BABY

Aturan Aman Memberikan Paracetamol untuk Bayi 0-6 Bulan


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Melihat Si Kecil rewel, badannya terasa hangat, dan tidak mau menyusu tentu membuat hati setiap ibu merasa cemas. Terlebih lagi bagi Moms yang baru pertama kali menjalani peran sebagai orang tua, menghadapi bayi demam bisa menjadi momen yang mendebarkan. Namun, memberikan paracetamol untuk bayi 0-6 bulan tidak boleh sembarangan.

Demam sebenarnya adalah tanda bahwa tubuh bayi sedang berjuang melawan infeksi. Tetapi, rasa tidak nyaman yang menyertainya sering kali membuat kita ingin segera memberikan obat pereda panas.

Salah satu obat penurun panas yang paling sering diandalkan oleh para ibu adalah paracetamol. Obat ini memang dikenal ampuh dan relatif aman untuk meredakan demam serta mengurangi rasa sakit ringan. Namun, memberikan paracetamol untuk bayi yang baru berusia 0-6 bulan tidak boleh dilakukan sembarangan. Sistem pencernaan dan organ hati Si Kecil masih berkembang sangat pesat, sehingga membutuhkan perhatian ekstra, Moms.

Dosis paracetamol untuk bayi 0-6 bulan yang aman

Hal pertama dan paling penting untuk diingat adalah: untuk bayi berusia di bawah 3 bulan, Moms wajib berkonsultasi dengan dokter anak sebelum memberikan obat apa pun, termasuk paracetamol. Demam pada bayi baru lahir bisa menjadi tanda infeksi yang memerlukan evaluasi medis segera.

Bagi bayi yang sudah berusia di atas 2 atau 3 bulan, pemberian paracetamol harus disesuaikan dengan berat badan anak, bukan hanya berdasarkan usianya. Dosis umum yang direkomendasikan biasanya berkisar antara 10-15 miligram per kilogram berat badan bayi.

Karena itu, penting untuk mengetahui berat badan Si Kecil yang terkini. Jangan pernah menebak-nebak takaran, karena dosis yang kurang tidak akan efektif menurunkan panas, sementara dosis yang berlebih bisa membahayakan organ hati bayi yang masih sangat rentan.

Baca juga: Anak Demam Tapi Masih Aktif, Kapan Harus Waspada?

Cara memberikan paracetamol pada bayi dengan benar

Memberikan obat pada bayi memang butuh sedikit trik dan kesabaran ekstra. Agar obat masuk dengan sempurna dan tidak dimuntahkan kembali, Anda bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini, Moms.

1. Posisikan bayi dalam keadaan setengah duduk, bisa dengan menggendongnya atau meletakkannya di pangkuan dengan kepala sedikit disangga. Jangan pernah meneteskan obat saat bayi dalam keadaan berbaring rata, karena risiko tersedak sangat besar.

2. Gunakan pipet atau alat suntik tanpa jarum (spuit) yang biasanya sudah sepaket dengan kemasan paracetamol drop. Arahkan ujung pipet ke bagian dalam pipi bayi, bukan langsung ke tenggorokan.

3. Teteskan obat secara perlahan-lahan sedikit demi sedikit. Biarkan bayi menelan cairan tersebut sebelum Anda menambahkan tetesan berikutnya. Jika Si Kecil memberontak, tenangkan ia terlebih dahulu dengan usapan lembut dan suara yang menenangkan.

Aturan pakai paracetamol drop untuk bayi

Sediaan paracetamol untuk bayi umumnya berbentuk drop (tetes). Ingatlah bahwa konsentrasi cairan drop jauh lebih pekat dibandingkan paracetamol sirup untuk anak yang lebih besar. Karena itu, alat takarnya pun berbeda dan tidak boleh ditukar-tukar.

Moms bisa memberikan paracetamol setiap 4-6 jam sekali jika Si Kecil masih demam atau merasa kesakitan. Namun, pastikan total pemberiannya tidak melebihi 4 kali dalam kurun waktu 24 jam.

Jika Moms tidak sengaja melewatkan satu jadwal pemberian, jangan pernah menggandakan dosis pada jadwal berikutnya. Jika demam Si Kecil tidak kunjung turun setelah 3 hari berturut-turut mengonsumsi paracetamol, segera bawa ia ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: Berapa Jam Sekali Anak Boleh Minum Paracetamol?

Efek samping paracetamol pada bayi yang perlu diketahui

Meski tergolong obat bebas yang aman jika digunakan sesuai petunjuk, paracetamol tetap memiliki potensi efek samping yang perlu Moms waspadai. Memantau kondisi bayi setelah minum obat adalah langkah proteksi yang sangat penting.

Beberapa bayi mungkin memiliki sensitivitas atau alergi terhadap kandungan tertentu dalam obat. Perhatikan apakah muncul ruam kemerahan pada kulit, pembengkakan di area wajah atau bibir, hingga kesulitan bernapas setelah bayi meminum paracetamol. Jika tanda-tanda alergi ini muncul, segera hentikan pemberian obat dan cari bantuan medis.

Selain itu, penggunaan dalam dosis tinggi atau jangka waktu yang terlalu lama dapat berisiko merusak fungsi hati bayi. Itulah sebabnya mematuhi aturan pakai dan berkonsultasi dengan dokter merupakan pilihan paling bijak.

Alternatif penurun panas bayi selain paracetamol

Jika suhu tubuh bayi tidak terlalu tinggi dan ia masih tampak cukup nyaman, Moms tidak harus langsung memberinya obat. Ada banyak cara yang bisa membantu tubuh bayi melawan demam secara alami.

Meningkatkan asupan cairan adalah langkah pertolongan pertama yang krusial. Berikan ASI lebih sering dari biasanya untuk mencegah dehidrasi. Anda juga bisa melakukan metode skin-to-skin dengan cara mendekap bayi di dada tanpa terhalang pakaian. Suhu tubuh ibu secara alami dapat membantu meregulasi suhu tubuh bayi yang sedang demam.

Selain itu, berikan kompres hangat di area lipatan tubuh seperti ketiak atau selangkangan. Hindari menggunakan air dingin atau alkohol untuk mengompres, karena hal itu justru dapat membuat bayi menggigil dan suhu tubuhnya makin naik. Pakaikan baju berbahan katun yang tipis dan menyerap keringat, serta pastikan sirkulasi udara di dalam kamar tetap sejuk dan nyaman.

Menghadapi bayi yang sedang sakit memang menguji kesabaran dan ketahanan mental kita sebagai orang tua. Namun, dengan berbekal pengetahuan yang tepat mengenai cara pemberian paracetamol untuk bayi 0-6 bulan, Moms bisa memberikan perawatan terbaik bagi Si Kecil di rumah. Selalu amati respons tubuh anak, dan jangan ragu untuk mengandalkan naluri keibuan Anda. Jika merasa ada yang tidak beres, segera hubungi dokter anak. (MB/SW/Foto: Freepik)