Follow Mother & Beyond untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow Instagram dan YouTube Mother & Beyond
Tidak semua kehamilan berjalan seperti yang diimpikan. Kehamilan ektopik terganggu adalah salah satu komplikasi kehamilan yang jarang dibicarakan, tetapi dampaknya bisa sangat serius, bahkan fatal jika tidak ditangani tepat waktu.
Bagi banyak perempuan, gejala awal kehamilan ektopik sering kali terasa mirip dengan kehamilan biasa atau bahkan gangguan pencernaan biasa. Inilah yang membuat kondisi ini begitu berbahaya: gejalanya mudah terlewat, sementara waktunya sangat sempit untuk bertindak.
Kehamilan ektopik terganggu (KET) sendiri adalah kondisi darurat medis yang terjadi ketika kehamilan ektopik mengalami ruptur atau pendarahan serius. Kondisi ini mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan segera dari tenaga medis. Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan berikut ini, Moms!
Apa itu kehamilan ektopik terganggu dan apa bedanya dengan kehamilan ektopik?
Untuk memahami perbedaan kehamilan ektopik dan KET, kita perlu mulai dari dasarnya.
Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel dan berkembang di luar rahim—paling sering di tuba falopi (saluran telur). Selain tuba falopi, kehamilan ektopik juga bisa terjadi di ovarium, leher rahim, atau bahkan di rongga perut, meski kasus-kasus tersebut jauh lebih jarang.
Baca juga: 8 Penyebab Hamil di Luar Kandungan yang Perlu Anda Waspadai
Masalahnya, embrio tidak bisa berkembang dengan normal di luar rahim. Seiring waktu, jaringan di sekitarnya, misalnya dinding tuba falopi, tidak mampu menampung pertumbuhan itu.
Di sinilah kehamilan ektopik terganggu (KET) terjadi. KET adalah kondisi ketika kehamilan ektopik menyebabkan kerusakan atau ruptur (pecah) pada organ tempat ia berkembang. Ruptur ini menyebabkan pendarahan internal yang bisa sangat hebat dan membahayakan nyawa dalam hitungan jam.
Singkatnya: semua KET adalah kehamilan ektopik, tapi tidak semua kehamilan ektopik langsung menjadi KET. Kehamilan ektopik yang terdeteksi lebih awal—sebelum terjadi ruptur—masih memiliki lebih banyak pilihan penanganan dan risiko yang lebih rendah.
Menurut data dari berbagai studi internasional, kehamilan ektopik terjadi pada sekitar 1–2% dari seluruh kehamilan. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya bisa sangat besar bagi perempuan yang mengalaminya.
Baca juga: Apakah Hamil di Luar Kandungan Bisa Dideteksi oleh Test Pack? Ini Jawabannya
Gejala KET yang memerlukan pertolongan darurat
Mengenali gejala KET bisa menyelamatkan nyawa. Sayangnya, gejala awalnya sering kali tidak spesifik dan mudah disalahartikan.
Gejala awal kehamilan ektopik (sebelum terganggu)
Pada tahap awal, gejala kehamilan ektopik bisa meliputi:
- Nyeri perut bagian bawah atau panggul, biasanya hanya di satu sisi
- Pendarahan vagina yang ringan (bercak), yang sering dikira menstruasi atau flek awal kehamilan
- Mual dan nyeri bahu (terutama saat berbaring, akibat darah yang mengiritasi diafragma)
- Rasa tidak nyaman saat buang air besar atau kecil.
Gejala darurat saat kehamilan ektopik sudah terganggu
Ketika terjadi ruptur, gejalanya berubah drastis. Ini adalah kondisi darurat yang tidak boleh ditunggu, yaitu:
- Nyeri perut yang tiba-tiba, sangat hebat, dan tidak tertahankan
- Pusing atau pingsan, yang bisa menjadi tanda pendarahan internal masif
- Kulit pucat, berkeringat dingin, dan denyut nadi cepat—tanda-tanda syok
- Nyeri bahu yang menjalar ke leher
- Tekanan darah turun drastis.
Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala-gejala ini—terutama jika sedang atau mungkin hamil—segera ke instalasi gawat darurat terdekat. Jangan menunggu hingga pagi, jangan coba tidur dulu. Setiap menit sangat berarti.
Faktor risiko dan mengapa KET bisa terjadi tanpa faktor risiko yang jelas
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko
1. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya. Ini adalah faktor risiko terbesar. Perempuan yang pernah mengalami kehamilan ektopik memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya kembali.
2. Riwayat infeksi atau peradangan pada tuba falopi. Infeksi menular seksual seperti klamidia dan gonore—jika tidak ditangani—dapat menyebabkan penyakit radang panggul (PID), yang bisa meninggalkan jaringan parut di tuba falopi dan mengganggu perjalanan sel telur yang telah dibuahi.
3. Riwayat operasi panggul atau tuba falopi. Operasi sebelumnya di area panggul, termasuk operasi pengangkatan kehamilan ektopik terdahulu atau sterilisasi tuba (tubektomi), dapat meningkatkan risiko.
4. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD). Meski IUD sangat efektif mencegah kehamilan dalam rahim, jika kehamilan tetap terjadi, ada kemungkinan lebih besar kehamilan tersebut bersifat ektopik.
5. Teknologi reproduksi berbantu (seperti bayi tabung/IVF). Prosedur fertilisasi in vitro sedikit meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
6. Merokok. Merokok memengaruhi pergerakan silia di tuba falopi, yang bertugas mendorong sel telur yang dibuahi menuju rahim.
Mengapa banyak kasus terjadi tanpa faktor risiko yang jelas?
Sekitar 30–50% perempuan yang mengalami kehamilan ektopik tidak memiliki faktor risiko yang dapat diidentifikasi sebelumnya. Ini berarti tidak ada cara untuk sepenuhnya mencegah kondisi ini hanya dengan menghindari faktor risiko. Karena itu, mengenali gejala sejak dini jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan status risiko.
Cara dokter mendiagnosis kehamilan ektopik terganggu
Dokter biasanya menggunakan kombinasi beberapa metode berikut untuk mendiagnosis KET.
1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Dokter akan menanyakan tentang riwayat menstruasi terakhir, gejala yang dirasakan, riwayat kehamilan sebelumnya, dan faktor risiko lainnya. Pemeriksaan perut juga dilakukan untuk menilai tingkat nyeri dan ketegangan otot perut.
2. Tes kehamilan (hCG)
Kadar hormon hCG (human chorionic gonadotropin) dalam darah diukur. Pada kehamilan ektopik, kadar hCG biasanya lebih rendah dari yang diharapkan dan tidak meningkat secara normal setiap 48 jam seperti pada kehamilan intrauterin yang sehat.
3. Ultrasonografi (USG) transvaginal
USG transvaginal adalah alat diagnostik utama. Dokter akan mencari keberadaan kantong kehamilan di dalam rahim. Jika tidak ditemukan di rahim tetapi hCG positif, kecurigaan ke arah kehamilan ektopik semakin kuat. Kadang, massa di area tuba falopi juga bisa terlihat langsung.
4. Culdosentesis (jarang dilakukan)
Pada situasi darurat tanpa akses USG, dokter bisa melakukan prosedur ini untuk mendeteksi adanya darah bebas di rongga panggul—tanda kemungkinan ruptur.
5. Laparoskopi diagnostik
Jika diagnosis masih belum pasti dan kondisi pasien memungkinkan, laparoskopi (prosedur bedah minimal invasif menggunakan kamera kecil) dapat dilakukan sekaligus sebagai tindakan operatif jika kehamilan ektopik terkonfirmasi.
Penanganan KET dan peluang hamil pada masa mendatang
Penanganan KET bergantung pada kondisi klinis pasien—seberapa stabil kondisinya, seberapa besar pendarahan yang terjadi, dan di mana lokasi kehamilan tersebut berada.
Pilihan penanganan KET
1. Operasi (tindakan utama pada KET)
Pada kondisi KET dengan ruptur dan pendarahan aktif, operasi adalah satu-satunya pilihan. Ada dua jenis pendekatan bedah:
- Laparoskopi: Operasi minimal invasif dengan sayatan kecil. Ini adalah pendekatan yang lebih disukai jika kondisi pasien stabil, karena pemulihan lebih cepat dan risiko komplikasi lebih rendah.
- Laparotomi: Operasi terbuka dengan sayatan lebih besar, dilakukan jika kondisi pasien kritis atau laparoskopi tidak memungkinkan.
Selama operasi, dokter akan mengangkat atau memperbaiki bagian yang rusak—dalam banyak kasus, ini berarti mengangkat tuba falopi yang terdampak (salpingektomi) atau hanya bagian yang berisi kehamilan ektopik (salpingotomi).
2. Obat metotreksat (untuk kehamilan ektopik sebelum terganggu)
Jika kehamilan ektopik terdeteksi sebelum terjadi ruptur dan kondisi pasien stabil, dokter mungkin merekomendasikan injeksi metotreksat—obat yang menghentikan pertumbuhan sel kehamilan. Opsi ini tidak berlaku untuk KET yang sudah mengalami ruptur.
Peluang hamil setelah KET
Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering dan paling penting. Kabar baiknya: banyak perempuan yang pernah mengalami KET tetap bisa hamil secara alami di kemudian hari.
Peluang kehamilan selanjutnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Kondisi tuba falopi yang tersisa (apakah masih satu atau keduanya terdampak)
- Penyebab yang mendasari kehamilan ektopik sebelumnya
- Usia dan kondisi kesuburan secara keseluruhan.
Jika kedua tuba falopi sudah tidak berfungsi, teknologi reproduksi berbantu seperti IVF masih bisa menjadi pilihan untuk memiliki anak. Diskusikan dengan dokter spesialis kandungan atau konsultan fertilitas tentang langkah selanjutnya yang paling sesuai untuk kondisi Anda.
Kehamilan ektopik terganggu adalah kondisi yang serius. Namun, mengenali gejala sejak dini, memahami faktor risikonya, dan tidak ragu mencari pertolongan medis bisa membuat perbedaan yang sangat besar, Moms. (MB/SW/RF/Foto: Freepik)