Jika bayi menolak karena baunya, konsultasikan dengan konselor laktasi.
2. Perubahan warna yang tidak wajar
ASI normal bisa berwarna putih kekuningan, biru muda, bahkan sedikit oranye tergantung kandungan nutrisinya, dan itu semua normal. Yang perlu diwaspadai adalah jika warna ASI berubah menjadi cokelat tua, abu-abu, atau terdapat bercak warna yang tidak biasa.
3. Tekstur menggumpal atau berjamur
Setelah dihangatkan, ASI yang sudah basi mungkin terlihat menggumpal dan tidak dapat menyatu kembali meski dikocok. Berbeda dengan ASI yang memisah lapisan lemak dan airnya secara alami saat disimpan—kondisi ini normal dan akan menyatu kembali dengan dikocok perlahan.
4. Rasa yang berubah
Jika Anda ragu, coba cicip sedikit ASI-nya. ASI segar biasanya terasa sedikit manis. Rasa yang sangat asam atau tidak enak bisa menjadi tanda bahwa ASI sudah basi, Moms.
Baca juga: Berapa Lama ASI Bertahan Setelah Dipompa? Ini Penjelasannya, Moms
Berapa lama ASI akan basi?
Daya tahan ASI sangat bergantung pada cara penyimpanannya. Berikut ini panduan umum yang direkomendasikan:
- Jika disimpan di suhu ruangan (25 °C atau lebih rendah), ASI bisa bertahan hingga 4 jam.
- Jika disimpan di lemari es (4 °C), ASI bisa bertahan hingga 4 hari
- Jika disimpan di freezer (lemari es satu pintu), ASI bisa bertahan hingga 2 minggu
- Jika disimpan di freezer terpisah (-18 °C), ASI bisa bertahan hingga 6 bulan.
Beberapa hal yang perlu diingat:
1. ASI yang sudah dicairkan dari freezer hanya boleh disimpan di lemari es selama 24 jam dan tidak boleh dibekukan kembali.
2. ASI yang sudah dipanaskan harus segera diberikan dan tidak boleh dipanaskan ulang.
3. Gunakan wadah yang bersih dan tertutup rapat untuk memperpanjang ketahanan ASI.
4. Selalu tulis tanggal dan jam pemompaan pada wadah ASI agar Moms tahu kapan batas penggunaannya.
Baca juga: Apakah Ibu Menyusui Boleh Minum Es? Ini Jawabannya
Apa penyebab ASI menjadi basi?
1. Kontaminasi bakteri
Bakteri bisa masuk ke dalam ASI melalui tangan yang tidak bersih, alat pompa yang kurang steril, atau wadah penyimpanan yang tidak higienis. Ini adalah penyebab paling umum ASI menjadi basi lebih cepat dari seharusnya.
Solusinya sederhana, cuci tangan sebelum memompa, sterilkan peralatan pompa secara rutin, dan gunakan wadah penyimpanan ASI yang bersih dan bebas BPA.
2. Penyimpanan yang tidak tepat
Menyimpan ASI di pintu lemari es—bukan di bagian dalam—membuat ASI terpapar perubahan suhu setiap kali pintu dibuka. Simpan ASI di bagian belakang lemari es atau freezer untuk suhu yang lebih stabil.
3. Suhu ruangan yang tinggi
Di iklim tropis seperti Indonesia, suhu ruangan bisa mencapai 30 °C atau lebih. Pada suhu ini, ASI hanya aman selama 3-4 jam saja. Jika Moms tidak yakin kapan akan memberikan ASI, segera masukkan ke lemari es setelah pemompaan.
4. Wadah yang tidak sesuai
Menggunakan wadah biasa yang tidak dirancang khusus untuk menyimpan ASI bisa mempercepat kerusakan. Gunakan kantong atau botol penyimpanan ASI yang sudah tersertifikasi aman untuk makanan bayi.
Apa akibatnya jika bayi minum ASI basi?
1. Gangguan pencernaan
Ini adalah reaksi yang paling sering terjadi. Bayi mungkin mengalami muntah, diare, kembung dan rewel, serta kolik. Biasanya gejala ini bersifat ringan dan akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa jam.
2. Risiko infeksi
Pada kasus yang lebih serius—terutama jika ASI sudah sangat basi atau terkontaminasi bakteri berbahaya—bayi bisa mengalami gejala infeksi seperti demam, lesu, atau dehidrasi. Ini lebih berisiko pada bayi baru lahir dan bayi prematur yang sistem imunnya belum sempurna.
3. Bayi menolak minum
Sering kali bayi sendiri yang "mendeteksi" ASI basi. Ia mungkin menolak botol, melepeh, atau menangis saat minum. Percayai insting Si Kecil—ini bisa menjadi sinyal bahwa ada yang tidak beres dengan ASI yang diberikan.
Kapan harus ke dokter?
Segera hubungi dokter jika setelah minum ASI yang dicurigai basi, bayi mengalami:
- Muntah terus-menerus yang tidak berhenti
- Diare lebih dari 2-3 kali dalam waktu singkat
- Demam tinggi
- Tampak lemas dan tidak responsif
- Tanda-tanda dehidrasi (mulut kering, popok tidak basah dalam 6 jam).
Itulah penjelasan mengenai ciri-ciri ASI basi. Dengan memahami ciri-ciri ASI basi dan cara menyimpannya dengan benar, Anda bisa memastikan bahwa nutrisi terbaik selalu sampai ke buah hati Anda dengan aman, Moms. (MB/SW/Foto: Freepik)