KID

Moms, Ini 10 Cara Menghadapi Anak yang Keras Kepala


Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond


Moms, pernah nggak sih merasa hal-hal sederhana seperti mandi, makan, atau merapikan mainan selalu jadi ajang adu argumen dengan Si Kecil? Rasanya apapun yang diminta selalu ada saja penolakannya.

Situasi seperti ini memang bisa bikin lelah. Namun, sebelum buru-buru melabeli anak sebagai keras kepala, ada baiknya memahami dulu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan begitu, orang tua bisa memilih pendekatan yang lebih tepat sesuai kebutuhan anak. Moms, berikut cara menghadapi anak yang keras kepala.

Penyebab anak keras kepala

Anak yang keras kepala biasanya memiliki kemauan yang kuat. Mereka suka punya pendapat sendiri, sering mempertanyakan aturan, dan tidak selalu langsung mengikuti arahan dari orang tua. Meski terkadang membuat Moms mengelus dada, sikap ini tidak selalu berarti anak sedang membangkang. Pada usia tertentu, anak memang sedang belajar menjadi lebih mandiri dan ingin ikut menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.

Misalnya, saat Si Kecil menolak memakai baju yang sudah disiapkan. Sekilas terlihat seperti melawan, padahal bisa jadi ia hanya ingin merasa dilibatkan dalam memilih pakaian yang akan ia kenakan. Karena itu, ketika diberi beberapa pilihan anak cenderung lebih mudah diajak untuk kerja sama.

Selain proses perkembangan, karakter bawaan juga berpengaruh. Ada anak yang memang terlahir lebih gigih, tegas, dan tidak mudah mengubah pendapatnya. Cara berkomunikasi di rumah juga dapat memengaruhi bagaimana sikap keras kepala tersebut muncul dalam kesehariannya.

Perbedaan pendekatan untuk anak keras kepala dan anak penurut

Cara mengasuh anak yang penurut dengan anak yang keras kepala tentu tidak bisa disamakan. Jika anak penurut biasanya cukup diberi arahan sederhana, anak yang memiliki kemauan kuat cenderung lebih mudah diajak kerja sama saat merasa didengar dan dilibatkan.

Daripada langsung berkata, “Sekarang tidur!”, Moms bisa memberikan pilihan seperti, “Mau sikat gigi dulu atau pilih buku cerita dulu sebelum tidur?” Cara seperti ini membantu anak merasa memiliki kendali tanpa menghilangkan batasan yang sudah dibuat orang tua. Jadi, Moms tidak hanya selalu fokus membuat anak harus selalu patuh, melainkan memahami dan melibatkan Si Kecil dalam aturan yang berlaku di rumah.

Cara menghadapi anak yang keras kepala

1. Tetap tenang saat anak menolak

Ketika anak membantah atau menolak instruksi, hindari langsung bereaksi dengan emosi. Nada bicara yang tenang membantu mencegah situasi berkembang menjadi pertengkaran. Semakin keras respon orang tua, semakin besar kemungkinan Si Kecil mempertahankan sikapnya.

2. Dengarkan alasan anak

Meskipun alasan anak biasanya terdengar sederhana, mendengarkan dapat membuat mereka merasa dihargai lho, Moms. Anak yang merasa didengar biasanya juga lebih mudah untuk mengikuti arahan dan lebih terbuka untuk mendengarkan kembali.

3. Berikan pilihan terbatas

Memberikan pilihan kepada anak juga menjadi salah satu cara untuk membantu anak memenuhi kebutuhan akan kemandirian tanpa melewati batas yang telah dibuat oleh orang tua.

Strategi ini sering kali efektif pada anak yang memiliki kemauan yang kuat. Sebagai contoh, seorang ibu yang setiap hari kesulitan meminta anaknya mandi, mengubah pendekatannya. Daripada langsung memerintah, ia memberikan pilihan, “Kamu mau mandi setelah permainan selesai atau lima menit lagi?” Meskipun tujuan akhirnya sama, anak lebih merasa dilibatkan dalam mengambil keputusan sehingga lebih mudah untuk bekerja sama.

4. Tetapkan aturan yang konsisten

Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak bingung dan semakin menantang batasan. Konsistensi membantu anak memahami ekspektasi dengan jelas dan mengetahui konsekuensi yang akan didapat dari setiap pilihan yang dibuatnya.

5. Mengalah

Tidak semua situasi harus dimenangkan oleh orang tua. Moms bisa lebih fokus pada tujuan jangka panjang, yaitu membangun kedekatan dan kepercayaan. Ketika orang tua terjebak dalam situasi adu argumen, anak sering kali justru semakin mempertahankan pendapatnya.

6. Gunakan konsekuensi yang logis

Strategi ini cukup efektif untuk menghadapi anak yang keras kepala tanpa paksaan. Misalnya, ketika anak menolak untuk merapikan mainan, konsekuensi logisnya mainan tersebut disimpan sementara hingga mereka siap bertanggung jawab.

Pendekatan ini bisa membantu anak untuk tahu hubungan antara tindakan yang mereka lakukan dengan akibat yang mereka akan dapatkan.

7. Berikan contoh mengendalikan emosi

Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika orang tua mampu mengelola emosi dengan baik saat menghadapi konflik, anak juga belajar bahwa perbedaan pendapat tidak harus diselesaikan dengan kemarahan.

8. Berikan apresiasi

Fokus pada perilaku positif yang telah dilakukan Si Kecil. Pengakuan sederhana seperti “Terima kasih sudah mau membereskan mainannya,” dapat memvalidasi dan memotivasi anak untuk bekerja sama di kemudian hari.

9. Bangun rutinitas yang baik

Rutinitas membantu mengurangi konflik antara anak dengan orang tua. Karena dengan strategi ini anak akan mengetahui apa yang diharapkan dalam situasi tertentu. Jadwal yang konsisten juga membuat transisi antara aktivitas terasa lebih mudah bagi anak.

10. Prioritaskan hal yang penting

Tidak semua hal harus menjadi sumber konflik. Prioritaskan aturan yang berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, dan nilai-nilai utama dalam keluarga. Dengan begitu, orang tua tidak perlu menghabiskan energi untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Panduan komunikasi yang tepat dengan anak yang keras kepala

1. Gunakan kalimat positif

Moms, tidak selalu kalimat yang dilontarkan berkonotasi negatif. Daripada mengatakan, “jangan lari-lari di rumah,” coba menjadi, “Ayo jalan pelan di dalam rumah ya.” Kalimat positif lebih mudah dipahami anak karena memberi arahan yang jelas tentang perilaku yang diharapkan.

2. Validasi perasaan anak

Mengakui perasaan anak tidak berarti menyetujui perilakunya. Misalnya, “Mamah tahu kamu kecewa karena waktu bermain sudah selesai.” Ketika anak marah karena harus pulang dari taman atau berhenti bermain, orang tua mungkin tergoda untuk berkata, “Sudah, jangan menangis.” Namun pendekatan ini lebih mengedepankan validasi emosi anak terlebih dahulu. Setelah anak merasa dipahami, mereka jadi lebih mudah untuk menerima batasan dan penjelasan yang diberikan.

3. Jaga kontak mata dengan anak

Menjaga kontak mata dengan anak juga ternyata cukup efektif dalam menghadapi anak yang keras kepala. Berbicara dari jarak dekat dan sejajar dengan tinggi badan anak membantu mereka merasa lebih terhubung dan dimengerti. Jarak yang sejajar dengan anak membuatnya tidak merasa terintimidasi dan

4. Berikan instruksi yang jelas

Moms, terlalu banyak penjelasan sering membuat anak kehilangan fokus. Gunakan kalimat sederhana yang mudah dipahami dan hindari memberikan beberapa instruksi sekaligus dalam satu waktu.

5. Hindari label negatif

Menyebut anak sebagai “keras kepala”, “bandel”, atau “susah diatur” secara berulang dapat memengaruhi cara mereka memandang dirinya sendiri. Sebaliknya, fokuslah pada perilaku yang ingin diperbaiki, bukan memberi label pada kepribadian anak.

Fakta psikologis anak keras kepala

Anak keras kepala biasanya memang memiliki kemauan yang tidak mudah goyah. Saat mereka menginginkan sesuatu, mereka akan berusaha mencapainya dan tidak gampang menyerah ketika menghadapi suatu masalah.

Anak dengan karakter seperti ini juga cenderung nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka tidak selalu mengikuti apa yang dilakukan teman-temannya dan berani mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, meski berbeda dengan orang lain.

Tapi tetap perlu diarahkan Moms, anak harus tahu bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan keinginannya dan bahwa mendengarkan orang lain bukan berarti kalah. Itulah cara menghadapi anak keras kepala yang perlu Moms ketahui. (MB/RA/RF/Foto: Freepik)