Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Setiap anak terlahir dengan keunikan dan karakternya masing-masing. Terkadang, Moms mungkin menyadari bahwa Si Kecil tampak lebih mudah menangis, cepat merasa kewalahan di tempat ramai, atau sangat perasa terhadap teguran kecil. Menghadapi anak sensitif tentu bisa memunculkan rasa bingung dan khawatir di hati orang tua. Bagaimana metode parenting yang tepat untuk anak sensitif?
Membesarkan anak dengan karakter perasa memang membutuhkan kesabaran ekstra dan pendekatan yang khusus. Namun, di balik kelembutan hati Si Kecil, tersimpan potensi empati dan kepedulian yang luar biasa besar. Memahami cara dunia bekerja dari sudut pandang anak sensitif adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan penuh kasih sayang di dalam keluarga.
Apa yang dimaksud dengan anak sensitif?
Anak sensitif, atau sering disebut sebagai highly sensitive child, adalah anak yang memiliki sistem saraf yang sangat peka terhadap rangsangan di sekitarnya. Mereka memproses informasi, emosi, dan sensasi fisik secara lebih mendalam dibandingkan anak-anak pada umumnya. Sesuatu yang tampak biasa saja bagi orang lain bisa terasa sangat berlebihan bagi anak sensitif.
Kondisi ini bukanlah sebuah kekurangan atau diagnosis medis, melainkan sebuah variasi temperamen bawaan yang normal. Si Kecil mungkin akan lebih mudah terkejut oleh suara keras, merasa tidak nyaman dengan label baju yang gatal, atau sangat berempati ketika melihat teman sebayanya bersedih. Ia adalah pengamat yang ulung. Anak seperti ini sering kali memerhatikan detail kecil di lingkungannya dan cenderung berpikir panjang sebelum bertindak.
Setiap anak sensitif mungkin akan memiliki ciri khas yang berbeda. Namun Moms bisa mengenali karakter Si Kecil sebagai langkah awal untuk memberikan dukungan yang tepat. Berikut adalah beberapa ciri umum yang sering terlihat pada anak dengan sensitivitas tinggi:
- Peka terhadap rangsangan fisik: Si Kecil mungkin sering mengeluh tentang label baju yang gatal, jahitan kaus kaki yang mengganggu, atau suara bising yang bagi orang lain terdengar biasa saja.
- Emosi yang mendalam: Anak bisa menangis tersedu-sedu karena hal yang tampak sepele, atau sebaliknya, merasa sangat gembira hingga meluap-luap.
- Empati yang luar biasa: Anak sangat peduli pada perasaan orang lain atau bahkan hewan peliharaan, dan sering kali merasa sedih jika melihat orang lain bersedih.
- Banyak bertanya: Si Kecil memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis atau mendalam di usia yang sangat muda.
- Berhati-hati dalam situasi baru: Anak membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan observasi sebelum mau bergabung bermain dengan teman baru atau mencoba lingkungan yang belum dikenal.
Baca juga: Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus dan Karakteristiknya
Mengapa menangani anak sensitif berbeda dengan anak pada umumnya?
Pendekatan pengasuhan tradisional sering kali tidak berjalan efektif untuk anak yang perasa. Mengapa demikian? Karena ia merasakan segalanya dengan intensitas yang lebih tinggi. Teguran dengan nada suara yang sedikit meninggi mungkin hanya dianggap sebagai angin lalu oleh anak lain, tetapi bagi anak sensitif, hal itu bisa terasa seperti sebuah hukuman yang sangat berat.
Si Kecil yang sensitif membutuhkan pendekatan yang lebih tenang karena sistem sarafnya lebih mudah mencapai batas maksimal. Saat anak merasa kewalahan, ia tidak bertingkah nakal secara sengaja. Tantrum atau tangisan yang terjadi biasanya merupakan respons dari kelebihan beban sensorik atau emosional. Oleh karena itu, menerapkan disiplin yang keras justru akan membuat anak semakin menarik diri, merasa tidak aman, atau memicu kecemasan yang mendalam. Ia membutuhkan bimbingan yang membantunya menenangkan diri, bukan hukuman yang menambah tekanan emosional.
Bagaimana parenting anak sensitif?
Mengasuh buah hati yang perasa membutuhkan penyesuaian gaya komunikasi dan lingkungan. Berikut adalah beberapa langkah praktis yang bisa Moms dan Dads terapkan di rumah.
1. Terima dan validasi perasaan anak
Langkah paling menyembuhkan bagi anak perasa adalah mengetahui bahwa orang tuanya mengerti apa yang ia rasakan. Hindari kalimat seperti "Jangan cengeng" atau "Begitu saja kok menangis". Sebaliknya, gunakan kalimat yang memvalidasi emosinya, seperti "Ibu tahu suara petir tadi sangat keras dan membuat Adik kaget." Dengan merasa dipahami, kecemasan anak akan jauh berkurang.
2. Ciptakan lingkungan yang menenangkan
Karena anak sensitif mudah merasa kelebihan stimulasi, pastikan rumah menjadi tempat yang aman dan damai. Sediakan sudut tenang di kamar tempat ia bisa bersantai setelah seharian berada di luar rumah. Kurangi paparan suara bising dari televisi jika tidak ditonton, dan berikan anak waktu transisi yang cukup sebelum beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.
3. Gunakan disiplin yang lembut namun tegas
Disiplin tetap diperlukan untuk membentuk batasan yang sehat, tetapi cara penyampaiannya harus disesuaikan. Daripada meninggikan suara, tatap mata anak dengan lembut dan jelaskan secara perlahan mengapa suatu perilaku tidak boleh dilakukan. Fokuslah pada memberikan konsekuensi logis dan mengajarkan perilaku pengganti yang lebih baik, sambil tetap menjaga koneksi emosional dengan Si Kecil.
Baca juga: Ini Cara Baru Mengasuh Anak Lewat New Earth Parenting
Apa yang menjadi fokus parenting anak sensitif?
Fokus utama dalam pengasuhan anak bersensitivitas tinggi adalah mengajarkan regulasi emosi dan membangun resiliensi (ketangguhan). Anda membimbing Si Kecil untuk mengenali apa yang sedang dirasakan tubuh dan pikirannya, serta membekalinya dengan cara-cara sehat untuk menyalurkan emosi tersebut.
Selain itu, fokuskan perhatian Anda pada kelebihan yang anak miliki. Sensitivitas sering kali berjalan beriringan dengan kreativitas tinggi, kecerdasan emosional, dan rasa kasih sayang yang mendalam. Ajarkan anak untuk melihat sifat perasa ini sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Dengan membangun kepercayaan diri ini, anak akan belajar menetapkan batasan pribadi yang sehat saat berinteraksi dengan dunia luar.
Membesarkan anak sensitif memang membutuhkan energi dan dedikasi yang tinggi. Namun, ketika buah hati Anda merasa dicintai, diterima, dan dipahami apa adanya, ia akan tumbuh menjadi individu dewasa yang sangat peduli, kreatif, dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. (MB/WR/RF/Foto: Krakenimages/Freepik)