Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Setiap orang tua tentu menginginkan buah hatinya tumbuh sehat, aktif, dan ceria. Namun, ada kalanya kecemasan muncul ketika Anda membandingkan pertumbuhan Si Kecil dengan teman-teman seusianya. Salah satu kekhawatiran yang sering menghampiri para orang tua adalah masalah pertumbuhan yang tidak optimal. Faktanya, ada beberapa contoh anak stunting yang perlu Moms dan Dads cermati.
Istilah stunting mungkin sudah sering Anda dengar melalui berbagai penyuluhan kesehatan atau obrolan sesama orang tua. Kondisi ini bukan sekadar tubuh anak yang terlihat lebih pendek, melainkan sebuah indikasi adanya gangguan pertumbuhan akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Tentu saja, menghadapi kenyataan atau kekhawatiran tentang hal ini bisa terasa membingungkan dan berat. Sebagai orang tua, sangat wajar untuk merasa khawatir.
Ciri-ciri anak stunting yang perlu diketahui orang tua
Mengenali kondisi anak sejak dini adalah bentuk kasih sayang yang luar biasa. Anak yang mengalami stunting biasanya menunjukkan beberapa tanda yang bisa Anda amati sehari-hari.
1. Tinggi badan tidak sesuai kurva pertumbuhan
Tanda paling umum adalah tinggi badan anak yang berada di bawah kurva pertumbuhan standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk usianya. Pastikan Moms mengukur tinggi badan anak secara berkala. Namun, ciri-cirinya tidak berhenti sampai di ukuran fisik saja.
2. Perkembangan terhambat
Anak yang mengalami stunting sering kali menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan motorik maupun kognitif. Misalnya, Si Kecil mungkin lebih lambat saat mulai belajar merangkak, berjalan, atau berbicara dibandingkan teman sebayanya.
3. Sering sakit
Anak stunting juga rentan mengalami infeksi dan sering jatuh sakit karena sistem kekebalan tubuhnya tidak terbentuk dengan sempurna. Jika Si Kecil terlihat kurang aktif, mudah lelah, dan wajahnya tampak lebih muda dari usianya, ini adalah saat yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter anak kepercayaan keluarga.
Baca juga: 7 Manfaat Zat Besi untuk Bayi, Bisa Bantu Mencegah Stunting
Penyebab stunting pada anak balita
Memahami akar masalah sangat penting agar Moms bisa mengambil langkah yang tepat. Stunting tidak terjadi dalam semalam. Kondisi ini merupakan hasil dari proses panjang yang bahkan bisa dimulai sejak bayi masih berada di dalam kandungan.
Penyebab utamanya adalah asupan gizi yang tidak memadai selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun). Jika seorang ibu hamil mengalami kekurangan darah (anemia) atau kurang gizi, janin di dalam kandungan pun tidak akan mendapatkan nutrisi yang cukup untuk berkembang. Selain itu, praktik pemberian makan bayi yang kurang tepat, seperti tidak memberikan ASI eksklusif atau memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang kurang kaya nutrisi, turut menjadi penyumbang terbesar.
Faktor lingkungan dan kebersihan juga memainkan peran yang sangat besar. Akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang kurang memadai membuat anak lebih mudah terkena penyakit infeksi berulang, seperti diare atau cacingan. Saat anak sering sakit, energi dan nutrisi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan justru terkuras habis untuk melawan penyakit.
Cara mencegah stunting sejak dini
Kabar baiknya, stunting adalah kondisi yang sangat bisa dicegah. Perjalanan pencegahan ini idealnya dimulai bahkan sebelum Si Kecil lahir. Masa kehamilan adalah momen emas di mana Moms perlu memastikan asupan nutrisi seimbang, rutin mengonsumsi vitamin kehamilan, dan melakukan pemeriksaan kandungan secara berkala.
Setelah Si Kecil lahir, berikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. ASI adalah nutrisi paling sempurna yang bisa diberikan oleh seorang ibu, karena mengandung antibodi alami yang melindungi bayi dari berbagai penyakit. Memasuki usia enam bulan, perkenalkan MPASI yang bergizi dan bervariasi dengan tekstur yang sesuai usianya. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah, membiasakan mencuci tangan dengan sabun, dan memastikan keluarga mengonsumsi air yang bersih dan matang.
Membawa Si Kecil ke posyandu atau klinik anak secara rutin juga sangat penting. Dengan memantau berat dan tinggi badannya secara berkala, Moms bisa segera mendeteksi jika ada keterlambatan pertumbuhan dan langsung mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat.
Makanan untuk mencegah dan mengatasi stunting
Dapur rumah bisa menjadi pusat kesehatan bagi Si Kecil. Menyajikan makanan yang kaya akan nutrisi makro dan mikro adalah kunci utama. Fokuslah pada pemberian protein hewani, karena jenis protein ini mengandung asam amino esensial yang sangat dibutuhkan untuk membangun sel-sel tubuh dan merangsang hormon pertumbuhan.
Moms bisa dengan mudah menemukan sumber protein hewani dari bahan-bahan yang ada di sekitar Anda, seperti telur, ikan, daging ayam, dan hati sapi. Telur rebus atau orak-arik yang lembut bisa menjadi menu MPASI yang lezat dan bergizi tinggi. Ikan lokal seperti lele atau kembung juga tak kalah bernutrisi dibandingkan ikan impor mahal, karena kaya akan omega-3 yang baik untuk perkembangan otak.
Selain protein, pastikan anak mendapatkan cukup zat besi, kalsium, zink, dan vitamin A. Sayuran berdaun hijau gelap, kacang-kacangan, serta buah-buahan segar harus selalu ada dalam piring makan harian Si Kecil. Kombinasi makanan yang beragam tidak hanya mencegah stunting, tetapi juga mengenalkan anak pada berbagai macam rasa sejak dini.
Baca juga: Manfaat Zinc untuk Pertumbuhan Balita: Cegah Stunting dan Bikin Cerdas!
Dampak jangka panjang stunting pada anak
Mungkin Anda sering berpikir bahwa tubuh yang pendek bukanlah masalah besar. Namun, stunting membawa dampak yang jauh lebih mendalam daripada sekadar penampilan fisik. Jika tidak dicegah, dampaknya akan terus dirasakan hingga anak beranjak dewasa.
Secara kognitif, anak stunting sering kali mengalami kesulitan dalam belajar, berkonsentrasi, dan memecahkan masalah. Hal ini tentu dapat memengaruhi prestasi akademiknya di sekolah dan membatasi peluang kesuksesannya di masa depan. Lebih jauh lagi, perubahan metabolisme yang terjadi akibat stunting membuat anak lebih berisiko terkena penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung saat mereka dewasa nanti.
Mengetahui contoh anak stunting dan risikonya bukanlah untuk membuat Moms merasa takut atau bersalah, melainkan untuk membekali diri dengan pengetahuan agar Anda bisa memberikan pengasuhan yang terbaik.
Jangan pernah ragu untuk meminta bantuan. Bicarakan setiap kekhawatiran Anda dengan dokter anak, bidan, atau ahli gizi di fasilitas kesehatan terdekat. Setiap langkah kecil yang Anda ambil akan menjadi fondasi yang kuat bagi kesehatan dan kesuksesan Si Kecil di masa depan. (MB/WR/RF/Foto: Freepik)